
Makan malam telah usai, acara foto-foto pun telah berakhir. Malam itu juga Alvin mengundang keluarga Sindi untuk datang ke rumahnya sekarang. Karena besok Alvin tidak mungkin bisa menyambutnya karena bekerja.
Dua mobil yang membawa keluarga Alvin dan Sindi sudah memasuki halaman mansion. Baru saja turun dari mobil, mereka sudah disambut beberapa pelayan di pintu utama.
"Selamat malam. Selamat datang Nyonya Sinta sekeluarga," kata para pelayan menyambut hangat sambil memberi hormat.
Sinta beserta suami dan Sindi membalas dengan tersenyum. Mereka sangat menyukai penyambutan dari keluarga Alvin. Tetapi hanya para pelayan saja yang bersikap hangat, tidak dengan Clara yang sekarang tahu kedatangan mereka dari lantai dua. Walaupun dia telah menyesal sudah membuat Zero hilang. Tetap saja dia belum menerima Sindi terlalu dekat dengan cucunya.
"Zero," kata Clara merasa lega cucunya telah selamat. Dengan berjalan cepat menuruni tangga, Clara mendekati dan langsung memeluk Zero, "maafin, Oma ya, Ze. Oma tidak tahu kalau Lily dan Yuze hendak menculikmu."
Clara masih mencium pipi kanan dan kiri Zero bergantian karena belum puas dengan rasa kangennya. Rasa-rasanya Clara ingin sekali membawa Zero dan memasukkan ke kamarnya. Anming sebentar lagi pulang dari luar negeri, dia dan Clara rencananya ingin mengajak Zero jalan-jalan.
"Oma, kenalkan temanku namanya Sindi," kata Zero.
Clara tersenyum tapi sangat pias. Melihat sebentar Sindi, kemudian mengabaikannya begitu saja. Bahkan ketika Sindi menyapanya pun, Clara hanya melihat sebentar saja.
"Kamu sudah makan?" tanya Clara kepada Zero.
"Sudah, Oma. Bareng Sindi tadi. Iya 'kan Sindi?" kata Zero sambil menyenggol lengan Sindi.
"Iya, Oma tadi."
Clara hanya melirik sebentar. Tidak jauh terlihat Aluna dan Sinta mendekat. Sedangkan Alvin dan ayah Sindi langsung berjalan ke ruangan kerja Alvin yang ada di lantai tiga untuk membicarakan kerja sama.
"Luna, ibu ingin bicara sebentar," kata Clara dengan nada lembut.
Aluna mengangguk. Kemudian menyuruh Zero untuk mengajak Sinta dan Sindi ke ruangan bermainnya. Memperlihatkan miniatur kota buatannya kepada Sindi.
"Nanti aku akan menyusul sebentar lagi," kata Aluna.
Setelah Zero mengajak ibu dan anak itu ke atas, barulah Clara memulai obrolan.
"Ibu ... minta maaf ya, Luna. Ibu menyesal karena membuat Zero hampir diculik," kata Clara penuh penyesalan.
Aluna mengangguk pelan. Tak ada dendam sama sekali dalam hatinya untuk Clara. Walaupun terkadang ada rasa benci karena Clara terlalu ikut campur masalah pribadinya.
"Aku maafkan. Tapi untuk ke depannya semoga ibu bisa lebih bijak lagi saat mengambil langkah."
Clara merasa lega dan memeluk Aluna. Dia juga sudah menerima Luna dan tak akan mengungkit lagi tentang masa lalunya yang telah menelantarkan Zero.
"Syukurlah, untuk kedepannya ibu tak akan ikut campur lagi. Nenek Alma juga minta maaf," kata Clara.
"Benarkah? Termasuk untuk masa depan anakku juga ibu tak akan ikut campur?" tanya Aluna memastikan, "dan aku juga sudah memaafkan Nenek. Jauh sebelum ibu dan nenek meminta maaf."
