
Diperjalanan menuju rumah Hideon, Aluna yang masih berada di dalam mobil tak sengaja melihat Lily dan Yuze. Sedang duduk di sebuah restoran yang terbuka, menikmati makan malamnya.
"Bisa-bisanya kalian bisa makan dengan tenang setelah menculik Zero. Aku tidak bisa membiarkan mereka lepas begitu saja," kata Aluna bermonolog.
Aluna turun dari dalam mobil, berjalan menuju restoran dan memesan secangkir minuman di sana. Saat akan duduk, Aluna berjalan sengaja melewati Lily dan Yuze.
"Senang bertemu lagi dengan kalian berdua," kata Aluna saat berjalan melewati keduanya.
Lily dan Yuze terlihat tercengang, langsung tertegun. Saking kagetnya, Lily sampai meminum habis kopi di depannya.
"Lu-luna!"
"Aku tidak menyangka bisa bertemu di sini, yah," kata Yuze. Terlihat sekali kalau dia juga ketakutan.
"Kakak, bagaimana kabar Zero. Dia sudah pulang 'kan. Syukurlah, Zero bisa selamat. Maafkan kami yang telah lengah menjaganya, Kak," kata Lily. Berusaha sok baik dan sok merasa bersalah kepada Aluna.
"Zero baik-baik saja," jawab Aluna. Dia tersenyum, namun terlihat sangat sinis, "Zero akan lebih baik-baik saja kalau kalian menyingkir dari kehidupannya selamanya!"
"Menyingkir?"
"Yah, bila perlu selamanya. Kalian tahu, aku sudah melaporkan kalian ke Polisi. Semoga kalian betah di dalam penjara," kata Aluna tersenyum puas.
Yuze yang mendengar itu langsung membuang napas kasar. Dia tak mungkin salah dengar kalau Aluna mengatakan mereka harus dipenjara.
"Kakak, sepertinya sedang tidak enak badan. Makanya bicaranya ngawur," kata Lily berbasa-basi.
"Tidak, tidak! Aku berkata serius. Bahkan karena saking seriusnya, aku sudah mendatangkan pihak kepolisian untuk menangkap kalian sekarang."
Aluna menunjukkan nomor kepolisian di depan mata Lily dan Yuze. Dia tersenyum menang, karena dua musuhnya sebentar lagi akan disingkirkan.
"Kakak, jangan bercanda! Kami bukanlah buronan, mungkin kakak terlalu depresi, butuh istirahat karena terlalu banyak memikirkan kehilangan Zero tadi."
Lily sudah mencium gelagat yang tidak beres. Perasaannya mulai tak enak. Sampai-sampai dia berkeringat di cuaca dingin seperti sekarang. Yuze pun tak jauh beda. Namun, keduanya masih berusaha tetap santai.
"Hai! Lihatlah ke belakang. Kalau kalian tidak percaya!"
Lily dan Yuze menengok ke belakang, terlihat dua orang polisi sudah berdiri di belakang mereka. Kedua polisi itu tanpa basa-basi menangkap keduanya.
"Lepas! Aku tidak bersalah! Kalian salah tangkap orang!" seru Yuze, berusaha berontak ketika polisi hendak melingkarkan borgol di tangan Yuze.
Dibandingkan Yuze, Lily lebih mudah. Ketika borgol sudah melingkar di tangan Lily, Yuze malah berlari. Sangat kencang sampai membuat seorang polisi tadi mengejarnya.
"Berhenti atau kami tembak!" teriak seorang polisi menembakkan pistolnya ke udara, sebagai peringatan agar Yuze menyerahkan diri.
"Kakak, lepaskan kami!" kata Lily memohon.
Aluna tersenyum lagi, memegang pipi Lily sebelum diangkut ke mobil polisi. "Kamu diciptakan sebagai seorang penjahat. Licik dan tidak memiliki perasaan. Tempatmu yang tepat adalah di penjara."
Untuk menangkap Yuze bukanlah hal yang sulit bagi polisi. Di menit saat dia berusaha kabur dan menghiraukan tembakan peringatan tadi, Polisi telah melumpuhkan kaki Yuze dengan menembakkan timah panas tepat di betis.
"Kak Luna, Tolong lepaskan. Kami tidak bersalah!" ucap Yuze meminta tolong.
