
"Ara?! Siapa yang kau maksud?" tanya Helen.
Kedatangan Aluna dan Alvin membuat Helen curiga. Perasaannya mengatakan kalau dia sedang dijebak oleh Aluna.
Sebelum menjawab pertanyaan Helen, Aluna terdiam sesaat mengamati perubahan pada diri perempuan itu.
Sepertinya dia bukan Ara, batin Aluna.
"Eum ... maksudku ...." Aluna menggaruk kepalanya yang tak gatal sambil berpikir mencari alasan, "... aku pikir Noah bersama Ara kekasihnya. Ternyata bukan, apa kamu baik-baik saja?" Aluna tersenyum penuh ironi.
Mendengar perkataan Aluna, Helen malah tertawa nyaring. "Ha ... ha ... lelucon apa ini? Tadi aku masih ingat sedang bersamamu di dalam salon. Sekarang, kamu datang malam-malam muncul di hadapanku di dalam kamar hotel. Apa kamu ingin menjebakku?"
Helen mendekati Aluna menatapnya penuh intimidasi. "Sekarang jelaskan kenapa aku ada di sini?"
"Apa kamu lupa sebelum dibawa ke sini, kamu sedang meminum alkohol di kafe Amor sepulang dari salon? Ya, aku menemukanmu tadi dalam keadaan mabuk. Aku juga yang menyuruh Noah agar membawamu ke mari," kata Aluna berbohong.
Helen mengerutkan kening, tampak berpikir keras. Namun, semakin dia berusaha mengingat semakin bertambah pusing kepalanya.
"Dia sudah kembali, sebaiknya kita pulang saja, Luna," kata Alvin.
Mata Helen beralih melihat Alvin. Timbul di otaknya untuk mencari simpati Alvin lagi dengan membuat drama baru, seakan dirinya teraniaya dan dijebak.
"Presdir Alvin tolong aku," kata Helen memegang tangan Alvin.
Akan tetapi Alvin tidak peduli. Sudah bosan dia dengan drama yang dimainkan Helen.
"Lihatlah, mereka menjebakku. Lihatlah temanmu ini, dia ingin memper kosaku barusan. Aku sangat takut kejadian enam tahun yang lalu terulang lagi," kata Helen sambil menangis penuh ironi.
Kata-kata Helen barusan membuka lagi ingatannya tentang peristiwa enam tahun yang lalu. Di mana saat itu Helen berkata kalau dirinya telah diper kosa Alvin semalam.
"Cukup jangan sentuh tanganku!" bentak Alvin mengibaskan tangannya, "kenapa kamu berpikir Luna menjebakmu? Apa kamu sering melakukan hal kotor semacam itu sebelumnya?" Alvin tersenyum menyeringai.
"Karena Luna tak menyukaiku," kata Helen dengan nada sangat pelan. Dia sangat takut dengan tatapan Alvin yang begitu tajam, seperti mata pisau yang akan menyayatnya hidup-hidup.
Tiba-tiba saja Alvin mencengkeram lengan Helen. "Aku tahu kamu bukan wanita yang aku tiduri. Sekarang katakan siapa wanita yang bersamaku malam itu?" tanya Alvin mengintimidasi.
Helen menarik lengannya dari cengkraman Alvin. Baru kali ini dia melihat lelaki itu terlihat mengerikan. "Tentu saja hanya aku, Presdir. Apa kamu lupa rasa tubuhku?" Helen tersenyum percaya diri.
Alvin berdecih, menurutnya percuma saja berbicara pada wanita itu sekarang. Intinya, itu sudah berlalu dan Alvin sudah tak memperdulikannya lagi.
"Apa maksudmu?" tanya Aluna tak mengerti.
"Tanya saja pada suamimu, dia pasti malu mengucapkannya di sini," kata Helen.
Perkataan Helen membuat Aluna bertanya-tanya, dia benar-benar tak mengetahui plot novel yang asli. Yang Aluna tahu, rumah tangga Luna dan Alvin hancur akibat salah paham bukan akibat perselingkuhan.
"Luna, ayo kita pulang," perintah Alvin menggenggam telapak tangan Aluna, "aku sudah malas berada di sini."
Sayangnya Aluna menolak. Aluna yakin adiknya akan kembali bertukar lagi. Malam itu dia putuskan untuk tetap di dekat Helen dan pulang ke rumah bersama-sama.
