TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Fitnah


Prang!


Aluna melepas serpihan botol dari tangannya ke lantai.


Ya, ia tak jadi merusak wajah Helen, apalagi berniat menghabisi nyawanya. Aluna masih memiliki hati nurani yang mendominasi sifat alaminya. Terlebih saat melihat Helen menangis, perasaan tidak tega menyeruak di hatinya. Tangannya sudah gemetar duluan tidak akan pernah tega merusak wajah gadis yang sangat mirip dengan adiknya itu.


Tentu saja, sekasar apa pun Aluna, wanita itu belum pernah sekali pun membu*nuh. Aluna menutup matanya sebentar sembari menghela napasnya perlahan, mencoba menstabilkan emosinya. Aluna ingat betul perkataan sistem kalau misi ini bersumber dari adiknya sendiri, ia tidak mau kalau adiknya di dunia nyata terkena dampaknya kalau ia sampai tega membu*nuhnya.


Aku tidak akan merusak wajahmu apalagi sampai membu*nuhmu. Tetapi, kalau hanya memberi beberapa pukulan, sepertinya tak apa. Batin Aluna.


Sayangnya di saat bersamaan, sebelum Aluna melakukannya, dua pelayan yang mendengar kegaduhan dari dalam kamar yang dipesan Helen, langsung mendatangi dan memasuki ruangan. Mereka takut terjadi masalah dan memastikan tidak ada keributan.


Kriet.


Pintu dibuka dari luar oleh dua orang pelayan. Melihat itu, Aluna menoleh dan tercengang. Tangan kanannya yang masih mencengkeram tubuh Helen, dilepaskannya detik itu pula.


"Permisi, Nona. Maaf kami sudah lancang memasuki kamar karena mendengar kegaduhan dari luar. Kami hanya ingin memastikan keamanan di bar ini." Dua orang pelayan berdiri di ambang pintu, mereka berkata sembari matanya melihat ke sekeliling pecahan beling yang sudah berserakan.


Karena tidak ada sahutan dari Aluna dan Helen, mereka akhirnya berniat pergi, karena menurut mereka semuanya masih dirasa aman terkendali. Dua orang pelayan memutuskan untuk kembali keluar.


"Maaf sudah menggangu. Sebaiknya kami membersihkannya lain waktu saja," ucap pelayan satunya lagi, menarik tubuh temannya agar keluar. Pelayan itu takut dengan tatapan mata tajam milik Aluna.


Kini, pintu sudah ditutup rapat dan ruangan kembali sepi. Melihat Aluna yang berdiri diam, Helen meringis. Tiba-tiba saja muncul ide gila di otaknya. Tanpa menunggu waktu lama lagi, begitu melihat Aluna yang masih lengah, wanita itu kemudian mendorongnya dengan keras. "Minggir!" ketus Helen.


Tentu saja Aluna kaget, baru saja pelayan menutup pintu, Helen sudah mendorongnya dengan kasar. Lewat hanya beberapa detik, Helen dengan cepat meraih pecahan botol yang ada di sebelahnya.


Srettttt!


Ternyata, ide gila Helen adalah melukai tangan kirinya sendiri dengan pecahan beling di tangan kanannya. Entah pikiran licik apa lagi yang sudah di otaknya. Melihat itu, Aluna membulatkan matanya dengan sempurna, ia sangat kaget begitu mendapati kelakuan konyol Helen.


Kenapa dia melukai tangannya sendiri? Batin Aluna tercengang.


"Apa yang sudah kamu lakukan wanita gila?" ketus Aluna.


Meskipun terasa sakit di tangannya, wanita itu masih bisa tersenyum licik. Bukan luka kecil, bahkan Helen sengaja melukai lengannya cukup parah, terlihat dari tetesan darah yang sudah mengalir deras memenuhi tangannya.


"Tolooooong ... toloongg!!" teriak Helen keras.


Tiba-tiba saja Helen berteriak sangat keras. Tentu saja Aluna kaget, dia baru menyadari kalau wanita di depannya itu sedang menjebaknya dengan cara yang licik, ia sudah kecolongan.


"Kepa*rat!" pekik Aluna.


"Tolooong!" Helen kembali berteriak, kali ini semakin keras.


Mendengar teriakan Helen yang sangat keras, seluruh penghuni bar termasuk Lily dan Yuze saling berhamburan dan berlari memasuki ruangan itu.


Brak!


