TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 266. Kekesalan Lily dan Yuze


Yuze dan Lily merasa tertipu dengan keluguan Zero. Wajah keduanya terlihat masam kali ini. Tak sesuai dugaannya, ternyata Zero sangat hebat memainkan piano, bahkan musik yang sulit dimainkan pun, dia sangat mahir. Yuze menduga kalau Aluna diam-diam telah melatihnya.


"Sudah cukup buktinya. Sesuai kesepakatan, maka Zero tak ku izinkan bertemu dengan Nenek dan ibu selama seminggu ini."


Nenek Alma dan Clara merasa bersalah. Jadi, mereka diam saja saat Alvin hendak membawa Zero ke kamarnya. Biasanya sepulang sekolah, mereka tak sekalipun tak menemui Zero. Karena sudah kalah taruhan, mereka terpaksa harus mau menahan bertemu Zero selama seminggu.


"Maafkan nenek, Zero."


"Tidak papa, Nenek dan Oma. Zero mengerti. Tenang saja, setelah seminggu nanti, Zero akan menemui Nenek dan Oma lagi," kata Zero sangat tenang. Bocah lelaki itu tak memiliki dendam sama sekali kepada mereka.


"Terim kasih, Zero," jawab Clara. Dia langsung menciumi Zero sebelum kembali ke kamarnya.


"Tidak diragukan lagi kalau kamu mewarisi darah wiratama. Kakek buyutmu dulu selain sebagai pengusaha, dia juga seorang komposer terkenal. Kamu sangat hebat, Zero. Nenek sudah putuskan, kamu adalah penerus selanjutnya."


Tiga puluh menit berlalu semua sudah berada di ruangan masing-masing. Yuze terlihat mengepalkan tangan dan meninjukannya ke dinding sangat keras, hingga membuat tangannya berdarah. Nenek sudah putuskan kalau Zero lah yang akan menjadi penerus. Itu berarti musnalah sudah harapan mereka.


"Kita tidak bisa membiarkan anak itu hidup, Lily!" pekik Yuze, "Arght! Kenapa aku bodoh sekali? Kalau tahu anak itu adalah anak Alvin, sudah kubunuh dia dari awal!"


Lily tak bisa berkata-kata. Pikiran dia dan Yuze sama persis. Lily memikirkan rencana yang matang untuk membinasakan Zero, bahkan sebelumnya dia sudah bertukar pikiran dengan Helen terlebih dahulu.


"Tenangkan dirimu, Yuze. Kita lakukan rencana kita besok!" kata Lily menenangkan Yuze.


"Aku pastikan kali ini akan berhasil," ucap Lily lagi dengan sangat yakin.


...***...


Di tempat lain di klub malam, terlihat Noah sedang duduk sambil memegang segelas wine. Dia sedang frustrasi terus mengingat Ara. Padahal seharian ini, Noah sudah menyibukkan diri di laboratorium, tetapi tetap saja pikiran tentang Ara tak bisa dia lupakan.


"Arabella, di manakah dirimu? Aku sangat khawatir. Kenapa kamu pergi tanpa pamit?" kata Noah meracau.


"Ara, jangan tinggalkan aku! Kamu baik-baik saja kan di duniamu? Cepat kembalilah, temani aku di sini. Kamu hanya akan menjadi pesakitan di dunia sana."


Melihat Noah terus meracau, banyak para gadis menertawakannya. Jelas mereka merasa lucu karena Noah membicarakan tentang dunia lain dan Ara. Mereka pikir wanita yang Noah maksud adalah hantu. Hal yang mustahil menurut mereka.


"Sepetinya dia sudah gila, ha ... ha!"


"Mungkin wanitanya adalah selatan hantu. Sayang sekali padahal dia masih muda dan tampan."


Para gadis membicarakan Noah sambil terus tertawa. Tadinya salah satu dari mereka ingin mendekati Noah. Namun, karena bicara Noah yang terlampau ngawur, satu pun enggan mendekatinya karena takut.


"Kalian apa mengenal Arabella? Kalau iya beritahukan kalau aku sedang merindukannya malam ini. Cepat suruh dia bertransmigrasi lagi sekarang," kata Noah sambil berteriak. Wajah dan matanya sudah memerah karena mabuk berat.


"Ha ... ha, benar dia sudah gila!"


"Jangan tertawa! Cepat panggilkan Ara ke sini!" Noah membentak meja, kemudian membanting satu botol bekas alkohol yang dia minum ke lantai. Pecahannya berserakan di lantai, membuat para gadis tadi menjauh takut diamuk.


"Sebaiknya kita tak usah dekati pria gila itu."


Noah masih terus meracau. Di pikirannya hanya ada Ara, dan Ara. Noah terus meminum alkohol lagi dan lagi, sampai bayangan tentang Ara menghilang di otaknya malam ini.


"Ara?!"


Beberapa menit setelahnya, seorang wanita berdiri. Warna rambutnya kuning keemasan, memakai dress sangat ketat di atas lutut dengan dandanan yang sangat sensual. Kemudian wanita itu menghampiri Noah dan berbisik di telinganya. "Aku sudah datang, Sayangku."


Noah tersenyum. Langsung meraih pinggangnya, menangkap tubuh wanita tersebut ke pangkuannya. "Ke mana saja dirimu, Sayang. Aku sangat merindukanmu," kata Noah, berbicara sambil mencium tengkuk wanita tersebut.


"Aku juga merindukanmu, Sayang."