
Aluna mengatupkan ujung-ujung jemarinya sembari menyenderkan punggungnya di kursi halte. Hawa malam itu terasa semakin dingin, hingga membuat telapak tangannya tak berhenti mengusap lengannya, bulu kuduknya dari tadi berdiri karena saking dinginnya. Kalau bukan karena sebuah misi, sudah pasti gadis itu tengah tidur nyenyak di kasurnya.
Kenapa lama sekali, gumam Aluna.
Suasana sangat sepi di tengah malam itu. Tidak ada satu pun orang yang berlalu lalang. Aluna duduk sendirian sambil menunggu taksi yang sudah dipesan oleh Lily.
Akhirnya setelah menunggu hampir sepuluh menit, sebuah taksi berhenti tepat di depan ia menunggu. Terlihat dari nomer plat mobilnya, benar taksi itu adalah mobil pesanannya.
"Antar aku ke bar casablanka," ucap Aluna setelah mendudukkan pantatnya di kursi taksi.
"Baik, Nona," sahut sopir taksi.
"Berapa lama aku akan sampai ke tempat itu?" tanya Aluna lagi.
"Sekitar, sepuluh menit lagi, Nona. Karena jaraknya tidak terlalu jauh dari sini," jawab sopir taksi.
Sepuluh menit? Kalau begitu sebaiknya aku bertanya lagi kepada sistem tentang misi hari ini.
Aluna yang belum ada persiapan matang, kemudian ditepuknya kalung sistem.
"Miss K!" seru Aluna memanggil sistem.
Belum ada sahutan, Aluna kembali menepuk kalung sistem yang kedua kalinya. "Miss K, bangunlah! Jangan-jangan kamu sedang tidur tak segera menjawab pertanyaanku!" ketus Aluna sedikit kesal.
Aluna tidak tahu kalau barusan sopir taksi memperhatikannya terus-menerus. Lelaki yang duduk di kursi pengemudi itu terlihat takut sekaligus kebingungan melihat Aluna berbicara sendirian.
Kenapa dia berbicara sendirian? tanya sopir taksi dalam hati.
Sensor kalung sistem menyala.
Akhirnya kamu bangun juga, gumam Aluna.
"Miss K, jawab pertanyaanku! Bagaimana caranya agar mengubah plot yang menyeramkan hingga menjadi cerita yang sweet?" tanya Aluna.
...Sistem menjawab, [Nona, plot yang sebenarnya adalah Luna akan dilecehkan oleh lelaki bayaran. Setelah itu, Alvin tidak mau berdekatan lagi dengan Luna. Misi hari ini Anda harus berpura-pura dijebak, tetapi Alvina akan tetap simPATI dan tidak jadi meninggalkanmu, Nona.]...
"Kalau begitu lulusnya misi hari ini sepenuhnya ditentukan oleh penilaian sistem, sweet atau tidaknya. Kalau sistem tidak menyetujuinya, apa usahaku akan sia-sia malam ini?" Aluna bertanya karena dia sangat ragu.
...Sistem menjawab, [Intinya nona harus mengikuti alur novel ini dan berpura-pura terjebak. Setelah itu Anda harus fokus ke Alvin agar lelaki itu mempercayaimu.]...
Sopir taksi kembali melirik Aluna dari kaca spion dalam. Pikirnya, wanita yang duduk di kursi belakangnya sedang berbicara lewat telepon. Tetapi, nyatanya bukan. Wanita itu tidak bicara dengan siapa pun dan hanya duduk sendirian tidak ada orang di sebelahnya.
Apa jangan-jangan wanita ini kurang waras ... atau jangan-jangan dia sedang berbicara dengan hantu? batin sopir taksi ketakutan.
Saking ketakutannya sopir taksi itu sampai mempercepat laju mobilnya agar segera sampai ke lokasi. Dia tidak berani menengok ke belakang, apalagi saat Aluna tersenyum, melihat sebagian rambut panjangnya menutupi wajahnya, sopir itu malah tambah gemetar.
