
Yuze terhuyung, mengusap kasar darah yang menetes di sudut bibirnya. Beberapa pukulan dari Alvin, berhasil membuat dirinya tumbang.
"Sekali lagi kamu menghina istri dan anakku, aku akan membunuhmu detik ini juga," ucap Alvin dalam kondisi marah tak terkendali.
Alvin tak pernah memukul seseorang, kecuali kalau dia benar-benar sangat marah. Ucapan Yuze barusan berhasil memancing emosi Alvin yang sudah tertanam lama untuknya. Alvin tidak akan marah kalau dirinya dihina, tetapi harga dirinya seakan diinjak-injak ketika Yuze dengan terang-terangan menghina Luna dan Zero di depannya langsung.
"Alvin, tenangkan dirimu," ucap Aluna berusaha menahan Alvin agar tak memukul Yuze lagi.
Pak dan Bu Han memundurkan langkah hendak kabur, akan tetapi sebelum itu terjadi, pegawai Sinta menahannya. "Mau ke mana kamu? Kau harus mempertanggungjawabkan perbuatan kalian di penjara," bentak Sinta. Tiba-tiba dia datang bersama Sindi dan pegawainya.
"Maafkan aku, Nyonya. Zero sudah tidak bersamaku. Barusan dia kabur dan berlari sangat cepat sekali ke sana. Tolong jangan tangkap aku," ucap Bu Han memohon.
Mendengar ucapan Bu Han, Aluna yakin yang dia maksud adalah anaknya Zero. Aluna menghampiri Bu Han dan bertanya langsung padanya, "Ke mana arah anakku berlari?"
Sinta dan Sindi terperanjat mendengar ucapan Aluna barusan, mereka mencoba menelaah ucapan yang mengatakan kalau Zero adalah anaknya. Kalau melihat wajah Aluna, Sinta tak yakin kalau dia adalah ibu kandung Zero. Tetapi tidak dengan Alvin, melihat wajahnya saja dia yakin kalau Alvin adalah ayah kandung dari Zero.
Dari awal aku sudah yakin kalau identitas Zero memang tak biasa. Dilihat dari aura mereka saja, sepertinya mereka berasal dari keluarga bangsawan, batin Sinta.
"Apa Bibi benar ibu kandung Zero? Bibi bukan penculik seperti paman dan bibi ini, Kan?" tanya Sindi sambil menunjuk Bu Han.
Melihat Sindi berbicara kepadanya, Aluna duduk berjongkok sejajar dengan gadis kecil itu. "Kau sangat cantik sekali, siapa namamu? Benar aku adalah ibu kandung Zero, apa kamu mengenalnya gadis cantik?" tanya Aluna sambil tersenyum.
Sindi mengangguk dan langsung memperkenalkan siapa dirinya dan hubungannya dengan Zero. Baru bertemu saja, Sindi sudah sangat menyukai Aluna.
"Bibi, jalan pedesaan ini ada dua jalur. Barusan tadi aku jalan menuju ke mari melewati jalur utama, dan kami tak menemukan Zero. Itu artinya, Zero pasti berjalan melewati jalan satunya," kata Sindi memberikan pendapat berbicara dengan Aluna.
Sinta pun berpendapat demikian, dia mengatakan kalau Zero pun pasti berlari lewat jalur ke dua. "Benar yang dikatakan anakku. Kalau Zero lewat jalur ke dua, itu artinya dia sedang berada di hutan sekarang. Hutan itu tidak jauh dari sini, kita bisa melewatinya lewat jalur setapak itu," kata Sinta menjelaskan.
"Tapi, hutan itu sangat berbahaya banyak binatang buas di sana, apalagi di malam seperti sekarang," kata Bu Han memotong pembicaraan.
Mendengar hutan itu berbahaya, Yuze langsung mundur untuk mencari Zero di dalam. Ketika dia tahu banyak binatang buas di sana, Yuze merasa puas bahkan dia berharap Zero akan mati dimakan binatang buas di dalamnya.
"Alvin, kau masih yakin ingin mencari anak yang bukan darah dagingmu itu?" tanya Yuze, "kalau kau ke sana itu sama saja dengan mengumpankan dirimu sendiri."
Alvin tak peduli, apa pun yang terjadi, dia akan tetap mencari Zero, di mana pun dia berada sekarang. Bahkan dia akan mencarinya sampai ke dalam hutan yang terkenal banyak binatang buas.
"Aku akan mencarinya, walaupun mengorbankan nyawa sekali pun. Karena Zero adalah anak kandungku dan Luna," kata Alvin tegas.
Yuze tak bisa berkata-kata lagi. Walaupun antara percaya atau tidak dengan ucapan Alvin yang mengatakan kalau Zero adalah anaknya. Yuze langsung menelepon nenek Alma, mengatakan kalau Zero tersesat di hutan. Kali ini Yuze juga menyerah dan memutuskan menghentikan pencarian dengan memanggil helikopter agar datang menjemputnya.
