TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
227


Di perusahaan Alvin.


"Ara, tolong dengarkan aku sebentar. Aku bisa menjelaskan masalah tadi. Ini tidak seperti yang kamu lihat," kata Noah mencoba menarik tangan Ara agar tidak pergi.


Ara tak bergeming, terus berjalan dan mengabaikan Noah. Melepas paksa tangan Noah dari lengannya agar berhenti menahannya. "Kamu bilang sudah putus dengan Lisa. Kenapa kalian malah berpelukan di depanku tadi? Jangan-jangan kamu hanya mempermainkan aku!" kata Ara dengan nada cemburu.


"Ra, kamu salah paham. Tolong dengarkan aku sebentar," kata Noah lagi.


"Maaf, aku sedang sibuk bekerja. Sebaiknya kamu pulang saja."


Ara tak peduli, hatinya benar-benar sangat kacau. Ini adalah kali pertamanya dia memiliki pacar, dan kali pertamanya juga dia sangat cemburu. Sejak mereka putuskan untuk berpacaran, Ara tak suka ada wanita mana pun yang mendekati Noah, termasuk Lisa. Apalagi sampai melihat mereka berpelukan tadi.


"Ra, jangan bersikap kekanakan. Kita sudah dewasa, kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik," kata Noah terus membujuk.


"Aku memang kekanakan, jadi jangan dekati aku lagi. Kita putus!" Ara mendorong tubuh Noah, lalu menutup pintu ruangannya dengan rapat. Ara juga tak peduli dengan rekan-rekan kerja yang memperhatikan mereka dari tadi.


"Nona Helen, kenapa dengan lelaki tadi? Bukankah Presdir Alvin menyuruh dia untuk membantu Anda bekerja?" tanya salah satu rekan kerja Helen.


"Aku bisa mengerjakan tugas sendiri. Lagipula, aku juga tidak suka cara kerjanya. Jadi suruh saja dia pulang," jawab Ara.


Rekan kerja Helen hanya mengangguk. Kemudian, Ara berjalan menuju meja kerjanya, menelepon petugas keamanan agar menyuruh Noah pergi. Dia sedang malas menghadapi Noah, apalagi masih melihat lelaki itu menunggu di depan ruangan.


Di luar, Noah terpaksa turun ke lobi. Petugas keamanan menyuruh dia pergi. "Mohon maaf, Tuan. Nona Helen menyuruh Anda agar tidak menunggu di depan ruangan. Daripada nanti Anda mengganggu konsentrasi pegawai di sini, lebih baik Anda pulang saja." Seorang petugas keamanan menyuruh Noah agar tidak menunggu di depan ruangan.


"Baiklah, tapi bolehkah aku menunggunya di lobi?" tanya Noah.


"Tidak masalah, Tuan. Nona Helen hanya meminta agar Anda tidak duduk di depan ruangannya," kata petugas keamanan lagi.


"Ok."


Noah menurut meninggalkan tempat itu. Tetapi bukan Noah namanya kalau dia mudah menyerah. Hari ini dia sengaja libur dan berjanji untuk menemani Ara seharian. Dia tidak mau pulang dan memutuskan untuk tetap menunggu Ara sampai pulang.


Selang beberapa jam berlalu, tibalah jam istirahat kantor. Tugas Ara menumpuk di meja, banyak yang belum dia kerjakan karena dia tak mengerti bagaimana menyelesaikannya. Ara hanya mengerjakan tugas-tugas yang mudah yang hanya menggunakan tulisan tangan. Tugas yang harus diselesaikan dengan bantuan komputer terpaksa dia tinggalkan.


"Sekarang sudah sore, Nona. Aku lihat dari tadi Anda belum beristirahat dan makan?" tanya seseorang tiba-tiba menghampiri Ara.


"Ah' tidak. Masih banyak pekerjaanku yang belum aku selesaikan," jawab Ara tanpa melihat sedikit pun orang yang bertanya kepadanya.


"Apa Anda ingin memesan makanan? Kalau Anda mau, biar aku saja yang pesan dan bawakan ke mari?" tanya orang tersebut lagi.


Ara masih berkutat dengan berkas-berkas, membaca proposal yang harus dia pelajari untuk meeting besok. Walaupun sibuk, tetap saja perutnya menagih untuk di isi, dan kebetulan seseorang menawarinya membelikan makanan secara sukarela.


"Ide bagus! Eum ... aku ingin ayam goreng, kentang goreng, mi goreng, dan minuman coklat panas. Satu lagi, aku suka sambal. Yah, rasa pedas dari sambal membuat pening di kepalaku menghilang. Ohh, aku hampir saja melupakannya. Tolong pesankan itu juga yah," kata Ara dengan entengnya.


Lelaki di depan Ara hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dia tak menyangka kalau Ara akan memesan makanan sebanyak itu kepadanya.


"Masih terlalu sedikit pesanan Anda, Nona. Apa ada pesanan lainnya," kata Noah.


Saking sibuknya, Ara sampai tak menoleh. Dia masih tak sadar kalau sedang berbicara dengan Noah. Yang dia pikir orang yang sedang berbicara dengannya adalah petugas kebersihan. Ternyata dari tadi Noah terus memperhatikannya dari luar jendela ruangan, setelah dia berhasil menyuap petugas keamanan.


