
Helen masih menunggu sekretaris Fang kembali dari ruang konferensi. Dia duduk sendirian di ruang tunggu sembari mengecek beberapa pesan yang masuk di akunnya. Ya, kenyataan yang sebenarnya adalah diam-diam Helen telah menggunakan komputer Sekretaris Fang untuk merubah jadwal dan mengirim ulang email kepada penerjemah.
"Sekretaris bodoh!" gumam Helen.
Dari dahulu sekretaris Fang memang sangat perhatian kepada Helen. Apalagi begitu tahu Helen keluar dari perusahaan, lelaki itu begitu sangat khawatir dan begitu simpati. Sayangnya Helen tak menganggapnya, dia hanya mengambil kebaikannya saja.
Tanpa sadar, Helen mendengar langsung pembicaraan beberapa atasan yang keluar dari ruang konferensi. Mereka memuji Aluna, memberitahukan kalau Tuan Dae Jung mau bekerja sama lantaran menyukai sikap Aluna yang sopan ketika menjadi penerjemah. Mendengar itu darahnya langsung berdesir hebat.
"Kurang ajar! Jadi dia benar-benar telah mengambil posisiku!"
Di saat Helen larut dalam pikirannya, wanita itu tak sengaja melihat Aluna berjalan keluar dari kamar kecil. Ekspresi Helen yang dari tadi sedang tidak baik, semakin dibuat geram ketika melihatnya langsung.
Awas kamu Aluna! Aku akan memikirkan cara untuk membalasmu! Geram Helen.
Helen berjalan mendekati Aluna. "Halo, Luna. Kita bertemu lagi di sini," sapa Helen dengan angkuhnya.
Aluna yang berjalan tidak melihat ke depan, langsung terkesiap begitu mendongakkan wajahnya. Dia baru sadar kalau ada Helen di depannya.
"Wanita Jala*ng beraninya kamu datang ke mari! Bukankah sesuai perjanjian, kalau kamu dilarang datang ke rumah dan perusahaan sebelum aku mendapatkan bukti selama tiga hari!" seru Aluna dengan alisnya yang hampir menyatu.
Aluna menarik tangan Helen, "Apa kamu tuli, Hah!"
Helen membalas tersenyum licik. "Aku tidak mau! Lagipula aku tidak yakin kamu akan mendapatkan buktinya." Helen menarik tangannya.
Aluna terkekeh. "Wanita murahan! Sudah tidak dianggap masih saja berani datang ke mari!" Aluna mendorong kening Helen dengan telunjuknya. "Aku sudah mendapatkan bukti itu, bodoh!"
^^^"Luna sayang, sedang di mana kamu sekarang? Dari tadi aku tak menemukanmu?" tanya Alvin di telepon. ^^^
"Tunggu sebentar suamiku, aku sedang berada di kamar kecil aku akan segera kembali," ucap Aluna menutup teleponnya.
Sontak, wajah Helen semakin merah padam, hatinya benar-benar semakin membara mendengar mereka berbicara romantis di telepon.
"Kamu dengar sendiri bukan! Kalau suamiku sedang mencariku. Jadi daripada aku mengurusi hama yang tak dianggap sepertimu, lebih baik aku bermesraan dengan Alvin di dalam. Selamat meratapi nasibmu yang sangat menyedihkan!" Aluna mendorong tubuh Helen, membuatnya hampir terjerembab.
"Arghh!"
Helen bertambah marah, wajahnya pun terlihat merah padam. Bahkan kedua tangannya terkepal dengan kuat karena emosi. Helen menatap penuh amarah ke arah Aluna yang berjalan meninggalkannya sendiri.
"LUNA! KEMBALIKAN POSISIKU! Aku tidak akan membiarkanmu bahagia dengan Alvin sampai kapan pun. LUNA ...!!! Teriak Helen dengan sangat kencang.
Tiba-tiba.
Bruk!
Setelah berteriak, tubuh Helen langsung ambruk ke lantai, tak sadarkan diri.
Aluna tak menggubris. Sejenak, dia sempat menoleh ke belakang melihat tubuh Helen yang terkulai di lantai. Namun, Aluna kembali meneruskan lagi langkahnya. Jelas wanita itu tak memperdulikan. Pikirnya, Helen hanya pura-pura pingsan agar mendapatkan perhatian dari Alvin.