Aluna mendekati Yuze, melihat dia dengan jarak sangat dekat. "Kamu juga diciptakan sebagai seorang penjahat di cerita ini. Tempat untuk menebus kesalahanmu adalah di Penjara."
Lily dan Yuze digelandang masuk ke dalam mobil Polisi. Keduanya terlihat sangat sedih dan merasa bersalah. Berteriak kepada Aluna untuk melepaskan mereka, namun tetap saja wanita itu tak peduli.
Aluna berjalan lagi menuju mobilnya. Menyalakan mesin dan kembali mengendarainya. Untuk sementara, dia akan pulang ke rumah Hideon. Petunjuk sistem mengatakan, ada sebagian naskah yang dibuat Arabella di rumah itu. Dan dia harus segera mendapatkannya, sebelum ingatan Ara tentang naskah itu kembali.
***
"Luna!" Mona terlihat kaget begitu melihat Aluna datang ke rumah sendirian, hampir tengah malam.
"Di mana Helen? Aku ingin bertemu dengannya sekarang," kata Aluna. Tampangnya sangat serius, tak ada kebencian di dalam sorot matanya kini kepada Mona, karena dia sudah menyadari kalau semua yang ada di dekatnya hanyalah karakter fiksi buatan Arabella.
"Helen ada di kamarnya. Kenapa kamu tiba-tiba ke sini malam begini? Kamu sudah gila ya?" tanya Mona, terlhat sinis seperti biasanya.
Aluna mengamati lekat wajah Mona. Dia mulai sadar kalau wajah Mona sangat mirip dengan orang yang melahirkan Arabella. Mungkin adiknya sedang menempatkan kekecewaannya sebagai seorang adik tiri.
Arabella dan ibu kandungnya telah salah paham. Padahal sudah jelas kalau Aluna sengaja diangkat anak oleh ayah kandung Arabella sendiri saat dia berusia lima tahun, di saat Arabella akan lahir ke dunia. Arabella tidak tahu cerita sebenarnya, hanya melihat dari sudut pandang di buku harian ibunya saat masih hidup.
"Yah, aku sudah gila. Aku ingin bertemu dengan Helen sekarang," kata Aluna.
"Tapi ini sudah malam!"
"Aku tak peduli!"
"Aluna!"
Pintu Helen buka. Dia melihat Aluna berdiri di depan pintu kamar. Menatap Helen lekat.
"Apa kamu ingat dengan kertas ini?" tanya Aluna sambil menunjukkan beberapa lembar buku harian Luna. Ada satu lembar berwarna kecoklatan, warnanya berbeda dengan lembar lainnya yang berwarna biru. Warna biru jelas adalah sobekan buku harian Luna, sementara yang warna kecoklatan adalah sobekan naskah novel yang dibuat Arabella.
"Kertas ini? A-aku, ti-tidak ingat!" Helen menjawabnya dengan terbata.
"Aku tidak yakin kamu tidak tahu! Katakan kamu menaruh lembaran lainnya di mana?" tanya Aluna lagi.
Mata Helen membulat. Yah memang benar, dia pernah melihat beberapa lembar kertas usang itu. Tepatnya beberapa bulan yang lalu dan dia telah membuangnya ketika kamar dibersihkan.
"Luna bisakah kamu pergi! Kamu mengganggu waktu istirahat kami!" Mona membentak Aluna mencoba mengusirnya.
Namun, sebelum dia berani mendorong Aluna keluar. Aluna telah lebih menangkap tangan Mona, mencengkeramnya kencang sampai tidak berkutik. Di sinilah Aluna nampak sangat kuat. Bahkan tenaganya bisa keluar sepuluh kali lipat dari biasanya.
"Kamu diam! Atau aku habisi!"
"Luna, kamu seperti monster!" kata Mona ketakutan. Tangannya terlihat memerah, dan langsung berlari kabur menjauh.
Aluna melihat sekilas Mona, kemudian beralih melihat kembali Helen. Dengan tatapan yang tajam. "Katakan di mana kamu menyimpan sebagian kertas ini?"
Helen mundur, baru kali ini dia ketakutan melihat Aluna. Helen mulai percaya sekarang semua yang dikatakan Lisa padanya tadi di kafe. Wanita itu malah melihat kalung giok yang melingkar di leher Aluna.
