
Melihat Alvin seorang yang gila kebersihan, mencari benda di tengah gunungan sampah adalah hal yang sangat luar biasa. Kalau bukan karena Luna, tidak mungkin lelaki itu mau melakukannya. Kotor sedikit pada sepatu apalagi bajunya saja langsung dia ganti, apalagi berdiri di tengah sampah seperti sekarang, sudah pasti lelaki itu tidak akan melakukannya kalau tidak cinta dan peduli. Aluna tak henti-hentinya berdecak kagum mengatakannya kepada sistem.
Aluna yang duduk berteduh tidak jauh dari gunungan sampah, tampak tenang memperhatikan suaminya sembari berbicara kepada sistem, "Aku kira Alvin adalah suami yang buruk, nyatanya tidak. Demi Luna dia rela mengabaikan alerginya untuk membantunya. Aku sangat iri kepada Luna, andaikan dia adalah suamiku di dunia nyata," gumam Aluna.
...[Tentu saja, dia berubah karena Anda, Nona Aluna.]...
Aluna terkekeh mendengar ucapan sistem. "Kalau aku memakai identitasku yang asli ... apa mungkin dia akan melakukannya?" Aluna bertanya kepada sistem sambil terus melihat ke arah Alvin yang tengah sibuk di tengah kumbangan sampah.
...[Jadi, apa Anda sekarang sudah jatuh cinta kepada Alvin?]...
Lagi-lagi Aluna hanya tersenyum menanggapi, "Entahlah! Lebih pastinya aku sangat menyukai lelaki yang baik. Mau mengorbankan apa pun demi wanita yang dicintainya, sepertinya ... aku mengaguminya. Aku penasaran, hal apa lagi yang akan Alvin korbankan untuk Luna?" Aluna terus melamun.
Di saat Aluna berbicara dengan sistem, terdengar telepon masuk dari Helen. Meskipun malas menanggapinya, Aluna tetap saja mengangkatnya.
Jadi wanita sialan ini sudah sadar, gumam Aluna dalam hati.
^^^"Halo, Luna."^^^
"Aku kira kamu sudah mati di rumah sakit," sindir Aluna di telepon.
^^^"Jaga bicaramu, Luna! Oh iya ... aku dengar kalian sedang berada di tempat pembuangan sampah?" ucap Helen tanpa basa-basi.^^^
Darimana dia tahu aku berada di sini dengan Alvin? pikir Aluna.
Pikiran Aluna langsung dibalas sistem, Helen tahu mereka ada di tempat sampah atas informasi dari salah satu pelayan di rumah Alvin. Ternyata, Helen mempunyai pelayan bayaran di rumah Alvin, dia akan memberitahukannya informasi penting apa pun di rumah itu. Saat Alvin terlihat kalang kabut mencari Luna, pelayan itu mendengarnya dan menguping pembicaraan Alvin dengan Asisten Jo.
"Ha ... ha, jadi kamu sudah mengetahuinya, wanita licik! Kalau iya memang kenapa?" kata Aluna.
^^^"Kalian benar-benar berperilaku absurd! Apa kalian ingin mencari bukti di sana? Gunungan sampah di sana sangat tinggi. Ha ... ha, tidak mungkin kamu akan menemukan pecahan botol itu, Luna. Aku juga sangat tidak yakin Alvin akan membantumu!" Helen meragukan sambil tertawa.^^^
Akan aku kirim buktinya agar kamu lebih memanas lagi, Helen!
Ketika Helen meragukannya, Aluna sengaja memfoto Alvin saat sedang mencari pecahan botol, lalu mengirimkannya melalui pesan gambar di whatsapp.
"Apa kamu masih tidak percaya, Helen. Lihatlah, suamiku rela melakukan apa pun demiku. Jadi, apa kamu masih mau merebutnya?"
Helen langsung membuka pesan gambar dari Aluna, ekspresinya langsung berubah drastis.
