TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Mengatasi Kekacauan


Sidak besar-besaran sudah terdengar tersebar ke seluruh pegawai. Walupun mereka tak melakukan kesalahan, akan tetapi banyak diantaranya yang merasa ketakutan sekaligus khawatir.


Satu persatu pegawai memasuki departemen keuangan. Mereka melihat Helen dan pegawai Fang duduk di depan ruangan dengan masing-masing menunjukkan muka yang masam.


"Jadi gara-gara kamu, kami sampai diperiksa. Aku tak menyangka kalau kamu seorang koruptor dan penipu ulung." Seorang pegawai administrasi keuangan perusahaan mencemooh Helen.


Tidak hanya dia, pegawai keuangan lainnya pun ikut menimpali. "Sudah aku duga perempuan ini hanya tampilan luarnya saja yang halus. Tidak dengan hatinya yang busuk dan licik. Lihat saja, kalau kamu sampai namaku terbawa-bawa kasusmu. Aku bakalan tuntut kamu Helen!"


Pegawai Fang yang duduk di sebelah pun ikut kesal. "Kalau bukan adik dari istri Presdir sudah aku bawa kamu ke polisi."


Sementara Aluna berjalan menuju ruangan Alvin. Dia membawa dua berkas yang sudah dia print dan akan diserahkan kepada Alvin.


"Ternyata Yuze ikut terlibat penggelapan dana perusahaan," kata Aluna seraya menyodorkan buktinya kepada Alvin begitu dia memasuki ruangan.


Baru menerima kertas tersebut, kening Alvin dibuat mengkerut. Setelah memakai kacamatanya lagi, Alvin mulai membaca saksama isi kertas itu.


"Yuze sengaja menjadikan Helen alat untuk meraup uang perusahaan secara sembunyi-sembunyi. Dia memakai rekening Helen yang sudah tidak terpakai untuk mengambil uang perusahaan. Yuze beranggapan, beberapa klien akan percaya dan mentransfer dana tersebut ke rekening Helen karena saat itu Helen masih menjabat sebagai sekretaris. Sementara kesalahan Helen yang sudah aku teliti di sini adalah, dia sudah mengganti email perusahaan. Yuze juga berhasil meretas data perusahaan secara sembunyi. Ada satu akun yang berhasil diretas olehnya." Aluna terlihat serius berbicara dengan Alvin.


Baru kali ini data perusahaan Alvin kecolongan. Ya, akhir-akhir ini dia merasa terlalu memikirkan masalah Luna sampai-sampai dia tidak tahu kalau Yuze sengaja mengalihkan perhatian ini untuk mencuri data perusahaan. Yuze sengaja memanfaatkan orang dalam seperti Helen.


Jadi kedua sepupuku sengaja mengalihkan perhatian dengan menyebarkan rumor perselingkuhan Luna agar bisa leluasa mengambil uang perusahaan. Rupanya, dia sengaja mencari kelemahanku, batin Alvin.


Telapak tangan Alvin mengepal kuat. Alvin kini mulai sibuk dengan komputer, mulai mengganti satu persatu kode keamanan perusahaan di beberapa akun.


"Jadi Yuze ingin bermain-main denganku!"


"Bagaimana tindakanmu selanjutnya? Bagaimana kalau kita beritahu langsung kepada Nenek agar segera menindaknya?" kata Aluna mencoba memberikan saran.


Akan tetapi Alvin menggeleng. Dia ingin menyelesaikan kekacauan ini dengan caranya sendiri. Alvin berencana meretas balik data milik Yuze.


"Aku dan Yuze dari kecil terbiasa bersaing. Masalah ini akibat dari kecerobohanku, dan aku harus menyelesaikannya sendiri."


"Apa cara yang ingin kamu lakukan?" tanya Aluna penasaran.


"Aku akan memperkerjakan Helen kembali. Dia akan aku jadikan umpan untuk mencari kesalahan Yuze. Setelah bukti aku dapatkan, barulah aku membawa mereka ke pengadilan," kata Alvin sangat yakin.


Mendengarnya, Aluna tak mau berkomentar lagi. Dalam hati kecilnya dia sebenarnya menolak Helen kembali bekerja, sekali pun hanya sebagai alat memancing kesalahan Yuze. Akan tetapi, begitu mengingat adiknya Ara. Aluna menyetujui ucapan Alvin.


