TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Terpaksa Berbohong


"Iya aku hanya ingin memiliki lisensi pilot untuk keperluan pribadi." Aluna kembali menjelaskan.


Baru selesai berucap, kata-kata Aluna langsung disangkal Lily. "Mengendarai mobil pun kamu tak mahir, apa lagi menerbangkan pesawat! Kamu pikir mengikuti ujian lisensi pilot itu mudah. Kamu itu sudah bersuami, jangan terlalu banyak menghayal Luna! ... ha... ha ...." Tawa Lily menggema di ruangan.


Tidak hanya Lily, Yuze yang ada di sebelahnya tak bisa menahan tawanya. "Kakak ipar, sebaiknya pilihlah ujian memasak atau ujian kelas kecantikan. Untuk apa seorang wanita bisa mengendarai pesawat? Lagi pula keluarga kami sudah memiliki pilot untuk pergi kemana pun," tambahnya.


Telinga Aluna mendengar itu langsung memanas, gadis itu menaikkan sebelah alisnya sembari tersenyum tipis ke arah Yuze dan Lily. "Jadi menurut kalian wanita hanya boleh memiliki keahlian memasak di dapur dan hanya bisa bersolek? Lalu pemikiran kalian yang dimaksud karir dan gelar itu apa? Sebuah gelar tak berarti, kalau hanya digunakan untuk mengambil harta dan kekuasaan milik orang lain!" seru Aluna menatap tajam.


Mendengar Aluna berkata seperti itu Yuze merasa tersindir, lelaki itu tersenyum dengan bibir rapat sembari memalingkan wajahnya.


Keparat! sepertinya dia menyindirku! batin Yuze.


Tidak hanya Yuze, wajah paman kedua dan bibi ketiga mendadak padam. Ucapan Aluna begitu menohok, terutama paman Hans, lelaki itu memang memiliki gelar dan karir yang cemerlang. Akan tetapi, selalu kalah dari Alvin yang lebih muda darinya. Beberapa proyek yang ia jalani terancam bangkrut gara-gara salah dalam menganalisa data. Kini, lelaki itu berencana meminta lagi sebagian perusahan yang dipegang Alvin untuk menutupi seluruh utang keluarganya.


"Nenek akan mendukungmu, Luna. Tapi hanya untuk mendapatkan lisensi pilot untuk penerbangan pribadi, tak lebih. Nenek yakin Luna akan lulus dalam ujian itu. Apalagi, nenek tahu sendiri kalau Luna adalah pengemudi yang handal. Bayangkan saja cucuku ini bisa mengendarai mobil dengan kecepatan lebih dari 150 Km/jam tanpa mengalami hambatan apa pun di jalanan umum. Itu adalah skill yang jarang dimiliki orang pada umumnya, termasuk wanita. Lagi pula tidak ada salahnya wanita bersuami masih tetap belajar, asalkan suaminya memperbolehkan. Apa kamu menyetujuinya, Alvin?" tanya nenek Alma kepada Alvin yang dari tadi hanya diam.


Sebenarnya dalam pikiran lelaki itu menolak keinginan istrinya. Apalagi mereka sedang mempersiapkan proses kehamilan. Alvin berpikir sejenak, melipat lengannya sembari menghembuskan napas pelan.


"Aku akan menyetujuinya, asal Luna belajar dan mengikuti ujian bersamaku. Aku tidak akan memperbolehkan Luna pergi sendirian tanpa pendampingan dariku," tegas Alvin.


Glek.


Aluna buru-buru meminum gelas berisi cairan bening itu ke mulutnya dengan pelan. Jadi Alvin akan tetap menemaninya ke manapun? Aluna kembali melihat ke arah Alvin yang sudah menggenggam tangannya.


"Berarti sampai sebesar ini Luna tak memiliki karir apa pun? Apa dia tidak mempunyai pemikiran lain agar bisa mandiri dan memiliki penghasilan sendiri?" Jiali yang dari tadi menyimak, menyindir kembali Luna, seperti minggu sebelumnya Luna selalu ia permalukan.


