TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Menuntut Luna


"Gufi, temani aku berjalan pagi ini," ucap nenek Alma kepada anjingnya.


Seperti biasanya setiap pagi seusai sarapan, nenek Alma akan berjalan-jalan di halaman rumah sambil berolahraga pagi. Menurutnya, dengan berjalan di pagi hari akan membuat jantungnya semakin sehat. Terbukti beberapa hari ini tekanan darah nenek Alma mulai stabil, bahkan kadar kolestrolnya sudah mulai menurun.


Nenek Alma memegang erat tali pengikat Gufi sembari terus berjalan pelan menikmati udara pagi. Sesekali wanita tua itu menggerakkan tangannya ke atas, ke samping dengan gerakan pelan seperti sedang melakukan pemanasan.


"Aku bersyukur masih bisa menikmati udara di pagi ini," gumam nenek Alma, ia menghirup udara dalam-dalam lalu mengembuskan pelan.


Setelah memanasi badannya, nenek Alma kembali berjalan dengan Gufi menelusuri setiap jalan. Anjing berjenis Golden Retriever itu sangat menurut kepada nenek Alma, terbukti ke mana pun ia pergi, anjing itu selalu mengikutinya.


"Selamat pagi, Nenek Alma," sapa Helen dan Mona berbarengan dari arah gerbang depan.


Mendengar namanya dipanggil, nenek Alma langsung menoleh. Rupanya pagi-pagi sekali Mona bersama anaknya sudah mendatangi mansion hendak mengadu kepada keluarga Alvin.


"Wah, Nenek terlihat bugar pagi ini. Sepertinya aku harus mengikuti cara nenek dengan berolah raga pagi, walaupun sudah tua, aura kecantikan Nenek masih sangat terpancar." Mona memuji wanita tua itu, berusaha mengambil simpatinya.


"Tumben sekali pagi-pagi kalian bertamu di rumah kami. Terima kasih atas pujiannya, ada keperluan apa kalian kemari?" tanya nenek Alma.


"Sama-sama, Nek. Sudah lama kami tidak bertamu di rumah ini. Tentu saja ada yang ingin kami bicarakan." Mona sedikit membungkukkan badan tanda hormat kepada nenek Alma di ikuti Helen yang berdiri bersebelahan.


Sepertinya ada hal penting, gumam nenek Alma.


Mata nenek Alma penuh menyelidik, dia melihat bergantian ibu dan anak itu. "Kalau begitu kita bicarakan di dalam. Pelayan An, antar mereka berdua ke dalam," perintah nenek Alma kepada pelayannya.


"Mari, Nyonya. Aku antar ke dalam," kata pelayan kepada keduanya.


Mona pun membalas tersenyum ramah. Bersama nenek Alma, mereka berdua berjalan mengikuti pelayan An di belakangnya.


Guk... guk.. guk.


Gufi menarik-narik baju Helen seakan tidak suka dengannya. Ya, anjing itu memiliki ikatan batin dengan nenek Alma, kalau majikannya tidak menyukai, maka dia pun sama.


"Maaf, Gufi. Aku tidak membawakan hadiah untukmu. Nanti kalau aku kemari lagi aku janji membawakannya," ucap Helen menarik baju dari mulut Gufi, kalau itu bukan hewan peliharaan nenek Alma, sudah pasti ia akan memukul dan menyakitinya.


Jangan mengganggu jalanku, anjing bodoh! batin Helen.


Melihat itu nenek Alma langsung memberi isyarat agar Gufi bisa diam dan tidak mengganggunya lagi. "Gufi, kembali ke rumahmu. Nanti kita teruskan bermain lagi," sahutnya pelan. Melihat majikannya memarahinya, anjing itu langsung melepaskan gigitan dan berlari pergi ke kandangnya. Selain memiliki anjing, nenek Alma juga memiliki satu kucing persia yang ia beri nama Pao.


Setelah lepas dari Gufi, Helen langsung berjalan mendekati nenek Alma menyentuh lengan wanita itu. "Nenek, Terima kasih."


Itu tandanya Gufi tidak menyukaimu, batin nenek Alma.


Nenek Alma hanya mengangguk pelan, kemudian ia meneruskan jalannya menuju pintu utama.


***


"Selamat datang. Silahkan masuk, Nyonya dan Nona." Beberapa pelayan tampak berjejer di samping pintu, sedikit membungkukkan punggungnya memberi hormat. Keluarga Wiratama sangat menjunjung tinggi kesopanan terutama kepada tamu yang berkunjung di mansion.


"Silahkan duduk," ucap nenek Alma mempersilahkan.


