TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Menunggu Pertukaran Tubuh


"Lancang sekali ucapanmu!" bentak Helen, "aku yakin beberapa hari lagi, Alvin akan memanggilku bekerja, lihat saja nanti!"


Aluna tak memperdulikan ucapan Helen. Dia terus menarik kopernya menaiki tangga, hendak menuju lantai dua kamar Luna. Di dalam hatinya dia tak peduli dengan ucapan Helen yang dianggapnya seperti angin.


...***...


Pukul 00.30


Aluna masih membuka lebar matanya. Dari tadi pikirannya selalu memikirkan Ara. Sudah beberapa kali wanita itu membuka pintu, dan berjalan bolak balik ke arah balkon. Kebetulan balkon kamar Luna dan Helen hanya berjarak dua ruangan yang terpisah.


"Lampunya sudah padam, berarti dia sudah tidur," gumam Aluna.


Sudah hampir tiga jam Aluna menunggu di depan balkon menunggu lampu kamar Helen mati, yang menandakan kalau gadis itu sudah tidur. Aluna tampak senang karena lampu itu akhirnya padam juga.


Kalau dia sudah tidur bisa jadi mereka sudah bertukar tubuh? Kalau iya, aku harus membangunkannya sekarang. Ini adalah kesempatanku untuk bertemu Ara. Aluna terus membatin di dalam hati. Dia tak sabar bertemu dengan Ara.


"Aha!"


Timbullah ide gila di pikiran Aluna. Ya, ide gila itu adalah dia harus merayap melewati dinding luar dua ruangan itu untuk sampai balkon kamar Helen. Karena dengan cara itu Aluna bisa membangunkan Helen yang sudah bertukar dengan Ara.


Dengan keberanian dan modal nekat, Aluna mulai memanjat balkon. Untungnya sisi tembok ruangan itu terdapat dua garis yang menyembul dan bisa digunakan Aluna untuk berjalan melewatinya. Dengan sangat hati-hati Aluna melangkahkan kakinya ke samping menuju kamar Helen.


Jangan lihat ke bawah Aluna, ini semua demi Ara,' batin Aluna menguatkan dirinya agar tak melihat ke bawah karena dia berada di atas lantai dua.


Tangannya dengan kuat memegang sisi tembok yang menyembul. Tentu saja ini hanya bisa dilakukan oleh orang yang terlatih, kalau tidak sudah pasti orang itu akan terjatuh ke lantai satu karena tak kuat memegang sisi tembok.


Lima menit kemudian.


"Huh! Akhirnya sampai juga," kata Aluna pada dirinya sendiri sembari mengembuskan kasar napasnya.


Ya, dia telah berhasil melewati dinding dua ruangan itu dengan aman. Tanpa menunggu waktu lama lagi, Aluna mendekatkan dirinya ke sisi jendela kamar Helen. Dia sedang berusaha mencongkel kamar agar bisa memasukinya.


Namun, belum berhasil mencongkel jendela kamarnya. Aluna dibuat kaget oleh kemunculan wanita dengan wajah putih yang ada di dalam. Karena ruangan itu sudah gelap, wajah putih itu terlihat sangat jelas dari luar.


"Ah ...." Aluna menutup mulutnya dengan telapak tangan. Dia hampir saja berteriak, karena merasa kaget wanita dengan wajah putih itu semakin mendekat. Saking kagetnya, Aluna sampai menyenggol pot bunga di sebelahnya.


Prank!


"Kurang ajar! Siapa di situ?" teriak Helen dari dalam. Ya, rupanya wanita berwajah putih itu adalah Helen yang sedang menggunakan masker wajah.


Ternyata Helen belum tidur, gerutu Aluna.


Secepat kilat Aluna langsung berlari mencari tempat perlindungan karena Helen semakin maju berjalan ke luar, mencari siapa yang memecahkan pot bunganya.


Helen yang emosi lalu membuka pintu kamarnya dengan kasar, pandangannya langsung berkeliling mencari siapa yang memecahkan pot bunga di balkonnya. Dia berpikir ada orang yang sedang mengintipnya dari luar.


