
"Aku berhasil meretas email duplikat perusahaan yang Helen buat. Seluruh pesan yang masuk dan pesan yang terkirim sudah aku print jadi satu di map ini." Aluna menyodorkan satu map berisi lembaran dokumen.
Alvin menerima map itu lalu mengambil beberapa lembar kertas dan membacanya dalam hati. Lama kelamaan terlihat Alvin mengerutkan keningnya saat membaca isi laporan tersebut. Di kertas itu tertulis percakapan pesan Helen dengan beberapa klien dan percakapannya dengan Yuze.
"Bagus! Aku suka cara kerjamu yang cepat, Luna. Jadi Yuze juga ikut memasarkan beberapa apartemen dengan cara online?"
Aluna mengangguk.
Alvin membaca lagi beberapa email yang masuk dari Yuze. Di percakapan email itu tertera, kalau Yuze memasarkan beberapa unit apartemen dari perusahaan yang bekerja sama dengannya secara mandiri. Helen yang berkuasa dan dipercaya kala itu, memberikan kewenangan kepada beberapa klien agar menghubungi Yuze secara pribadi. Sontak ini dimanfaatkan Yuze untuk mengalihkan semua keuntungan dari klien tersebut ke rekening Helen yang sudah dia ambil.
"Yuze telah mengambil alih wewenang proyek pembangunan apartemen. Beberapa unit bahkan sudah berhasil dia pasarkan dan dijual secara online. Perusahaan Axe grup, pemilik apartemen itu sudah mengirimkan keuntungan lewat rekening Helen. Dan parahnya, rekening itu ada di tangan Yuze."
"Jadi rekening itu atas nama Helen tetapi dikendalikan Yuze?" tanya Alvin. Sedikit demi sedikit masalah perusahaannya mulai menemukan titik temu.
"Iya. Rupanya taktik ini dia gunakan agar para klien tidak curiga saat mentransfer uang, karena saat itu Helen masih berstatus sebagai asisten pribadi.
Helen terlalu bodoh tidak sadar kalau Yuze sudah mengubah passwordnya dan mengambil seluruh uang lewat mobile banking yang dibuat olehnya," kata Aluna.
Tanpa menunggu lama, Alvin langsung meneliti satu persatu keuangan perusahaan. Benar saja di data kantor, perusahan Axe belum mengirimkan keuntungan sesuai perjanjian investasi.
"Bagaimana langkah selanjutnya? Apa kita temui saja Yuze dan beritahu kepada Nenek kalau dia sudah mencuri uang perusahaan?" tanya Aluna.
Pertanyaan itu membuat Alvin terdiam sesaat.
"Tidak! Kita curi balik uang Yuze. Kloning seluruh aplikasi yang digunakan Helen untuk menghubungi Yuze. Jebak Yuze agar memberikan pasword data keuangannya," kata Alvin.
Aluna terlihat mengerutkan kening. Tentu saja karena dia tak paham apa maksud dari ucapan Alvin. Perempuan itu lalu duduk di depan meja berhadapan dengan Alvin. Mereka sedang serius membicarakan rencana penjebakan Yuze. Matanya terpaku melihat ke arah Alvin.
"Aku tak mengerti, bagiamana caranya?" tanya Aluna.
Kemudian Alvin berdiri lalu berjalan beberapa langkah menuju satu brankas. Tak berapa lama, ditangannya memegang satu buah ponsel yang masih dalam keadaan mati total lalu menyalakannya dan mengisinya dengan kartu seluler.
"Pakai handphone ini untuk menjebak Yuze. Kartu yang aku masukkan ke dalam adalah kartu duplikat. Kau harus berpura-pura sebagai investor yang ingin mentransfer uang. Suruh dia memberikan kode OTP yang dikirimkan pihak bank. Aku akan menyadapnya dari sini." Alvin menyerahkan satu buah ponsel kepada Aluna. Dia ingin Aluna bertindak seolah-olah sebagai klien dari perusahaannya yang ingin mengirimkan keuangan di rekening Helen. "gunakan suara yang lebih lembut agar Yuze percaya bukan kamu yang menelepon."
Aluna masih mencerna perintah Alvin. Dia sedikit tahu apa tugasnya kali ini. "Baiklah! Aku mengerti."
Tak menunggu waktu lama. Aluna langsung beranjak dan kembali ke ruang pribadinya. Di sana dia melihat Helen sedang duduk sambil mengerjakan tugas dari Alvin.
"Buatkan aku roti bakar coklat sekarang. Aku sangat lapar," kata Aluna begitu sampai di meja kerja Helen.
"Apa kamu tak lihat aku sedang sibuk!" ketus Helen mendengus kesal.
"Kamu sudah kalah taruhan. Kerjakan sekarang atau aku panggil seluruh pegawai agar mengeroyokmu!" seru Aluna mengancam. Tentu saja dia lakukan itu karena ingin meretas data di komputer Helen.
Tak mau ribut lagi di kantor. Helen akhirnya mengalah. Sambil terus menggerutu dia meninggalkan ruangan menuju ruang pantry ingin membuatkan Aluna roti bakar.
Aku pikir aku bodoh membuatkanmu roti bakar tanpa mencampurkan sesuatu. Lihat saja apa yang aku lakukan pada roti bakar pesananmu. Berani-beraninya kamu menyuruh dan mengerjaiku! Batin Helen seraya berjalan keluar.
Begitu Helen sudah menghilang di balik pintu. Aluna langsung mengambil alih komputer Helen. Dengan kemampuannya Aluna berhasil membuka pasword komputer Helen.
Baiklah aku akan kloning semua data yang sudah kamu buat, kata Aluna dalam hati. Tangannya segera bekerja cepat, tak ingin membuang kesempatan saat Helen pergi.