Aluna lalu memberikan kartu bank sebagi alat pembayarannya. "Kenapa dengan Anda Pak sopir?" tanyanya. "Tunggu! Aku beri saran sebaiknya mobil Anda harus diberi pewangi lebih. Baunya sangat tidak sedap," ucap Aluna sembari menutup hidungnya.
"Terima kasih sarannya, Nona. Ini kartu bank milik Anda," ucap sopir taksi, setelah itu dia buru-buru melajukan mobilnya meninggalkan Aluna sendirian. Ternyata Aluna tidak tahu kalau sopir taksi itu sampai terkencing di celana karena saking ketakutannya, akibat kejadian itu membuat mobilnya beraroma kurang sedap.
***
Di Bar
"Halo, Nona! Apa malam ini kalian jadi memakai jasa kami?" Dua orang lelaki bertubuh tinggi dengan otot kekar mendatangi Helen dan Lily. Mereka adalah gangster yang sengaja dipesan Helen untuk menjebak Luna.
Helen tersenyum miring, baru beberapa menit memanggil mereka, dua lelaki itu sudah ada di depan matanya. "Tentu saja jadi. Kalian tunggu saja di luar, kalau aku sudah memastikan semuanya siap, maka aku akan memberikan isyarat." Helen lalu melemparkan beberapa lembar uang ke tangan salah satu dari mereka.
"Bukankah tadi Anda bilang upah kesepakatannya tidak segini. Kalau begini caranya kami tidak ingin berkerja sama dengan Anda lagi," ucap salah satu gangster sedikit kecewa karena uang yang didapatnya tidak sesuai.
"Kalian belum bekerja sudah meminta lebih. Apa kalian tidak percaya dengan kami! Ingat ini hanya awalan, setelah kalian menyelesaikan tugasnya dengan baik baru aku akan memberi upah sesuai dengan yang kita sepakati. Aku akan mengirimnya langsung ke rekening kalian." Helen berkacak pinggang sombong.
"Baik, Nona! Maaf kami tidak bermaksud tidak percaya. Kami akan bekerja sebaik mungkin," sahut salah satu dari gangster.
Setelah gangster pergi, Lily mengucapkan rasa kagum kepada Helen karena ide liciknya. Sebelum melakukan misinya, mereka merayakan dulu dengan meminum segelas wine yang sudah dituang di dalam gelas bening.
"Mari bersulang," ucap Lily.
Seusai mereka menghabiskan satu botol, Helen berencana keluar dari dalam Bar, ia takut Luna akan curiga kalau sampai wanita itu melihatnya sedang bersama Lily di bar.
***
Di Luar Bar.
Aluna yang sudah sampai di depan bar hendak menelepon Lily memastikan dirinya sudah sampai. Namun, sebelum ia masuk ke dalam bar. Aluna bertemu dengan Helen yang baru keluar dari dalam. mengetahui saudara tirinya melihatnya, ia pura-pura tak melihat Aluna.
"Tunggu!" seru Aluna menghentikan langkah Helen.
"Apa Anda juga di undang oleh Lily ke sini?" tanya Aluna lagi.
Mengetahui langkahnya dihentikan Aluna, gadis itu malah tersenyum pura-pura tak mengetahuinya. "Apa maksudmu? Aku ke sini sudah biasa setiap akhir pekan. Jadi aku tidak tahu dengan apa yang Anda maksud!" sahut Helen.
"Ah' aku tak percaya kalau ini hanyalah sebuah kebetulan. Sepertinya malam ini perasaanku sedang tidak enak, seakan ada orang yang ingin berbuat buruk kepadaku!" kata luna menyindir.
Helen mempertontonkan senyum liciknya. Wanita itu masih berpura-pura bodoh tidak tahu dengan apa yang diucapkan Aluna.
"Jangan berpikiran buruk dulu tentangku. Setelah kemarin Anda sudah membuatku malu. Mana berani aku berurusan lagi denganmu! Aku tidak menyangka kalau Anda juga sering keluar malam seperti sekarang!" balas Helen balik menyindir.
Kali ini kamu akan masuk perangkapku, Luna!