Tidak ada orang di sini! Lalu siapa yang memecahkan pot ini. Heum ... kemungkinan kucing yang menyenggolnya, ucap Helen dalam hati.


Sial, ternyata Helen belum tidur! Percuma saja aku ke mari. Batin Aluna kesal.


...***...


Pukul 07.00


Karena pengintaiannya tak membuahkan hasil, Aluna yang mengantuk, setelah sampai kamar memutuskan untuk tidur dan menemui Ara pagi saja.


Alarm ke tujuh berhasil membangunkan Aluna yang kelelahan akibat semalam. Dirinya yang baru membuka mata, begitu kaget ketika mengetahui waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.


"Sudah jam tujuh. Aku harus cepat menemui Ara." Belum mencuci muka Aluna bergegas menuju kamar Helen.


Sayangnya Helen sudah tidak ada di kamarnya. Aluna mencoba mencari ke sekeliling pun tak ada. "Pelayan, di mana Helen sekarang?" tanyanya pada seorang pelayan wanita.


"Nona Helen sedang sarapan pagi bersama Tuan dan Nyonya. Nona juga di suruh turun untuk sarapan," kata pelayan itu.


"Terima kasih," balas Aluna. Sudah tak sabaran, Aluna menuruni anak tangga hendak menuju ruang makan.


Benar saja, di sana sudah ada Mona, Hideon dan Helen yang sudah duduk di kursi masing-masing. Mereka begitu terkesiap melihat kedatangan Aluna yang masih mengenakan pakaian tidur. Bahkan wajah Aluna terlihat berantakan karena belum cuci muka, bekas liurnya pun masih terlihat membentuk garis di sebelah bibirnya.


"Luna! Lihatlah wajahmu, apa kamu tidak bercermin? Jorok! Apa kamu sudah biasa seperti itu ketika berada di rumah Alvin? Kalau iya benar-benar memalukan," kata Mona. Pagi-pagi dia sudah mulai memanasi Hideon.


Namun, perkataan Mona tak dipedulikan Aluna. Dia fokus memperhatikan ekspresi wajah Helen. Apa sudah ada perubahan atau belum, pikir Aluna.


"Mungkin Luna takut tidak bisa sarapan pagi denganku," jawab Hideon tak terpengaruh, "Luna, sebaiknya kamu mandi dulu, Nak. Setelah itu baru sarapan pagi. Ayah akan menunggumu di meja makan." Hideon masih berusaha tetap tenang.


Sebenarnya dia Helen atau Ara si? Kenapa sarapannya roti? Kalau Ara pasti tidak akan mau, batin Aluna terus memperhatikan Helen.


"Ya, Ayah."


Aluna merasa kecewa. Dengan tidak bersemangat Aluna hendak berbalik dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Dia merasa kalau Helen belom bertukar tubuh, karena menu sarapan pagi yang ada di meja bukan selera Ara sama sekali.


"Semoga Luna bisa membawa diri di keluarga Alvin dan tidak mempermalukan kita karena kebiasaan buruknya," ucap Mona, "Nak, kenapa kamu diam saja? Kenapa tak makan rotinya?" tanya Mona kepada Helen yang dari tadi diam saja memandangi roti di atas piringnya.


"Mommy, sepertinya sarapan roti pagi ini tak mengenyangkan. Aku ingin mi goreng dan ayam goreng seperti kemarin," kata Helen.


Baru beberapa langkah berjalan, Aluna yang mendengar perkataan Helen langsung diam dan berpikir cepat. Dia sangat kaget begitu mendengar kalau Helen ingin memakan mi goreng dan ayam goreng. Jelas, itu adalah makanan kesukaan Ara.


Wajah Aluna berbinar melihat ke arah Helen. Dia membalikkan langkahnya hendak kembali ke meja makan.


Ara! Kaukah itu? batin Aluna tak berhenti berkedip melihat ke arah Helen.


"Ara!"