^^^Alvin, apa aku harus percaya? Bukankah kamu memiliki mysophobia? Bukankah kamu akan mengalami alergi dan kulitmu akan memerah kalau berada di tempat kotor? Apa aku sedang tidak bermimpi sekarang? batin Helen di seberang telepon.^^^
"Jangan mengganguku lagi mulai sekarang! Dan setelah bukti itu didapatkan, menjauhlah dari suamiku!" ketus Aluna.
Helen di seberang telepon masih tercengang memandangi foto Alvin yang tengah bergelut dengan sampah di sekitarnya.
Mendengarnya, Aluna langsung menoleh memasukkan lagi handphone di sakunya. Dia langsung berlari menghampiri Alvin.
'Miss K, apa ini adalah pecahan botol yang kamu maksud?' Aluna berkata dalam hati.
"Luna, aku yakin ini adalah pecahan botol yang kita cari. Lihatlah, tulisan di kantong ini menunjukan milik kafe Casablanka. Asisten, Jo. Bukalah sekarang," perintah Alvin kepada bawahannya.
Aluna yang merasa tidak yakin akhirnya percaya ketika sistem mengatakan kalau itu benar adalah bukti yang Aluna cari. Alvin pun percaya karena sudah melihatnya langsung kalau isi di dalamnya adalah pecahan botol.
"Tunggu ...." Aluna mengamati cairan berwarna merah pekat di telapak tangan Alvin. "Tanganmu, berdarah, sepertinya kamu terluka."
Aluna melihat saksama tangan Alvin, benar saja, akibat terkena goresan kaca dan beberapa sampah lainnya, membuat telapak tangan Alvin tergores dan berdarah. "Aku tidak apa, Luna," ucap Alvin berusaha menyembunyikan tangannya.
Bret!
Kerena tidak ada kain yang bersih dan kering, Aluna terpaksa merobek sweater miliknya. Dia lalu menutup tangan Alvin dengan kain itu agar darah tak terus keluar. "Lukamu sangat parah, bisa infeksi kalau tidak segera diobati," kata Aluna begitu khawatir.
"Asisten Jo, cepat carikan air mineral dan plester! Luka suamiku akan bertambah parah kalau tak cepat dibersihkan!" perintah Aluna kepada Asisten Jo.
"Baik, Nona." Tak menunggu lama setelah menjawab, Asisten Jo langsung berlari mencari air mineral.
Aluna lalu mengajak Alvin agar menepi ke tempat yang teduh. Mereka duduk berdua saling berhadapan. Aluna merasa bersalah karena membuat Alvin terluka.
"Maafkan aku, Alvin," Aluna terus memegang tangan Alvin, mencoba membersihkan darah di tangan Alvin.
"Tidak usah sekhawatir itu, ini sama sekali tidak sakit," ucap Alvin berbohong. Dia sendiri sebenarnya sedang menahan rasa gatal ditubuhnya, ditambah lagi Alvin sedang menahan kedinginan akibat diguyur hujan selama mencari pecahan botol.
"Aku tidak percaya. Ini pasti sangat perih." Aluna terus meniup luka di tangan Alvin.
Melihat perhatian Aluna, Alvin tersenyum bahagia, momen ini benar-benar sangat langka selama mereka menikah. Sakit dan gatal di tubuhnya pun tak dirasanya ketika berdekatan dengan Aluna. Ya, diam-diam Alvin memandangi wajah Aluna yang terlihat cemas. Wajah Aluna terlihat menggemaskan apalagi saat dia meniup tangannya, membuat Alvin sampai menarik lembut hidungnya.
"Aku tidak percaya, Nona kaya yang selalu dipingit di istana mau mendatangi tempat kotor seperti ini," kata Alvin mencairkan suasana.
"Tentu saja, bukankah ini demi kita juga. Dengan mendapatkan bukti ini, Helen tidak akan mendekatimu lagi," balas Aluna.
"Itu tidak akan terjadi, Luna."
Sementara Helen yang belum menutup telepon, mendengarkan semua pembicaraan mereka berdua lewat telepon. Dia terlihat semakin marah dan memanas. Helen sangat cemburu karena mereka berdua terlihat sangat manis.
^^^"Brengsek!!" teriak Helen langsung menutup teleponnya.^^^