
Clara sudah berulang kali menghubungi Alvin. Belum ada yang diangkat, barulah setelah panggilan ke sepuluh Alvin mengangkatnya.
"Alvin, bagaimana apa Zero sudah ketemu?" tanya Clara merasa khawatir, "aku akan mengirim orang ke sana untuk mencari Zero."
"Kami sudah menemukan Zero, Bu. Zero sudah selamat ditolong keluarga Sindi," jawab Alvin.
Mendengar Zero telah selamat membuat Nenek Alma dan Clara merasa lega. Nenek Alma terlihat segar kembali. "Berikan padaku, Clara. Aku ingin berbicara dengan Zero."
Clara memberikan ponsel. Membiarkan ibu mertuanya itu agar bisa berbicara langsung.
"Zero, maafkan Nenek," kata Nenek Alma dengan suara parau, "apa kamu terluka? Kalau iya, bilang sama papamu agar langsung ke rumah sakit saja."
"Tidak, Nenek. Zero tak terluka. Zero baik-baik saja. Bagaimana kabar Nenek?" tanya Zero lewat telepon.
"Nenek sehat dan baik-baik saja. Nenek sangat rindu. Ingin cepat pulang dan bertemu dengan Zero."
"Setelah makan malam nanti. Kata papa, kita akan pulang dan mengajak keluarga Sindi ke rumah. Nenek tidak keberatan 'kan?"
Nenek Alma terdiam beberapa detik sedang berpikir. Dia sudah bersalah dan berhutang maaf kepada Zero, dan Aluna tentunya karena sudah berburuk sangka. Jadi, Nenek Alma terpaksa setuju dan membolehkan Sindi main ke rumahnya demi Zero.
Setelah setengah jam berbicara di telepon. Nenek mengakhiri panggilan. Duduk di atas tempat tidur, kemudian memanggil Clara dan orang tua Lily dan Yuze.
"Kalian berhutang maaf kepada Luna," kata Nenek Alma berbicara dengan anak dan menantunya.
Clara mengangguk, dia berencana akan meminta maaf kalau bertemu dengan Aluna nanti. Nenek Alma juga mengatakan sebaiknya untuk tidak ikut campur lagi untuk masalah Zero. Nenek Alma sudah memaafkan Luna dan sudah mempercayainya lagi.
"Luna adalah ibu yang baik untuk Zero. Sebaiknya kita tak perlu ikut campur dan percayakan semuanya kepada Luna. Aku juga mau kalian minta maaf atas nama Yuze dan Lily," perintah Nenek Alma sambil melihat satu persatu wajah orang tua Lily dan Yuze.
"Aku tidak mau, Nek. Lagipula belum tentu Lily dan Yuze yang bersalah. Anakku 'kan bilang kalau Zero tiba-tiba hilang saat mobil mereka kecelakaan."
Mata Nenek Alma membulat sempurna. "Jadi kalian tetap tidak mau minta maaf?"
"Yah, Nek. Untuk apa kami harus meminta maaf kalau kita saja tak salah."
Nenek Alma terlihat murka. "Kalau kalian tidak mau minta maaf, jangan harap aku membolehkan kalian beserta anak kalian menginjakkan kaki di rumahku. Bahkan aku akan melaporkan Lily dan Yuze kepada polisi!"
***
Keluarga Sindi sudah kembali lagi ke hotel. Tapi kali ini bersama Aluna, Zero dan Alvin. Sebelum Aluna membawa keluarga Sindi ke rumah, seperti yang direncanakan mereka akan mengadakan makan malam dahulu.
"Selamat malam, Nyonya Sinta sekeluarga. Senang rasanya bisa berkumpul dan makan malam bersama seperti sekarang," kata Aluna sambil tersenyum.
"Terima kasih banyak, Nyonya Luna. Karena dengan senang hati sudah mengundang kami. Kedepannya semoga kita bisa lebih sering lagi makan malam bersama," jawab Sinta.
"Semoga yah, agar anak kita bisa lebih sering bertemu dan bermain bersama, "besok kami akan mengajak Nyonya Sinta sekeluarga berkunjung ke rumah kami. Kata Zero, dia ingin memperlihatkan kota impian hasil karyanya kepada Sindi."
Ke enam orang tersebut sudah ada di meja makan. Sedang menikmati malam malam sambil berbincang ringan. Zero terlihat seperti bocah sesuai usianya mengenakan tuxedo berwarna hitam senada dengan yang Alvin kenakan. Penampilannya berbeda jauh dari sebelumya ketika berada di hutan.
Alvin sesekali mengobrol santai dengan ayah Sindi. Begitu pun dengan Aluna dan Sinta. Sedangkan Zero dan Sindi sedang sibuk membicarakan tempat apa saja nanti yang akan mereka kunjungi besok.
"Ayo kita foto bersama," kata Ayah Sindi setelah mereka selesai makan.