
Lily belum memberitahukan rencananya kepada Ara, dia hanya memberitahukan kalau dia akan menjauhkan Zero dari Alvin dan Luna. Lily meminta agar Helen mengirimkan foto Zero, karena dia belum sekali pun melihatnya.
“Bagus Helen, awasi mereka dulu. Aku akan beritahukan rencana selanjutnya, tapi tidak sekarang.“
Ara cuman bisa mengiyakan. Dia pun tak mengirimkan foto Zero, dengan alasan Luna tak memperbolehkan dirinya memfoto Zero. Setelah panggilan berakhir, teleponnya kembali berdering. Namun dia abaikan karena kali ini yang menelepon adalah Noah.
[Ara, apa kamu sudah berangkat? Kalau belum, aku akan menjemputmu sekarang. Kebetulan aku kebagian sif siang jadi bisa mengantarkanmu lebih dulu.]
Ara masih sedikit kesal, dia masih belum mengangkat telepon Noah. Sebaliknya karena tak diangkat, Noah mengirimkan pesan berulang kali. Noah juga mengatakan ingin sarapan pagi bersama Ara sekarang, tetapi Ara malah mengabaikannya lagi.
Di tempat lain di perusahaan Alvin, satu jam kemudian. Karena tak ada balasan dari Ara, Noah terpaksa menemuinya langsung ke perusahaan Alvin. Kali ini Ara sudah berada di kantornya. Sementara Noah, masih berada di lantai satu menelepon Alvin agar mengizinkannya masuk.
“Jadi kamu datang ke sini hanya untuk menemui Ara?” tanya Alvin yang sudah sampai di lantai satu. Kebetulan saat itu dia baru saja bertemu klien di lantai dasar.
Noah tersenyum tipis. Dari raut wajahnya tentu saja sudah bisa terjawab iya. Alvin melirik sepintas, dia tampak tersenyum geli melihat Noah membawa sebuket bunga dan sebuah kardus makanan berukuran besar. Baru kali ini Alvin melihat Noah terlihat seromantis itu kepada pasangannya, sampai-sampai mau merepotkan diri membawa makanan. Tak lama, keduanya pun berjalan berbarengan memasuki lift.
“Jadi sekarang kamu sudah menjadi pria bucin,” ucap Alvin menyindir.
Noah melihat lagi bunga di tangan kemudian mencium aromanya lagi. “Memang apa salahnya? Aku kan berguru padamu bagaimana caranya menjadi bucin.” Noah malah menyindir balik.
Alvin tertawa, ternyata dugaannya benar. Di lift ada dua karyawati di samping mereka. Terus menguping pembicaraan Alvin dan Noah yang saling memojokkan. Di dalam pikiran karyawati tersebut, tak biasanya melihat presdir yang terkenal arogan bercanda, apalagi sampai tertawa terbahak seperti itu.
“Bukan bucin lagi, aku malah sudah tergila-gila dengannya,” kata Alvin dengan percaya diri, “apalagi kalau bucinnya menghasilkan anak dua, tiga, bahkan lebih banyak lagi. Aku akan rela menjadi pria bucin untuk istriku."
“Kamu pikir Aluna akan selamanya berada di sini? Pasangan kita berbeda, aku sendiri tak yakin akan terus bersama dengan Ara selamanya." Terlihat Noah mengembuskan pelan napasnya, "kau kan presdir di sini. Aku mohon berilah izin untuk Ara agar bisa keluar sekarang, hanya satu jam saja. Aku ingin mengajaknya makan siang dan berbicara banyak dengannya."
Pintu lift terbuka, sambil terus mengobrol santai keduanya pun berjalan bersamaan. "Yah, kamu memang benar. Di saat aku benar-benar mencintai wanita, dia selalu pergi. Sama seperti dulu saat aku berhubungan dengan Ana," kata Alvin, "tapi sekarang aku sudah memiliki Luna. Dia adalah istriku, dan aku harus mencintainya. Apalagi sekarang sudah ada Zero."
Kali ini hati Alvin sudah cukup tenang. Dia tak mau memikirkan bagaimana nanti saat tak ada Aluna. Dulu memang Alvin seorang yang perencana, apa pun sudah di rencanakan dengan matang. Tetapi tidak sekarang, dia membiarkan hidupnya mengalir sendiri seperti air mengalir. Kalau nanti Aluna pergi, dia masih memiliki Luna dan dia harus bertanggung jawab.
"Hah, jadi kamu masih memikirkan Ana?" Noah balik bertanya.
"Sudahlah lupakan saja. Sekarang aku izinkan Ara istirahat sampai satu jam ke depan. Aku hanya memperingatkan agar hati-hati dengan Ara, jangan kaget kalau sewaktu-waktu dia akan berubah menjadi Helen, dan akan menerkammu hidup-hidup," kata Alvin menggoda Noah sebelum dia masuk ke ruangannya.
"Justru aku malah ingin diterkamnya. Aku ingin tahu bagaimana diterkam seorang wanita," balas Noah, "aku juga ingin mempunyai anak yang mirip sekali denganku. Pasti dia akan mewarisi ketampananku."
Noah langsung kabur detik itu juga, bergegas menemui Ara di ruangannya. Di tangannya sudah memegang sebuket bunga bercampur coklat dan satu dus pizza.
"Aku datang, pacar cantikku," sapa Noah.
Ara terlonjak kaget, baru saja kemarin bertemu, sekarang Noah kembali datang lagi. "Kenapa kamu ada di sini lagi? Aku sudah tak membutuhkanmu," kata Ara berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
"Untukmu!" seru Noah menyodorkan sebuket bunga, "aku minta maaf."
"Aku tidak mau! Kita sudah tak memiliki hubungan lagi. Lupakan saja aku, lagipula aku tak selamanya ada di sini," kata Ara dengan entengnya.
Noah duduk di depannya. Melihat lekat wajah Ara, Karena sering bersama, Noah bisa membedakan raut wajah Ara dan Helen meskipun mereka berada di satu tubuh.
"Aku tak peduli!" seru Noah.
"Bagaimana kalau aku pergi dan tak akan kembali?" Ara balik menatap Noah.
"Aku akan menunggumu," jawab Noah.
"Sampai kapan?"
"Sampai aku mati. Aku berjanji. Bila perlu aku akan menikahi Helen."
"Bohong! Kamu pergi saja, aku sudah tak peduli!" seru Ara menghiraukan.
Noah memegang wajah Ara, memegang pipinya dengan lembut. "Berpura-puralah menjadi Helen yang asli. Aku akan menikahimu," ucap Noah bersungguh-sungguh.
"Apa maksudmu?" tanya Ara.
"Aku melamarmu sekarang. Maukah kamu menikah denganku sekarang, Arabella?"
Ara menelan ludahnya. Entah mengapa setiap kali berada didekat lelaki itu, dia begitu lemah, apalagi hatinya. Menikah adalah impiannya dari dulu, dia berkeinginan bisa merasakan menjadi ratu sehari sebelum meninggal.
"Maaf, Noah. Aku tak bisa seperti Helen. Wajah, rambut bahkan tubuh yang kamu lihat sekarang adalah milik Helen. Aku sakit, wajahku yang asli keriput, tak memiliki rambut dan hanya bisa berbaring di rumah sakit. Kamu tak akan mencintaiku, kalau kamu tahu rupa asliku," ucap Ara, " dan satu lagi ... kamu dan aku berbeda.