
"Jangan dekati aku! Atau aku akan membunuh kalian!" teriak Aluna begitu mengintimidasi.
Lari dari kawanan serigala adalah hal yang sia-sia. Sekali pun Aluna berlari sekuat mungkin, insting pemburu serigala sangat kuat dan cepat, mereka akan dengan mudah menerkam Aluna saat berlari kabur.
Aluna pernah membaca beberapa cerita tentang serigala. Yang dua tahu, dia tak boleh takut dan harus terlihat lebih kuat dari hewan predator tersebut. Dengan insting keberaniannya, Aluna melakukan kontak mata dengan serigala, menatap tajam seolah menantang hewan buas tersebut seakan mengatakan, kalau dia bukanlah sasaran yang lemah.
"Maju, atau aku lempar kalian dengan batu besar ini," kata Aluna menyeringai menunjukkan sederet giginya mengancam serigala. Aluna sudah mengangkat tinggi-tinggi batu besar di kedua tangannya.
Dua serigala masih terpaku di tempat. Meskipun dia hewan buas, melihat Aluna mengancam dengan batu membuatnya enggan mendekati tapi tidak menjauh.
"Peluk aku, Zero," kata Alvin pelan di atas pohon. Ternyata dalam kondisi terdesak Alvin langsung bisa memanjat pohon walaupun baru kali pertama.
"Zero, buka matamu. Apa kau baik-baik saja?"
Mendengar suara manusia, Zero memberanikan diri membuka mata. Awalnya Zero melihat samar-samar wajah Alvin. Beberapa detik kemudian, barulah Zero bisa melihat dengan jelas wajah Alvin.
"Apa aku sudah selamat, Paman?" tanya Zero polos.
Alvin tak dapat membendung air matanya, detik itu juga dia langsung memeluk bocah kecil tersebut sambil terus menitikkan air mata. Alvin tak menyangka akhirnya dia bisa memeluk darah dagingnya langsung.
"Ayo kita turun, aku akan melindungimu," kata Alvin.
Zero membiarkan tubuhnya dalam dekapan Alvin. Namun, masalah besarnya kali ini adalah bagaimana mereka bisa turun dan mengusir dua serigala itu di bawah.
"Luna," ucap Alvin. Dia mulai menyadari sekarang tinggal Aluna yang dalam bahaya.
"Jangan turun dulu, tetap di atas dan selamatkan anak kita," jawab Aluna.
Aluna mengambil batu besar, hendak mengarahkannya ke salah satu serigala. Sayangnya serigala itu tak sendiri, sekarang dua kawanan lainnya ikut datang.
Gawat, jumlah mereka semakin banyak, batin Aluna.
Dalam kondisi terdesak, tiba-tiba pikiran cerdik Alvin langsung berfungsi. Sebelum kawanan serigala tersebut menyerang, Alvin mematahkan kayu-kayu yang kering, mengumpulkannya menjadi satu lalu membakarnya dengan korek api yang dia bawa di saku.
"Tunggu di sini, Zero," kata Alvin sambil melepaskan dekapannya.
Lelaki itu langsung turun sambil membawa kayu yang sudah dibakar, mengarahkannya langsung ke kawanan serigala.
"Pergi!" teriak Alvin keras. Entah mengapa, Alvin mendadak menjadi lelaki yang sangat pemberani, "jangan mendekat! Atau aku akan membakar kalian dengan api ini!"
Kawanan serigala ketakutan tak berani mendekat, ketika Alvin mengarahkan api di depan mereka. Aluna dengan cepat mengambil Zero dan menurunkannya dari atas pohon. Aluna mendekap Zero, memeluk bocah tersebut sambil berjalan berdampingan dengan Alvin menuju helikopter.
"Cepat naik," kata Aluna setelah dia dan Zero ketika sudah di dalam helikopter, "kita harus cepat pergi sebelum apinya padam."
***
Di lapangan pedesaan, Yuze masih berdiri menunggu helikopter yang dipinjam Aluna. Sambil menunggu, dia menyempatkan diri menghubungi Clara dan Lily. Dia mengatakan kepada Clara kalau Alvin ikut masuk ke hutan bersama Aluna.
Clara di rumah langsung khawatir mendengar Alvin masuk ke hutan. Clara sangat takut, sesuatu akan terjadi pada putra tunggalnya itu. Jangankan masuk ke dalam hutan, menginjakkan kaki ke tempat kotor saja Alvin akan sakit.