Kali ini Aluna harus memutar otaknya lagi agar bisa menutupi kekurangan Luna selama ini. Wanita yang tidak mengetahui apa pun di dunia bisnis itu, mengingat kembali pelajaran dulu saat ia masih di dunia nyata.


"Sebenarnya aku juga sedang berinvestasi saham di proyek ... " Aluna menghentikan ucapannya.


"Sanitary." Alvin langsung menyambung ucapan Aluna yang terpotong. Lelaki itu kembali menggenggam lebih erat tangan Aluna, menatap sekilas istrinya mengisyaratkan agar berkerja sama dengannya.


"Ah' betul barusan aku ingin mengatakan itu." Aluna tersenyum memperlihatkan sederet giginya.


Jiali yang kembali penasaran dengan bisnis Aluna kembali melontarkan pertanyaan. "Proyek sanitary yang dikembangkan oleh perusahaan mana?" tanyanya lagi kepada Aluna.


Aluna kembali bingung menjawab pertanyaan bibi ketiga. Namun, lagi-lagi Alvin yang menjawabnya, "Ace grup, Tuan Willy sendiri yang mengatakannya padaku kalau Luna sedang berinvestasi di perusahaannya. Lima puluh persen saham proyek sanitary yang dia kerjakan adalah milik Luna," jelasnya.


"Kalian sudah dengar' kan. Menantuku ini sangat keren. Selain menjadi istri yang baik dia diam-diam sudah berani berinvestasi. Aku tak menyangka ternyata menantu semandiri itu," ucap Clara memuji.


Alvin mengedipkan kedua matanya ke arah Luna, memberi isyarat kepada wanita itu agar mengerti kalau mereka sedang bersandiwara.


"Ah' sebetulnya aku tak ingin menyombongkan di depan keluarga. Sayangnya suamiku sendiri yang membukanya. Bibi, sebenarnya investasi itu tidak ingin aku publikasikan. Aku hanya ingin fokus terhadap keluarga, apalagi saat ini suamiku menginginkan keturunan," ucap Aluna.


Mendengar Aluna mengatakan itu, nenek Alma begitu senang. Ternyata keinginannya memiliki cicit disambut baik oleh Luna, pikirnya. Tidak hanya wanita tua itu, bahkan Clara merasa lega karena saudara iparnya tidak meremehkan Luna lagi.


Aku harus berinteraksi dengan Alvin agar dapat mendapatkan tas saran malam ini. Batin Aluna.


Kemudian Aluna mengambil sepiring kue, meraih sendok di atas meja lalu mengambil potongan kue dengan sendok di tangannya.


"Suamiku, sepertinya kue ini sangat enak, cobalah!" Tangan Aluna yang memegang sendok mengarahkan ke mulut Alvin.


Tumben sekali Luna ingin menyuapiku di depan umum seperti sekarang, gumam Alvin di dalam hati.


"Jadi kamu sudah menyetujui keinginan kita untuk memiliki anak?" tanya Alvin menahan tangan Aluna.


Aluna diam sesaat, ia hanya mengangguk mengiyakan. "Hem, buka mulutmu, suamiku!" serunya merayu.


Masih terus melihat ke arah Aluna, Alvin membuka mulutnya, membiarkan kue masuk ke dalamnya.


Setelah kue habis dilahap Alvin, suara sistem kembali terdengar.


...[Selamat nona Aluna, Anda mendapatkan satu tas saran.]...


Jadi begitu caranya mendapatkan tas saran! Batin Aluna.


Ya, Aluna baru mengetahui caranya agar mendapatkan tas saran, yaitu harus terus menerus berinteraksi dengan Alvin, terutama di depan umum.


Aku akan menagih janjimu, Luna. Batin Alvin.


Alvin merasa Aluna telah menyetujui keinginannya memiliki anak. Malam ini dia sudah memiliki rencana lain untuk istrinya. Sementara, Aluna sendiri hanya memanfaatkan situasi ini hanya untuk mendapatkan tas saran. Ya, wanita itu tak ada keinginan sedikitpun untuk mempersiapkan kehamilan.