"Baiklah, aku setuju. Lagi pula sebentar lagi adikku akan transmigrasi lagi ke tubuhnya," kata Aluna.


Beberapa jam setelahnya, waktu menunjukkan pukul empat sore. Semestinya semua pegawai sudah pulang. Namun, Alvin mencegahnya. Tidak lama Alvin mendapatkan tiga pegawai pelaku yang bekerja sama dengan Lily dan Yuze. Dia membawa ketiga orang itu ke ruang pribadi miliknya.


"Kami tak menyerahkan data apa pun, Presdir. Kamu hanya memberikan data beberapa nama investor dan email mereka. Kami pikir, Tuan Yuze masih berkerabat dengan Anda. Tidak akan menyalahgunakan data tersebut," kata salah satu pegawai dengan raut ketakutan.


Alvin mendengus kesal. "Bodoh! Bahkan aku melarang data itu kalian beritahu kepada ayahku sendiri. Apalagi kepada Arga Yuze."


"Tetapi, Tuan Anming juga mengetahuinya. Tuan Anming yang menyetujui kami memberitahukan kepada Nona Lily beberapa bulan yang lalu," balas pegawai itu membela diri.


"Lalu kalian juga memberitahukan salah satu pasword akun perusahaan?"


"Maafkan kami, Presdir. Saat itu Tuan muda Yuze bilang sudah meminta izin kepada Tuan Anming."


"Kalian aku pecat. Segera urus gaji terakhir dan kemasi barang-barang kalian yang ada di kantor jangan sampai tertinggal." Ucapan Alvin bak petir yang menyambar tiga pegawai tersebut. Meskipun sampai memohon dan hampir bersujud, Alvin tak peduli dan mengusir ketiganya agar cepat keluar. Bagi Alvin, tidak ada kata maaf untuk seorang penghianat.


Salah satu akun perusahan berhasil diretas Yuze, akun itu sangat penting karena terhubung langsung dengan klien yang sudah bekerja sama dengan Alvin lama. Berbagai investor bahkan sudah memberitahukan data deviden lewat akun tersebut. Anming juga terlalu ceroboh, beberapa bulan yang lalu akibat masalah Luna, Alvin banyak mengambil cuti memberikan kebebasan ayahnya memimpin perusahaan.


Anming tidak seperti Alvin. Keahlian Alvin diturunkan langsung oleh kakeknya Tuan Tama. Kakeknya sengaja tidak menjadikan Anming sebagai presiden direktur mengingat lelaki itu pernah membuat perusahaan hampir bangkrut. Tuan Tama juga tidak percaya dengan Yuze salah satu cucu lelakinya selain Alvin, dia pula yang menjodohkan Luna dengan Alvin.


Sementara di tempat lain. Perempuan bernama Helen merasa senang karena Alvin tak jadi memecatnya. Saat dia bersiap-siap pulang dan akan menyetop sebuah taksi, seseorang turun dari mobil hitam yang sangat mewah. Ya, dia adalah Lisa.


Kali ini Lisa terlihat ramah menyapa Helen. "Selamat sore, Nona Helen," katanya sambil tersenyum.


Melihat kedatangan Lisa, Helen menghentikan langkah dan mulai memperhatikan perempuan itu saksama.


Bukankah dia adalah putri dari keluarga Glu. Kenapa dia datang ke mari dan menyapaku? Batin Helen.


Lisa mendekati Helen. "Rambutmu sangat indah. Maaf ya kemarin aku sudah kasar denganmu. Ternyata aku telah salah orang. Ternyata kamu bukanlah pacar paman saat ini."


Helen mendelik tidak suka. "Apa maksudmu?"


"Tidak ada maksud apa pun. Aku hanya ingin meminta maaf," kata Lisa sambil tersenyum, "Nona Helen, apa kamu mengenal Arabella?"


"Arabella?" Helen menegaskan kata-katanya.


"Ya, Arabella atau Ara adalah pacar paman Noah saat ini. Apa kamu mengenal dan tahu tempat tinggalnya? Aku ingin bersilahturahmi dengannya," kata Lisa lagi.


Nama yang disebutkan Lisa terdengar tidak asing di telinga Helen. Ya, berkali-kali dia mendengar Aluna mengatakan nama itu padanya.


"Aku tidak mengenal sama sekali nama itu. Namun, sepertinya aku tidak asing dengan nama tersebut. Apa dia adalah teman Luna?" Helen balik bertanya.