TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Ara dan Aluna


Ucapan Aluna tak terdengar oleh Ara. Wanita itu terlalu bersemangat dan menghampiri Ara yang sedang duduk. "Kamu ingin makan mi goreng dan ayam goreng, kan? Ayo, aku akan mentraktirmu makan ke luar sekarang," ajak Aluna.


Mendengar Aluna tiba-tiba mengajak Helen, Mona dan Hideon begitu tercengang. Mereka sangat aneh melihat tingkah laku Aluna yang berubah. Mendadak baik dengan mengajak Helen sarapan di luar.


"Kenapa kamu diam saja? Ayo kita keluar." Aluna memegang lengan Ara yang sedang bengong.


Hubungan mereka berdua tak pernah harmonis dan selalu bermasalah. Kalau Aluna mendadak mengajak Helen, kemungkinan ada udang dibalik batu, pikir Mona dalam hatinya. Wanita itu segera berdiri dan melarang anaknya untuk ikut.


"Tidak! Biarkan Helen sarapan saja di rumah. Kalau dia ingin mi goreng dan ayam goreng, aku sendiri yang akan memasakkan lagi untuknya." Mona mendelik ke arah Aluna dengan tatapan tak suka.


"Kelamaan, mending ke luar saja bersamaku. Kita akan makan di restoran cepat saji yang dekat dengan daerah sini. Kebetulan aku tahu tempatnya. Makanannya juga terjamin lebih enak dan lezat dibandingkan masakan ibumu." Aluna terus menarik tangan Helen agar dia berdiri.


"Lancang sekali kamu berkata seperti itu! Aku tahu mana yang terbaik untuk Helen. Kalau masakanku tidak enak, tidak mungkin ayahmu menyukainya. Sudahlah makan saja di rumah! Lagipula, Masakan di rumah lebih higienis dan sehat dibandingkan di luaran." Mona memegang lengan sebelah kiri menahan Helen agar tetap duduk.


Mendapatkan perlakuan seperti itu, Ara yang melihat mereka memegang ke dua tangannya, hanya bisa terbengong. Dia seperti orang linglung, merasa kebingungan menghadapi dua orang wanita yang tidak dikenal merebutkannya. Dia masih belum sadar kalau wanita yang menarik lengan kanannya adalah Aluna.


"Sarapan di rumah sudah biasa dan kadang membosankan. Lebih baik kamu ikut aku keluar, tenang saja aku yang akan mentraktirmu. Kamu mau apa pun akan aku belikan. Mi goreng, ayam goreng, apa pun akan aku belikan." Aluna terus merayu Ara agar ikut dengannya.


"Tidak-tidak!" seru Mona.


"Tidak bagaimana? Ayo ikut aku!" Aluna tak mau kalah dan terus menarik lengan Helen.


"Suamiku, lihatlah Luna memaksa anakku ke luar padahal dia tidak mau!" Mona mengadu kepada Hideon.


"Tidak, Ayah! Niatku baik, hanya ingin mengajak Helen sarapan di luar, tidak lebih," kata Aluna membela diri, "lagipula kamu mau kan ikut bersamaku?" tanyanya pada Ara.


Ara yang merasa ada di tengah terlihat linglung dan tak bisa memilih, antara Aluna atau Mona yang sedang berselisih menarik tangannya. Melihat kelakuan mereka, Hideon hanya bisa menggelengkan kepala.


"Sudah, sudah, Mona! Biarkan saja Helen sarapan bersama Luna di luar. Mereka berdua adalah saudara, kira harus mendekatkan keduanya agar selalu akur," kata Hideon.


"Ta-tapi ...." Mona merasa enggan menyetujui.


"Jangan berpikiran buruk dulu, tidak ada yang perlu ditakutkan. Mereka sudah dewasa," kata Hideon, "Luna, sebaiknya bersihkan dirimu dahulu sebelum mengajak Helen ke luar," titahnya kepada Aluna.


Aluna tersenyum puas dengan ucapan Hideon. Baru kali ini dia merasa Hideon seperti ayahnya sendiri karena selalu membelanya.


Aluna pun mengangguk. "Baik, Ayah. Beri aku waktu sepuluh menit untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Ingat jangan kemana-mana ya," ucap Aluna kepada Hideon dan Ara.


Ara hanya mengangguk, tanpa mengerti apa maksud Aluna yang bersikukuh ingin makan bersamanya.