"Ah, benar. Aku melupakan es krim rasa coklat dan roti bakar keju. Tolong pesankan itu, aku sedang sibuk tak bisa memesannya sendiri," kata Ara sambil menyodorkan beberapa lembar uang kepada Noah.


Noah meraih uang itu sambil mengingat-ingat pesanan Ara yang dia sebutkan tadi. Noah baru sadar, kalau pacarnya itu memiliki nafsu makan yang tinggi.


"Baik, Tuan Putri. Aku akan membelikan semuanya. Aku suka dengan wanita yang hobi makan sepertimu," kata Noah pada dirinya sendiri sambil berjalan keluar.


Lima belas menit berlalu, Noah sudah datang lagi membawakan semua makanan yang dipesan Ara. Tak ada satu pun yang dilupakan Noah. Menaruh makanan tersebut di meja.


"Terima kasih, apa uang yang aku berikan kurang?" tanya Ara masih tak menoleh sedikit pun.


"Tidak, justru masih sisa banyak."


"Kalau begitu sisanya untukmu saja," ucap Ara.


Noah terlihat mengernyitkan keningnya, "Jadi maksud Anda. Uang ini sebagai imbalanku karena membeli dan mengantarkan makanan ini?"


Ara mengangguk cepat. "Yah."


"Aku tidak mau. Aku ingin imbalan yang lainnya," jawab Noah dengan entengnya.


Mendengar kata-kata Noah, Ara langsung menghentikan pekerjaannya. Dia barus sadar kalau dia seperti mengenal pemilik suara yang berbicara padanya sekarang.


Jangan-jangan aku berbicara dengan ...


Ara mendongakkan kepalanya, dia sangat kaget ternyata benar kalau dia sedang berbicara dengan Noah.


"'Aku tak butuh uang. Aku ingin imbalan yang lainnya. Cium aku sekarang," kata Noah mendekatkan wajahnya di depan wajah Ara yang hampir saja tak berjarak.


"Kamu," kata Ara terlihat bengong. Dia langsung memundurkan wajahnya ketika bibir mereka hampir saja bersentuhan. Ara takut ada rekan kerja lainnya di ruangan itu yang melihat.


"Jangan macam-macam! Bu-bukannya aku sudah mengusirmu?" Ara mendorong tubuh Noah agar menjauh.


"Kalau begitu, cium pipiku saja sebagai imbalannya."


"Tidak! Aku tidak mau! Setelah kamu berpelukan dengan wanita lain tadi. Kamu memintaku untuk menciummu? Enak sekali hidupmu!"


Noah menahan tawa akibat ucapan Ara barusan. "Aku menyerah, iya aku bersalah dan kamu selalu benar. Silahkan marahi aku sepuasnya sekarang. Tapi izinkanlah aku duduk di sini sambil melihatmu makan. Yah, aku mohon!"


Noah tak peduli dengan ocehan Ara. Dia menata makanan yang dipesannya di meja, lalu menarik sebuah kursi untuk mendudukkan diri di depan meja komputer milik Helen.


Ah' Noah kenapa kau malah duduk di sini, aku benar-benar tidak kuat sekarang, batin Ara. Ucapan Noah membuat dia terenyuh dan tak jadi marah. Apalagi saat melihat wajah Noah yang terlihat memelas.


"Kamu makan saja dulu, semua pesananmu sudah aku belikan. Biar aku saja yang mengerjakan tugas ini," kata Noah lagi, lalu mengambil beberapa berkas yang menumpuk di meja. Kemudian, Noah menyalakan komputer hendak mengerjakan tugas Ara yang terbengkalai.


"Jangan! Ini tugasku, biar aku saja yang mengerjakan," kata Ara berusaha menyingkirkan Noah, pipinya bersemu merah.


"Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu dari tadi kebingungan karena tidak bisa mengerjakan pekerjaanmu. Ini sangat mudah, biar aku saja yang mengerjakannya." Noah tak memperdulikan Ara dan segera memulai pekerjaannya, "cepat makan! Sebelum semua makanan yang aku bawakan menjadi dingin. Kamu tak lihat, dari tadi es krim itu melambai-lambai hendak meleleh?" kata Noah, " ... seperti hatiku," sambungnya lagi.


"Dasar buaya! Kau pintar sekali merayu wanita!"


Ara melirik ke arah makanan, dia tek henti-hentinya menelan ludah kerena saking tergiurnya dengan semua makanan yang Noah bawa. Semua makanan itu adalah kesukaannya, bahkan cacing di perutnya pun sudah mulai berdemo ingin segera di isi.


Kalau tak dimakan sayang sekali makanan itu kalau dibuang. Bagiamana ini? Mana perutku sangat lapar, batin Ara.


Mau tak mau, Ara mengenyampingkan egonya demi sebuah makanan kesukaannya. Dia meraihnya lalu memakan dengan cepat, karena saking laparnya.


Noah tersenyum senang, kerena dia pikir rencananya berhasil membujuk Ara baikan.


Kau benar-benar sangat menggemaskan Ara, batin Noah. Tak berhentinya dia tersenyum saat melihat Ara makan sambil sesekali melirik ke arahnya.


***