Sekarang Mona dan Helen sudah duduk saling berhadapan dengan nenek Alma di ruang tamu. "Terima kasih, Nek." ucap Mereka.


Rupanya Clara sudah memperhatikan dari atas. Tidak hanya nenek Alma, bahkan ia pun merasa mencurigai kedatangan mereka berdua. Tidak menunggu lama lagi, wanita itu langsung turun ke bawah. Ya, semenjak insiden dua hari yang lalu, Clara benar-benar tak menyukai mereka berdua, apalagi sampai bertamu ke rumahnya pagi-pagi sekali. Pikirnya, ada hal apa lagi yang menyebabkan keduanya datang ke mari sampai sepagi ini.


"Sepertinya ada tamu tak diundang di rumah kami?" Clara berkata sembari berjalan mendekati mereka bertiga. Tatapan matanya sinis, memancarkan ketidaksukaan.


"Halo Nyonya Clara! Senang bertemu dengan Anda lagi," sapa Mona masih merasa akrab.


"Apa kabar Nyonya?" tambah Helen.


"Tidak usah berbasa-basi." Clara menepuk tangan Mona yang hendak memeluknya.


Sombong sekali, gumam Mona.


Aku tidak peduli! batin Clara.


Dengan posisi yang elegan Clara duduk di samping Nenek Alma. Ia tak melirik sama sekali dua orang ibu dan anak itu. "Katakan kepada kami, apa maksud kedatangan kalian?" ketus Clara.


Nenek Alma yang melihatnya hanya diam saja, ia sendiri sudah paham dan mendengar kabar kalau beberapa malam kemarin, Helen berniat mempermalukan Aluna di depan umum. Sebenarnya ia pun marah. Namun, karena kedatangan mereka sopan, ia tak berhak mengusir apalagi memarahi tamunya.


"Silahkan diminum jamuan kami," ucap nenek Alma menyuruh mereka meminum teh yang sudah disediakan pelayan An.


"Terima kasih, Nek. Kami juga membawakan bingkisan untuk Nenek. Semoga nenek menyukainya." Helen menyodorkan sebuah kotak berukuran sedang di tengah meja. Ia sengaja memanfaatkan keadaan itu untuk memperlihatkan luka di tangannya.


"Arg!" teriak Helen sengaja menyenggol tangannya yang terluka, ia mencoba mendramatisir keadaan.


Nenek Alma baru menyadari kalau tangan Helen sedang terluka, terlihat dari perban yang membalut penuh lengannya.


"Hati-hati, Nak. Lukamu bisa tambah parah," tambah Mona.


Nenek Alma meneliti luka di tangan Helen. "Kenapa dengan tanganmu?" tanya nenek Alma.


Helen terdiam, dia pura-pura tidak menjawab.


"Sepertinya lukamu sangat parah," ucap nenek Alma lagi.


Helen masih terus diam, sementara Mona menunduk takut. Tentu saja, ini adalah siasat mereka untuk mengambil hati nenek Alma. Sebelum sampai mansion, Mona sudah berdiskusi dengan anaknya menemukan ide bagaimana caranya untuk menuntut keluarga Alvin.


"Maaf, kami terpaksa memberitahukan ini kepada Nenek. Luka di tangan Helen disebabkan oleh Luna," ucap Mona pelan, masih dengan kepala menunduk.


Mendengar itu nenek Alma terkesiap, tidak hanya dia, bahkan Clara pun ikut kaget. "Apa? Aku tidak percaya!" Mata Clara melotot sempurna.


Sekarang Mona mengangkat wajahnya kembali, wanita dengan keahlian berakting itu mulai mengeluarkan buliran bening di ujung matanya. Tidak hanya Mona, Helen pun terlihat sangat sedih.


"Benar, Nek. Luna yang melukai tangan anakku. Tadi malam mereka sedang minum-minum di bar. Helen tidak sengaja bertemu dengan Luna. Entah karena apa, tiba-tiba saja Luna hendak memukul anakku. Namun, Helen menangkisnya dan malah melukai kepalanya sendiri. Tidak hanya itu, Nek. Bahkan Luna juga telah melukai tangan anakku hingga berdarah. Kalau tidak percaya Nenek bisa bertanya langsung kepada Yuze dan Lily, karena mereka berdua adalah saksinya," ucap Mona seraya menyeka air mata dengan punggung tangannya.


***


###


Author meminta maaf sebesar-besarnya karena baru bisa update hari ini. Terus terang, dua hari ini author sedang dikejar deadline kerjaan dunia nyata, membuat author harus bekerja lembur sampai malam.


Author janji bagaimana keadaannya, akan menyelesaikan novel ini sampai tamat.


Terima kasih sudah mendukung novel ini☺