
Di kediaman Alvin, sudah berkumpul Nenek Alma, Clara dan kedua sepupu serta kedua pamannya. Baru saja datang, Alvin sudah disambut wajah tegang semua keluarga. Lily dan Yuze saling melirik, seakan ingin cepat-cepat mencecar berbagai pertanyaan untuk Alvin.
"Akhirnya kamu datang juga saudaraku," kata Yuze menyambut Alvin.
Alvin tak menggubris, dia langsung mencari tempat kosong, duduk dengan tenang tidak jauh dari Nenek Alma.
"Ke mana Luna, Alvin? Kenapa dia tak ikut pulang denganmu?" tanya Nenek Alma ketika Alvin sudah mendudukkan diri.
"Luna sedang tidak enak badan, Nek. Dia ingin menenangkan diri dulu di rumah ayahnya," kata Alvin.
Lily tertawa mendengar ucapan Alvin. Dia langsung berdiri dan menyerahkan bukti kongkrit kalau Luna telah melahirkan anak lima tahun yang lalu. Dia sangat percaya diri dan menyerahkannya kepada Nenek Alma. "Nek, aku sudah menghubungi dokter yang menangani Luna saat melahirkan. Benar, Luna telah melahirkan dan menyerahkan anak tersebut kepada Nyonya Dori. Sayangnya karena tak bisa menghidupi anak itu, Nyonya Dori menjualnya kepada Sembo. Luna sangat jahat, Nek. Kepada darah dagingnya saja tega, apalagi terhadap orang lain," kata Lily.
Nenek Alma paling tidak menyukai seorang ibu yang meninggalkan anaknya, alasan apa pun menurut Nenek Alma itu salah. Apalagi kalau anak itu dititipkan kepada orang tua yang tak bertanggung jawab seperti Nyonya Dori.
Nenek Alma melirik Alvin lagi. "Alvin, apa kamu akan tetap mempertahankan rumah tanggamu? kamu sudah tahu' kan, Luna telah memiliki anak sebelum menikah?" tanyanya.
Raut wajah Alvin sangat tenang. Dia tahu keluarganya pasti akan menanyakan hal tersebut. Alvin ingin mengatakan kalau Zero adalah anaknya. Sayangnya dia teringat kata-kata Aluna, demi keamanan Zero, dia tak boleh memberitahukan kepada siapa pun.
"Nek, aku sangat mencintai Luna. Aku akan tetap mempertahankan rumah tangga kami," kata Alvin tegas.
Yuze kembali mencibir. "Apa kau yakin, Kakak? Kakak ipar sudah memiliki anak dengan lelaki lain, dan Nenek tidak akan pernah mau mengakui anak yang bukan darah asli keturunan Wiratama. Wanita penipu tak pantas melahirkan calon pewaris keluarga kita."
"Aku sangat yakin. Aku akan tetap mempertahankan Luna," kata Alvin lagi.
Mendengar pernyataan Alvin, Clara yang dari tadi diam sudah tak tahan lagi. Dia lalu berdiri dan memarahi Alvin. "Jangan bodoh, Alvin. Lily dan Yuze benar. Sebaik apa pun Luna, kalau dia tega membuang anaknya, kemungkinan dia pun akan tega dengan keturunanmu nanti. Ceraikan saja wanita itu dan carilah perempuan baik lainnya selagi belum terlalu jauh."
"Nenek, ibu, itu adalah masa lalu Luna. Saat itu kondisi kejiwaan Luna sedang tak baik. Bukan Luna yang membuangnya. Ayah mertua terpaksa memberikannya kepada Nyonya Dori, karena saat itu Luna masih terlalu muda dan tak bisa merawat bayi itu sendiri," ucap Alvin masih membela.
"Kalau tak bisa merawat setidaknya mereka bisa menyewa pengasuh. Aku yakin Hideon sengaja menyembunyikan cucunya agar nama baik mereka tidak tercoreng. Benar-benar keluarga penipu," kata Clara mendengkus kesal.
Lily dan Yuze semakin puas karena semua kini tak menyukai Luna. Mereka berdua terus memanasi keadaan dengan memberikan spekulasi lain yang lebih buruk. Mereka menyindir kalau Luna memiliki anak lebih dari satu dengan lelaki lain.