"Aku tidak bisa ikut pulang denganmu sekarang, Alvin. Tetapi aku janji, besok aku akan datang bekerja tepat waktu. Aku harus mengantar adikku pulang, pasti ibunya akan marah kalau aku tak membawanya pulang bersama," kata Aluna kepada Alvin.
"Presdir, bolehkah aku kembali bekerja?" tanya Helen sebelum Alvin menghilang di balik pintu.
Akan tetapi, Alvin tetap mengacuhkannya dan terus melangkah keluar.
"Presdir," teriak Helen.
Aluna meraih tangan Helen agar tak mengejar Alvin. "Helen, ayo kita pulang. Ibumu sudah menelepon menyuruhmu cepat pulang," kata Aluna dengan lembut, "kita bicarakan di mobil masalah ini."
"Kau! Beraninya mencegahku!"
Sebenarnya Aluna bisa melakukan apa pun. Mengkasari Helen bukanlah perkara yang sulit. Hanya saja, Aluna teringat akan Ara yang masih membutuhkan tubuhnya.
"Ibumu tak berhenti marah sebelum kamu pulang. Dia pikir aku menelantarkanmu." Aluna ingin cepat membawa Helen pulang agar bisa beristirahat.
Kalau ibunya tidak mengirim pesan teks menyuruhnya pulang. Helen mana mungkin mau pulang bersama Aluna.
Di dalam taksi kedua perempuan itu lebih banyak diam. Namun, sebelum mereka turun dari dalam taksi ketika sudah sampai rumah, Helen bertanya kepada Aluna, "benarkah sekarang kamu menjadi asisten Presdir Alvin?"
"Ya, kau benar," kata Aluna penuh percaya diri. Kakinya yang mulus menuruni taksi hendak berjalan menuju gerbang depan rumahnya.
"Tunggu!" seru Helen menghentikan langkah Aluna, "kamu tak memiliki keahlian apa pun, bisa-bisanya menjadi asisten pribadi Alvin."
"Kau mau tahu alasannya kenapa?" kata Aluna sambil menoleh mendekati Helen lagi, "yang paling utama karena aku lebih cantik, pintar dan lebih menarik darimu. Istirahatlah cepat, agar wajahmu tak terlihat tua. Lihatlah, banyak kerutan halus memenuhi wajahmu. Aku khawatir kamu akan menua sebelum waktunya," kata Aluna lalu pergi masuk ke dalam rumah tanpa menunggu balasan dari Helen.
Sindiran Aluna bukan tanpa alasan. Dia mengatakan itu agar Helen cepat beristirahat dan berganti menjadi adiknya kembali saat bangun.
Di dalam rumah, kekhawatiran Mona berganti menjadi perasaan lega begitu melihat kedatangan anaknya dari ambang pintu. Mona sempat syok dengan penampilan terbaru Helen. Ya, tentu saja dia kaget melihat rambut Helen yang berubah menjadi warna kuning.
"Helen, kenapa dengan rambutmu? Kenapa bajumu kotor? Dahimu terluka? Kata Luna, benarkah kamu mabuk bersama seorang lelaki dan memasuki hotel?" Rentetan pertanyaan Mona dilontarkan kepada Helen.
"Mommy, ada banyak hal yang ingin aku ceritakan. Nanti aku akan ceritakan. Aku merasa pusing, aku ingin masuk ke kamar," balas Helen memegangi kepalanya.
Tak ingin Aluna mendengar obrolan mereka berdua. Mona membawa Helen masuk ke kamarnya. Dia sangat curiga kenapa akhir-akhir ini sikap anaknya selalu berubah-ubah tidak seperti biasanya.
Sebelum menceritakan semuanya, Mona menyuruh Helen mandi dan mengganti bajunya terlebih dahulu. Kali ini Mona rela tidak tidur semalaman hanya untuk menemani Helen dan mencari tahu apa yang menyebabkan perubahan anaknya.
"Sekarang katakan dari mana saja kamu, Nak? Aku akan mendengarkan semuanya." Mona sudah siap mendengarkan Helen bercerita.
"Mommy, aku merasa berada di dunia lain setiap bangun. Aku merasa selalu bermimpi berpindah-pindah tempat."
...###...
Seperti biasa aku mau rekomendasikan novel temen aku yang ngga kalah seru dari novel ini. Genre CEO, komedi romantis dan bikin baper tentunya.
Yuk baca di Noveltoon.