Clara sedikit kurang setuju dengan yang dikatakan Aluna barusan. Masa depan? Berarti termasuk jodoh untuk Zero nanti. Clara setuju apa yang dilakukan Luna nanti, tapi diia tak setuju kalau nanti Zero akan dijodohkan dengan Sindi.
Alis Aluna sedikit berkerut. Sudah jelas kalau Clara tidak menyetujui Sindi nanti. Aluna sudah merencanakan semuanya, termasuk dengan siapa Zero akan berjodoh sebelum dia pergi tentunya.
"Ibu, jangan banyak berpikiran terlalu jauh dulu, apalagi berpikiran buruk tentang Sindi. Mereka masih sama-sama kecil dan belum dewasa, menurutku perilaku Sindi masih wajar. Aku setuju kalau suatu saat nanti Zero telah dewasa dan menyukai Sindi. Aku tidak akan menentang mereka berhubungan," kata Aluna.
Clara yang mendengar itu hanya bisa diam. Dia tak ingin berdebat lagi dengan Aluna.
***
"Jadi anak itu tak jadi hilang?" tanya Helen dengan emosi.
Mona memijat keningnya yang terasa pusing. Melihat Helen kemudian menggeleng pelan. Di dalam hatinya dia sempat meragukan Helen. Dia masih bertanya dari mana Aluna bisa berhasil menemukan Zero kalau bukan informasi dari Helen. Dia sempat curiga kalau Ara telah bertransmigrasi lagi.
"Sebaiknya besok kamu bekerja lagi saja. Mommy ingin kamu mendekati Alvin lagi," kata Mona.
"Yah aku tahu, bahkan tanpa Mommy menyuruhku. Tapi aku malas untuk bekerja lagi di perusahaan itu. Untuk mendekati Alvin, aku akan pilih cara yang lain saja selain bekerja," kata Helen, dia malas kembali bekerja karena lingkungannya sudah tak nyaman semenjak ada Aluna.
"Jadi kamu menolak bekerja lagi? Helenku tidak mungkin menolaknya!" seru Mona ketus.
"Jadi menurut Mommy aku bukanlah anakmu?"
"Tidak, tidak! Bukan seperti itu maksud Mommy. Hanya saja aneh saja kalau kamu itu menyerah. Bekerja dengan Alvin adalah cara jitu untuk mendekatinya lagi. Bayangkan dulu hampir saja kamu memilikinya," kata Mona memanasi.
"Pada intinya Mommy tak percaya denganku," kata Helen ketus. Dia yang sedang emosi bertambah buruk moodnya mendengar ucapan Mona barusan.
"Bukan itu Helen!"
"Sudahlah lebih baik Mommy keluar saja. Aku sedang malas berdebat denganmu," kata Helen. Kemudian berdiri dan menyuruh Mona keluar.
Helen langsung menutup pintu kamarnya rapat. Dia sedang emosi karena mendengar Zero gagal diculik. Sampai-sampai Helen melempar berbagai barang yang ada di dekatnya ke sembarang arah.
"Aarghh! Kenapa susah sekali melenyapkan kalian!" teriak Helen kesal.
Semua barang sudah dia banting. Bahkan guci kecil di kamarnya pun tak luput dari luapan emosinya. Tinggal satu benda lagi yang belum. Yaitu ponsel.
Sebelum Helen membantingnya ke lantai. Dia melihat sekilas ada banyak pesan masuk dari nomor yang tak dia kenal.
Helen langsung mengurungkan niatnya dan membuka isi pesan tersebut.
"Lisa?"
"Dia mengirimkan pesan padaku."
[Hai Nona Helen, aku Lisa. Aku tahu banyak siapa kamu dan seorang wanita bernama Arabella yang sesekali meminjam tubuhmu. Aku ingin kita bertemu dan berbicara empat mata. Karena sepertinya, kita cocok untuk bekerja sama. Bagaimana? Kalau setuju aku akan menunggumu di kafe Casablanca malam ini juga. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan.]