"Sepertinya dari dulu Luna memiliki kelainan seksual, aku yakin dia melahirkan lebih dari sekali dan berhubungan badan lebih dari satu lelaki. Apa Nenek tak ingat dulu Luna sempat terlibat skandal dengan Devan? Jangan-jangan anak itu milik Devan?" kata Lily terus memanasi.
"Itu tak benar. Masalah itu sudah selesai, semua sudah tahu kalau bukan Luna wanita dalam video itu. Kenapa kamu masih mengungkitnya, hah?" sahut Alvin.
"Kalau bukan dia ayah kandungnya, lalu siapa lagi Alvin?" Nenek Alma terbawa emosi.
Seisi ruangan mendadak panas. Hawa dingin AC di ruangan itu seakan tak mampu mendinginkan beberapa kepala yang terbawa emosi.
"Bagaimana kalau dia adalah anakku?" Alvin sudah tak tahan dengan cecaran semuanya.
Lily dan Yuze tercengang. Menurutnya Drama apa lagi yang sedang dimainkan Alvin agar Nenek tak menyuruhnya menceraikan Luna. Semua orang yang berada di ruangan itu pun tahu kalau Alvin dan Luna baru mengenal beberapa hari sebelum menikah. Jadi mustahil kalau Alvin mengatakan dia adalah anaknya.
"Sepertinya Luna sudah meracuni otak Kak Alvin," kata Yuze pelan. Kata-kata Alvin barusan dia tak menganggap benar sedikit pun.
Kalau pun dia benar anakmu, tentu saja aku akan menyingkirkan secepatnya. Tapi itu tak mungkin, karena aku tahu itu hanya akal-akalanmu saja Alvin, batin Yuze.
"Alvin, jangan mau dibodohi. Kalau pun kamu menerima anak hasil hubungan gelap Luna dengan orang lain, kami tak akan menerimanya sampai kapan pun," ucap Clara.
Nenek Alma mengamati sikap Alvin. Dia tahu siapa Alvin, kalau Luna benar-benar memiliki anak dari lelaki lain, tak mungkin dia bersikukuh mempertahankan rumah tangganya. Dia menduga, ucapan Alvin ada benarnya mengingat dia pulang dari luar negeri belum ada enam tahun. Mungkin saja keduanya sudah saling mengenal dan tak sengaja melakukan hubungan terlarang.
Ya, Nenek Alma ingat. Beberapa hari sebelum perjodohan. Kakek Alvin menyodorkan sebuah foto Luna kepada Alvin, dan dia tak menolak sedikit pun saat dijodohkan. Saat itu Nenek Alma curiga kenapa Alvin yang biasanya pemilih, tak menolak sedikit pun. Beralih dari permasalahan tersebut, Nenek Alma tetap tidak suka dengan wanita yang sudah menelantarkan anaknya. Sekali pun itu Luna yang melakukannya.
"Apa pun alasannya tetap saja Luna dan Hideon bersalah. Citra baik keluarga Luna sudah buruk di mata kami. Walaupun anak itu nantinya benar adalah anakmu, dia tetap bersalah karena telah menelantarkan darah daging keluarga kita. Dan ini tak bisa dimaafkan." Ucapan Nenek Alma membuat Alvin seakan tertampar. Dia sadar, kalau pun anak itu ditemukan, keluarganya akan tetap menyuruh mereka bercerai.
"Jadi Nenek tetap menginginkan kita bercerai?" tanya Alvin.
Nenek Alma memejamkan matanya tanda mengiyakan ucapan Alvin.
"Ini adalah rumah tanggaku. Dan aku putuskan tidak akan bercerai sampai kapan pun." Alvin berdiri lalu berjalan pergi dari ruangan. Dia mulai lelah dan tak peduli. Dia sadar apa pun yang dilakukan nanti dengan Aluna, mereka tetap tak akan menyukainya.
"Alvin!" bentak Clara.
Lily dan Yuze tersenyum dalam hatinya. Mereka sangat puas. Kalau pun nanti Alvin menolak bercerai, itu tandanya Nenek Alma akan mencoret nama Alvin dari daftar pewaris utama.