
Aluna berpamitan pergi ke toilet. Dia meninggalkan Alvin yang sedang berbicara dengan pegawainya di ruangan. Tentu saja Aluna hendak menukar tas saran yang didapatkannya, dengan kemampuan sebagai asisten.
[0%]
[10% ... 30% ....]
[ ... 60% ... 90%....]
[100%]
Sensor di kalung sistem berkedip terang.
...[Sempurna! Selamat Anda sudah berhasil memiliki kemampuan sebagai seorang sekretaris. Pergunakan kemampuan Anda sebaik mungkin, Nona.]...
Sepuluh menit berlalu. Sistem telah berhasil memasangkan keahlian di tubuh Aluna. Seperti biasanya, setiap kali selesai memasang skill di tubuhnya, kepala Aluna mendadak pusing. Aluna berjalan ke luar dari toilet dengan gerakan terseok-seok, hampir ambruk.
"Sepertinya aku harus menyetok obat sakit kepala," gumam Aluna seraya memegangi kepala. Kakinya pun dia seret agar kuat berdiri.
Namun,
Brug!
Tetap saja Aluna tak dapat menyeimbangkan tubuhnya. Dia pun akhirnya tumbang. Matanya masih berkunang-kunang dan terduduk di lantai depan ruangan Alvin.
Selang beberapa detik kemudian, dari dalam ruangan, Alvin dan pegawainya hendak berjalan keluar ruangan. Mereka berjalan sambil terus membicarakan urusan pekerjaan.
"Urus semuanya, aku tidak ingin ada fasilitas lagi yang disalahgunakan," ucap Alvin kepada pegawainya.
"Baik, Tuan!"
Kriet.
Baru saja membuka pintu, tepat dihadapannya, Alvin melihat Aluna ambruk di lantai. Sontak, membuat Alvin terkaget. "Luna!" seru Alvin, "kenapa dengan dirimu? Apa kamu sakit?" tanyanya lagi sambil menyentuh kening dan pipi Aluna.
"Ah' tidak, tidak! Aku tidak sakit!" Dengan bantuan Alvin, Aluna yang tidak mau diragukan, tubuhnya ia paksa berdiri, "aku baik-baik saja. Aku tidak sengaja terjatuh. Barusan kakiku tersandung."
"Benarkah! Apa kamu tidak sedang berbohong?" tanya Alvin.
"Tentu saja." Aluna tersenyum menunjukan sederet gigi putihnya.
"Syukurlah," ucap Alvin lega.
Melihat istri bosnya baik-baik saja, pegawai yang barusan bersama Alvin, berpamitan meninggalkan mereka.
"Alvin!" panggil Aluna.
"Ya. Kalau lelah, sebaiknya kamu pulang dan beristirahat saja, Luna," kata Alvin.
"Lalu?"
"Aku sudah siap mengerjakan apa yang kamu perintahkan. Tadi kamu menyuruhku membuat laporan, bukan?" kata Aluna dengan percaya diri.
Melihat kegigihannya, sepertinya Luna benar-benar ingin mendapatkan posisi itu. Tetapi, aku masih tidak tega. Batin Alvin.
"Aku bisa menyelesaikan hari ini. Sekarang katakan padaku, laporan mengenai apa yang harus aku buat?" tanya Aluna dengan percaya diri.
Mendengarnya Alvin terkekeh. "Em ... baiklah! Tapi, kamu tak perlu melakukannya sekarang. Luna, pulanglah!"
"Ta-tapi!" Aluna kembali menunjukan wajah kecewanya. Dia tidak akan pulang sebelum Alvin menjadikannya asisten.
"Tentu saja aku setuju. Selamat Nyonya Luna. Aku sudah menerimamu sebagai asisten--"
Mata Aluna berbinar.
"Asisten pribadi yang mengurus kebutuhan pribadiku." Alvin menyambung lagi ucapannya. "Datanglah besok pagi dan jangan telat!"
Awalnya Aluna merasa senang ketika Alvin sudah menerimanya menjadi asisten pribadi. Namun, ketika dia menelaah lagi kata-kata Alvin yang menyebutkan kalau dia hanya mengurus keperluan pribadi, Aluna merasakan ada yang aneh, begitu juga dengan pemikitan sistem.
"Keperluan pribadi?!"
Alvin mengangguk. Lelaki itu merasa, kalau dia hanya membutuhkan Aluna untuk mengurusi kebutuhan sehari-harinya saja, baik itu di rumah mau pun di kantor. Dia tak ingin memberatkan beban Aluna. Alvin sengaja memberikan posisi baru terhadap Aluna supaya istrinya itu merasa senang, dan memiliki karir agar tidak dihina keluarganya lagi.
"Baiklah, aku tidak masalah!" seru Aluna. Meskipun tidak sesuai yang diharapkan, baginya selama sistem tidak protes, dia akan mengiyakan perintah Alvin.
"Kamu tidak perlu mengurusi pekerjaan kantor. Kamu hanya perlu mengurusi kebutuhan sehari-hariku saja, Luna. Seperti, memilihkan baju, menemaniku makan dan kebutuhan pribadi lainnya. Termasuk ...." Alvin kembali melirik Aluna sambil tersenyum.
"Termasuk apa?" Aluna berpikir keras.
"Kamu akan tahu nanti, Luna!"
"Baiklah, aku setuju!" Aluna tersenyum sambil menyalami tangan Alvin tanda sepakat.
Walaupun tak paham sepenuhnya, Aluna mengerti apa maksud ucapan Alvin, tetapi tidak dengan kata-kata terakhirnya. "Apa kamu yakin, aku tidak harus mengurusi urusan perusahaanmu?" tanya Aluna memastikan.
Alvin balas mengangguk.
"Aku yakin kamu akan menyesal, kalau tidak meminta bantuanku, Alvin."
Alvin tersenyum simpul. "Memangnya keahlian apa yang kamu kuasai?"
"Aku tidak bercanda!" Aluna menarik tangan Alvin dan berbisik di telinganya. "Aku menguasai pergerakan naik turunnya saham di pasar nasional ... dan aku juga memiliki sistem yang bisa membuat perusahanmu untung dan kaya. Berkerja samalah denganku."