^^^"Cepat susul Alvin, jangan biarkan dia mengikuti Luna. Kalau pun anak tersebut berhasil ditemukan, kami akan menolaknya. Dia tak bisa dibawa ke rumah karena akan mempengaruhi reputasi keluarga kita. Tolong susul Alvin, Yuze. Bawa anakku pulang sekarang," jawab Clara di telepon.^^^
"Baik, Bibi. Aku akan menyusul Alvin. Aku juga tak akan membiarkan Alvin terus mengikuti wanita ular seperti Luna, wanita itu benar-benar memberikan pengaruh buruk dalam keluarga kita."
Setelah telepon dengan Clara terputus, Yuze juga tak lupa memberitahukan Lily. Di telepon ketika berbicara dengan Lily, Yuze terus menyumpahi agar Alvin bersama Aluna tak akan kembali, dia berharap Alvin akan mati dimakan binatang buas, karena hal itu dia akan lebih mudah menjadi ahli waris utama.
"Ha, ha, bodoh sekali Alvin! Dia benar-benar mengumpankan dirinya sendiri," kata Yuze sambil tertawa.
Awalnya Yuze terlihat sumringah dan bahagia karena dia pikir Aluna tak akan kembali. Namun, ketika dia masih berbicara dengan Lily di telepon. Dari tempatnya berdiri, dia mendengar deru suara baling-baling helikopter yang sangat keras. Dari suaranya yang semakin keras, sudah dipastikan helikopter itu tak jauh.
"Tunggu, Lily. Sebaiknya aku matikan dulu teleponnya," kata Yuze tercengang. Dia melihat dari jauh badan helikopter yang terbang semakin mendekat.
Yuze langsung bengong di tempat, apalagi ketika helikopter tersebut mendarat mulus di depannya. Dan lebih mencengangkan lagi, saat Yuze melihat Alvin bersama Aluna turun sambil menggendong seorang anak kecil yang wajahnya sangat mirip sekali dengan Alvin.
"Kakak, apa anak ini ...." Yuze tak bisa berkata-kata, saat dia melihat saksama wajah Zero.
Anak itu, dia sangat mirip sekali dengan Alvin saat kecil. Yah, hampir saja tak ada satu pun perbedaan. Anak itu seperti salinan Alvin kecil, batin Yuze.
Aluna dan Alvin tak menjawab, dia malah terus berjalan menuju mobilnya. Helikopter milik Yuze mengalami kerusakan dan tak bisa lagi diterbangkan dalam jarak jauh apalagi untuk perjalanan ke rumah. Alvin segera mengajak Aluna, ke tempat pesawat miliknya.
"Apa dia anak kakak ipar?" tanya Yuze lagi.
Pertanyaan Yuze Aluna acuhkan. Dari kecil Alvin dan Yuze tumbuh bersama-sama, lelaki itu akhirnya percaya kalau Zero memang anak kandung Alvin, tanpa perlu melakukan tes DNA, karena wajahnya benar-benar mirip hampir 90 persen.
Bodoh! Ternyata anak itu benar-benar anak Alvin. Kalau tahu begitu, harusnya aku membunuhnya dahulu, batin Yuze terlihat kesal.
"Terima kasih Yuze sudah meminjamkan helikoptermu, maaf tadi aku tak sengaja merusaknya, aku akan ganti rugi nanti setelah sampai," kata Aluna memasuki mobil masih terus memeluk Zero.
"Kakak, anak ini tak bisa dibawa pulang. Bibi tak memperbolehkannya masuk ke rumah kita," kata Yuze mengetuk kaca mobil, sebelum mobil melaju.
"Asisten Jo, cepat jalan," perintah Alvin kepada sopirnya. Dia langsung menutup rapat kaca jendela mobil, menghiraukan Yuze.
Di kursi tengah, Alvin memeluk Aluna dan Zero. Alvin sangat lega, karena bisa selamat dalam bahaya, dan yang lebih membahagiakan dia sudah menemukan putranya.
"Maafkan aku, Zero," kata Alvin terus memeluk anak itu.
Zero masih diam, dia masih pasrah ketika dirinya dipeluk bergantian oleh Aluna dan Alvin. Anak lelaki itu belum menyadari kedua orang dewasa itu adalah orang tuanya.
"Paman, Bibi, kenapa kalian menangis sambil memelukku?" tanya Zero polos.
"Panggil aku 'Mamah', aku adalah ibu kandungmu," kata Aluna masih mendekap Zero erat. Tangannya masih gemetar, dia begitu bahagia ketika memeluk bocah kecil itu. "dan panggil paman ini, 'Papa', karena dia adalah ayah kandungmu."
"Apa itu ibu kandung? Apa kalian adalah orang tua asuhku yang baru?"