"Kertas itu sudah dibuang pelayan beberapa bulan yang lalu. Kertas apa itu? Kenapa kamu mencarinya?" teriak Helen, "aku tahu kamu bukanlah Luna!"
"Kamu adalah makhluk asing dari dunia lain. Siapa kamu? Berani sekali kamu masuk pada tubuh Luna dan mengambil Alvin dariku!" bentak Helen lagi.
Aluna tersenyum. Dari sorot mata Helen, dia tahu wanita itu tak berbohong. Sekarang yang dia lakukan selanjutnya adalah menanyakan kepada asisten rumah tangga di rumah itu.
"Aku Aluna, terima kasih atas jawabannya," kata Aluna sambil tersenyum.
Saat itu juga dia berbalik badan dan bergegas pergi dari tempat itu. Meninggalkan Helen yang sudah dipenuhi berbagai pertanyaan di otaknya.
Aluna baru beberapa langkah pergi, Helen menyusul mengikutinya cepat. Setelah dekat, dia berusaha menarik kalung yang dipakai Aluna dari belakang. Namun gerakan tersebut Aluna rasakan. Belum Helen berhasil menariknya, wanita itu lebih dulu menangkisnya.
"Arghhtt! Sakit! Kamu sudah menyakitiku, Luna!"
Tangkisan akibat tangan Aluna barusan, membuat tangan Helen sampai lebam dan memerah. Aluna lebih agresif dan sensitif dari biasanya.
"Kamu tidak akan bisa mengambil kalung ini Helen! Kalung ini adalah pemberian ibu kandungku," kata Aluna tersenyum.
Helen merasa sakit yang teramat dahsyat di tangannya. Sangat panas padahal hanya dipukul sekali. Di saat Aluna hendak memberi peringatan lagi, Helen langsung mundur dan berlari ketakutan menuku kamar. Menutup rapat pintu kamarnya.
"Miss K, di mana naskah itu berada? Aku sudah ada di rumah Hideon sekarang!"
Aluna menepuk kalung sistem. Tidak lama, sensor merah di kalung giok menyala.
[Gudang lantai atas, tanyakan saja kepada beberapa asisten rumah tangga, di mana tempat itu.]
Aluna tersenyum. Tidak terlalu susah kali ini mendapatkan arahan dari sistem. Tadi saja, Aluna sudah menukar seluruh tas saran yang tersisa dengan kekuatan yang tak tertandingi.
***
"Aluna," panggil seorang lelaki di depan pintu sebuah gudang.
Dia melihat di sana, Aluna sedang duduk di lantai, di bawah cahaya lampu. Terlihat peluh memenuhi wajah Aluna. Dia tak pedulikan keringat yang sudah mengalir deras di tubuhnya. Mencari dan terus mencari beberapa potongan naskah di sana. Kalau sudah dia dapatkan, sistem akan mengantarkannya ke dunia untuk membuat ending di novel itu menjadi romantis.
"Luna, kenapa kamu diam saja?" panggil Alvin lagi.
Aluna melihat Alvin sekilas, menghiraukan lelaki itu yang sedang berjalan mendekat ke arahnya. Tak pedulikan dia siapa. Yang jelas tujuan Aluna sekarang adalah mendapatkan naskah itu.
"Aluna tempat ini sangat panas. Apa yang sedang kamu cari?"
Aluna masih tak peduli. Tangannya sibuk meraih memisahkan kertas demi kertas setelah membacanya.
"Apa kamu perlu bantuan?"
Alvin ikut mendudukkan diri di lantai di sebelah Aluna. Alvin merapihkan rambut Aluna yang berantakan. Kemudian mengambil sapu tangan dan mengusapkan lembut di dahi Aluna. Membersihkan keringat dan kotoran di wajah Aluna dengan telaten, "Wajahmu kotor dan berkeringat Luna. Aku suamimu, biarkan aku saja yang mencarinya."
Kata-kata Alvin membuat Aluna tersentak. Dia Alvin, tokoh virtual di novel ini. Baru sekali sentuhan, tapi mampu membuat Aluna langsung diam dan menghentikan aktivitasnya. Alvin sangat mencintai Aluna, dan dia sadar kalau lelaki itu ... adalah suaminya sekarang.