Pintu dibuka dengan keras.


"Apa yang sedang terjadi?" ucap Lily keras. Wanita itu sudah berdiri di pintu bersebelahan dengan Yuze dan beberapa orang di belakangnya.


"Helen!" Tambah Yuze kaget, mereka berdua melihat dengan jelas Helen yang sedang memegangi tangannya yang berdarah.


Wanita licik! ucap Aluna geram dalam hati.


Lily dan Yuze berlari mendekati mereka berdua, sementara para pelayan dan beberapa orang masih melihat dari pintu. Kini keadaan semakin kacau, Lily dan Yuze melihat Aluna dan Helen bergantian. Satu orang dengan kepala terluka dan berdarah sementara satunya lagi dengan tangan yang terluka parah.


Adegan berantakan! Rencana yang sudah dibuat oleh Helen untuk melecehkan Aluna, semua gagal. Namun, Helen tampak puas karena dia berhasil memfitnah Aluna.


"Apa yang sedang terjadi? Kenapa dengan kalian berdua?" Yuze tampak bingung.


"Dia! Ya, lihat tanganku! Luna yang melakukannya! Wanita itu sudah gila rupanya!" Tuduh Helen, tangannya menunjuk Aluna.


"Apa? Jadi kamu memfitnahku! Apa kalian tidak melihat kepalaku yang berdarah? Dia sendiri yang gila karena melukai kepalaku dan tangannya sendiri!" Aluna meninggikan nada bicaranya, tentu saja hanya dia yang berkata jujur di sini.


Lily dan Yuze bergantian melirik, ada beberapa pertanyaan yang memenuhi otak mereka.


Apa yang sudah kamu rencanakan Helen? tanya Yuze dalam hati.


Lily bepura-pura simpati terhadap Aluna. "Kakak ipar kepalamu berdarah. Katakan padaku apa masalah sebenarnya?" katanya mendekati Aluna.


Namun, Aluna menangkis tangan Lily yang hendak menyentuh kepalanya. Pikirnya, mereka berdua pasti akan mempercayai Helen. "Jangan menyentuhku!" ketus Aluna.


Merasakan darah yang terus keluar, Aluna merasa perih. Diambilnya sapu tangan yang ia simpan di saku belakang celananya. Tak sengaja Aluna menjatuhkan pisau cukur yang tersimpan bersama sapu tangan di sakunya.


Prang!


Sebuah benda tajam jatuh ke lantai bersamaan dengan tangan Aluna yang sedang mengambil sapu tangannya. Rupanya, benda tajam itu adalah pisau cukur yang sudah dipersiapkan Aluna sebagai benda pertahanan dirinya.


Semua tercengang, termasuk Lily dan Yuze. Barang bukti fitnah Helen kali ini bertambah, sangat mendukung kalau Luna lah yang melukai tangan Helen. Mereka semakin yakin mendukung rencana Helen, yang sebenarnya mereka sudah tahu kalau ini adalah rencana yang dibuat Helen untuk menjebak Luna.


"Lihatlah! Bahkan dia sudah membawa senjata tajam ke sini. Berarti Luna sudah memiliki niat yang buruk terhadap kalian berdua!" Helen tersenyum puas memojokkan Aluna.


Aluna mengepalkan tangannya, dahinya berkerut dengan mata yang melotot sempurna. Aluna tidak sadar kalau Helen benar-benar memanfaatkan situasi.


"Kakak, sebenarnya kenapa kamu membawa pisau cukur kemari?" Lily kembali basa-basi. Terlihat dari wajahnya ia sangat puas dengan hasil kerja Helen.


Tentu saja untuk melawan kalian, goblok! Batin Aluna.


Yuze yang berdiri di dekat Lily mendekati Aluna yang tak menjawab pertanyaan Lily, mereka bertiga berdiri mencecar Aluna.


"Aku tidak menyangka, pikiran kakak ipar sejahat itu! Jadi benar kami semakin yakin, kalau yang melukai Helen dengan pecahan botol itu adalah Anda!" Nada bicara Yuze begitu ketus seakan mengejek Aluna.


Ruangan mendadak hening dengan tatapan mata tajam Yuze, Lily dan Helen yang mengarah tepat di wajah Aluna.


Tiba-tiba,


Di saat yang sama terdengar suara tegas lelaki dari arah pintu.


"Apa yang sedang kalian bicarakan!"


Ya, pemilik suara itu adalah Alvin.