"Alvin kau boleh berkata kalau anak itu adalah anakmu, tapi Nenek tetap akan menyuruhmu dan Luna berpisah. Nenek akan marah kalau kau tak cepat pulang bersamaku sekarang," kata Yuze, "ayo kita pulang sekarang."
Alvin tak peduli, bahkan dia akan mengancam memukul Yuze lagi kalau dia terus ikut campur dengan urusan pribadinya.
"Jangan ikut campur masalah pribadiku kalau kau masih ingin hidup sekarang," kata Alvin.
Aluna, Alvin dan dibantu beberapa pelayan Sinta dan tetua desa, bersama-sama mencari Zero berjalan menuju jalan ke dua. Mereka meninggalkan Yuze yang sudah menunggu helikopter datang. Sementara Sinta dan lainnya, membawa Pak dan Bu Han ke kantor desa untuk ditahan.
"Jembatan satu-satunya yang menghubungkan desa ini dengan hutan telah roboh, kita tak bisa berjalan menuju hutan kalau tak ada jembatan itu," kata pelayan Sinta memberitahu.
"Apa? Kalau tidak ada jembatan itu, lalu lewat jalan mana lagi agar aku bisa sampai ke hutan itu?" tanya Aluna dengan perasaan cemas, dia terlihat berpikir, bagaimana caranya dia bisa melewati sungai yang katanya sangat dalam itu.
Salah satu tetua di desa itu mengembuskan kasar napasnya. Menurutnya tak ada jalan lain menuju hutan malam ini, kecuali kalau Aluna mau bersabar untuk menunggunya besok pagi agar bisa membuat perahu rakitan dari bambu.
"Tidak bisa Nyonya, selain jembatan ini roboh, tidak ada penerangan yang cukup. Di hutan sana sagat gelap, Anda bisa membahayakan nyawa sendiri."
Aluna tidak setuju dengan ucapan tetua barusan. Kalau dia membiarkan Zero di hutan seorang diri malam ini, itu sama saja mengumpankan Zero uuntuk binatang buas.
"Luna, sebaiknya kau tunggu saja di sana. Hutan di dalam sana sangat berbahaya. Biar aku dan tetua saja yang mencarinya," kata Alvin.
Akan tetapi, Aluna menggelengkan kepala, dia tidak akan bisa tenang kalau Zero belum ditemukan.
"Kau pikir aku bisa beristirahat dengan tenang, sementara anakku di sana sedang dalam bahaya. Ingat, walaupun aku tak melahirkan dan mengandungnya, tetapi pemilik tubuh ini adalah ibu kandungnya," kata Aluna sedikit emosi.
Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di otak Aluna ketika melihat dari jauh helikopter yang ditunggu Yuze mendarat tepat di lapangan.
"Aku punya ide. Ikutlah denganku sekarang," ajak Aluna menggandeng Alvin menuju tempat Yuze berdiri.
Alvin sempat berpikiran, saat Aluna mengejar helikopter, dia akan ikut pulang bersama Yuze dan menghentikan pencarian. Namun, pikiran buruk Alvin langsung ditepisnya, saat mereka sampai, Aluna menyuruh Yuze dan pilot agar turun.
"Jadi kau ingin ikut dengan kami mencari Zero?" tanya Yuze pada Aluna.
"Tidak!"
"Kalau begitu cepat turun. Kita akan terbang sekarang."
"Aku tidak mau turun. Justru kalian berdua yang harusnya turun. Cepat turun, atau akau akan menendangmu dari atas sampai ke bawah," ucap Aluna dengan nada tinggi.
Alvin masih belum mengerti apa maksud dari ucapan Aluna. Saat itu helikopter telah sampai di tengah lapangan, mereka pun sudah duduk tenang di tengah.
"Cepat turun! Aku akan menyewa helikopter ini untuk mencari sendiri ke hutan bersama Alvin," kata Aluna kepada pilot.
"Tidak bisa!" jawab Yuze lantang.
Yuze tercengang belum mengerti apa maksud ucapan Aluna, begitupula dengan Alvin. Aluna dulu sempat belajar otodidak cara mengendarai helikopter. Tetapi keahlian itu belum terasah betul. Aluna ingat masih ada sisa tas saran yang dimilikinya dengan menukar keahlian mengendarai helikopter kepada sistem.
Buk! Aluna mendorong keras Yuze dan pilot yang sedang duduk tenang sampai mereka terjungkal di tanah. Dan kini dirinya telah duduk di depan kemudi pilot. Saat itu juga Aluna menekan beberapa tombol yang telah dipelajarinya dan langsung menerbangkan helikopter dengan tangannya sendiri detik itu juga.
"Aluna apa yang kamu lakukan?" tanya Alvin tampak tegang ketika helikopter mulai terbang perlahan. Dia tak menyangka kalau Aluna bisa menerbangkan dengan tangannya sendiri.
"Berpeganglah yang erat, kita akan berangkat menuju hutan mencari Zero," teriak Aluna sambil terus menerbangkan helikopter semakin tinggi.