"Roti bakarnya sudah aku buat. Cepat makan agar tidak dingin," kata Helen. Perempuan itu menyodorkan satu piring berisi roti bakar coklat.
Aluna tersenyum lalu melihat sekilas roti tersebut. "Kamu terlalu lama membuatnya. Aku sudah kenyang barusan aku memakan roti yang aku bawa dari rumah. Daripada terbuang, bagaimana kalau kamu saja yang memakannya?"
"Tidak! Aku sudah kenyang." Helen sengaja memaksa Aluna makan, karena roti bakar yang dia buat sudah ditaburi bubuk obat pencahar.
Sayangnya Aluna sudah tahu niat busuk Helen, dari Miss K yang memberitahukannya lebih dulu. "Kau makan saja. Sayang sudah kamu bikin dengan susah payah." Aluna meraih roti tersebut lalu menyumpalnya ke mulut Helen.
"Selamat menikmati. Aku pergi dulu," kata Aluna berjalan keluar meninggalkan Helen yang sedang tersedak karena roti.
"Kurang ajar!" teriak Helen marah.
...***...
Aluna kembali ke ruangan Alvin dengan membawa semua data Helen yang berhasil dia kloning. Saat itu juga mereka langsung bekerja, membuka satu persatu aplikasi yang terhubung dengan Yuze.
"Ini adalah aplikasi yang digunakan Helen untuk menghubungi Yuze. Aku akan memancingnya agar menghubungi nomer yang sudah aku terapkan pada ponsel ini. Tugasmu adalah bersiap menerima telepon dari Yuze, memancingnya agar memberikan kode OTP," kata Alvin.
Tangan Alvin masih sibuk mengirimkan pesan kepada Yuze, lewat aplikasi Helen yang berhasil Aluna duplikat. Alvin sedang memancing Yuze agar menelepon nomor klien palsu yang sudah dia pasangkan di ponsel tadi. Beruntung saat itu Yuze dalam keadaan online.
Tak ada lima menit Yuze langsung membalas pesan yang dikirimkan Alvin. Yuze tidak sadar kalau bukan Helen yang mengirimkan pesan, dia tidak sadar kalau Aluna sudah menduplikat aplikasi chat pribadi Helen. Respon Yuze sangat cepat dan langsung menghubungi nomor yang Alvin kirimkan.
"Alvin, Yuze meneleponku," kata Aluna girang karena strategi Alvin berjalan lancar.
"Angkat telepon itu. Bilang kepada Yuze kalau kamu akan mengirimkan uang senilai seratus miliar. Bilang kepadanya juga kalau uang itu tak akan sampai kalau dia tak memberikan kode OTP yang sudah terkirim di pesan teks di ponselnya. Aku akan menyadap rekeningnya dari sini," kata Alvin memberi perintah.
Sesuai petunjuk Alvin. Aluna memulai aksinya berpura-pura sebagai klien yang akan mengirimkan uang. Aluna merubah suaranya menjadi sedikit lembut. Beruntungnya, Yuze tak sadar kalau sebenarnya itu adalah suara Aluna.
Sementara di sebelah Aluna. Alvin sibuk di depan layar komputer. Alvin tahu semua data dan kartu milik keluarga besarnya. Nomor di depan kartu sampai tanggal pembuatannya. Alvin duduk di sebelah, menguping pembicaraan Aluna di telepon sambil bersiap menyadap kode yang akan diberikan Yuze. Kode tersebut adalah kode yang bisa menarik seluruh saldo di rekening Yuze, tentunya Alvin menggunakan keahliannya yang dulu sebagai seorang hacker.
"Tuan Yu Zeliang, agar transaksi ini berhasil. Tolong berikan kode OTP yang sudah masuk di handphone Anda sekarang, kalau tidak uangnya hanya sampai beberapa juta saja," kata Aluna di telepon mendesak Yuze.
Di tempat lain. Yuze yang kegirangan dan terlampau senang karena akan diberikan uang miliaran. Tidak sadar kalau permintaan Aluna adalah sebuah jebakan. Tanpa rasa curiga, dia langsung memberitahukan kode OTP tersebut kepada Aluna. Yuze tidak sadar kalau kode tersebut tidak boleh diberitahukan ke sembarang orang.
"Baiklah, Tuan Yu Zeliang. Aku telah berhasil mengirimkan uang senilai seratus miliar langsung ke rekening Anda. Setelah telepon ini terputus, aku akan mengirimkan bukti transaksinya. Terima kasih, selamat siang," kata Aluna lalu menutup teleponnya.
Alvin sangat puas dengan cara kerja Aluna. Setelah kode itu dia masukan. Alvin berhasil meretas dan menarik seluruh saldo di rekening Yuze yang bernilai lebih dari seratus miliar. Bukannya untung, Yuze malah buntung karena sudah ditipu Alvin.
"Kamu hebat! Kita berhasil menarik semua uang Yuze, bahkan nilainya lebih dari yang dia ambil dari perusahaanku. Setelah ini aku yakin Yuze akan menangis darah saat mengetahui dia telah ditipu balik," kata Alvin menunjukkan nominal di komputernya kepada Aluna.
"Ha ... ha ... aku tak menyangka cara kita berhasil secepat ini." Aluna sampai tertawa karena saking senangnya berhasil menipu Yuze.
"Terima kasih Luna sudah membantuku. Kamu sangat hebat dan dapat diandalkan," kata Alvin tersenyum puas.
Di saat seperti itu tiba-tiba saja Aluna mencium pipi Alvin tanpa rasa malu.
Cup.
"Kamu juga sangat hebat. Senang bekerja sama denganmu, Alvin," bisik Aluna.