Di detik itu juga Aluna pergi dan berjalan cepat menaiki tangga, menuju kamarnya ingin membersihkan diri. Sementara Hideon sudah berangkat ke perusahaannya beberapa menit setelah Aluna pergi.


Saat Aluna dan Hideon sudah tidak ada di meja makan. Mona segera mendekati Ara dan membisikkan kata-kata larangan kepada Ara. Dia pikir otak anaknya sedang tidak berfungsi baik makanya dia hanya diam saja dari tadi.


"Tetapi ...." Ara masih terlihat bimbang. Akal sehatnya sedang tidak bisa berpikir.


Tepat sepuluh menit kemudian, Aluna sudah siap dengan pakaian kasualnya. Dia tampak bersemangat dan mendekati Ara kembali.


"Ayo kita pergi. Aku sudah siap," kata Aluna kembali menarik tangan Ara.


Mona yang ada di sebelahnya, menatap sinis ke arah Aluna. Dia memegang erat tangan Helen.


"Ingat kata mommy, Luna itu tidak baik, jangan ikut dengannya ke luar. Kamu bisa celaka," bisik Mona.


Sialan, dia terus memprovokasi adikku! Bagaimana caranya agar Ara tahu siapa aku? Sementara aku sendiri tak bisa langsung menyebut namanya. Aku tidak mau identitas Ara terbongkar di depan Mona, akan membahayakan baginya nanti. Batin Aluna.


"Ayo, Helen kita ke ruang tengah." Mona memegang tangan Ara.


Kerena tidak tahan dengan kelakuan Mona yang selalu melarangnya. Aluna tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, tiba-tiba dia mendapatkan ide mengeluarkan jurus terakhirnya. Yaitu, merayu Ara dengan menyebutkan nama panggilan kecilnya.


"Bubu ... bubu ... kalau kamu bersedia makan bersamaku di luar. Aku juga akan memesankan es krim strawberry untukmu." Aluna menirukan kebiasaannya ketika di dunia nyata setiap kali merayu adiknya makan.


Ara yang awalnya linglung, langsung kaget dengan kata-kata Aluna. Ya, Bubu adalah nama boneka kesayangannya, dan yang tau nama boneka itu hanya kakaknya sendiri.


Kak Aluna, kaukah itu? gumam Ara mendongakkan wajahnya menatap Aluna dengan mata berkaca-kaca.


"Bubu .... boneka beruangku. Aku juga sangat rindu dengannya." Aluna memasang wajah ceria sama seperti kebiasaannya merayu Ara.


"Apa-apaan kamu, Luna!" Bentak Mona.


"Keputusan ada di tangan Helen. Jadi apa kamu mau makan denganku di luar?" tanya Aluna sekali lagi.


Tak banyak berpikir lagi, Ara langsung melepaskan tangan Mona. Dia langsung berdiri dan mendekat tepat di hadapan Aluna.


Sekarang, mereka berdua berdiri saling berhadapan. Aluna yang kegirangan, tak beralih sedikit pun melihat ke arah adiknya. Namun tidak dengan Ara, dia malah memejamkan matanya sambil berdoa di dalam hati.


Di saat bersamaan, terlihat seseorang yang berdiri sangat jauh dari ruang makan, sedang menjentikkan jarinya satu kali. Entah sihir apa yang dibuat orang itu, waktu dan semua yang bergerak mendadak berhenti seketika, termasuk Mona dan beberapa pelayan yang sedang berdiri mematung.


Tetapi tidak dengan Ara dan Aluna, mereka tidak terpengaruh sedikit pun oleh sihir yang dibuatnya. Ara memberanikan diri membuka matanya perlahan. Pemandangan pertama yang dilihat Ara adalah senyuman manis milik kakaknya dengan wajah bahagia.


"Ka- ka-kak."


"Ara," kata Aluna lembut.


"A-aku sangat me-merindukanmu, Kak!" Saat itu juga Ara langsung memeluk kakaknya. Perasaan rindunya tak bisa diartikan dengan kata-kata. Bahkan karena saking besarnya, tenggorokannya sampai tercekat tak bisa menyebutkan kata-kata dengan mulus. Cintanya kepada kakaknya tak bisa menandingi apa pun. Bagi Ara, Aluna tidak hanya sebagai seorang kakak. Tetapi juga sebagai ibu, ayah, belahan jiwa dan cinta sejatinya.