
Mobil Noah sudah memasuki halaman rumah Lisa. Tak ada sambutan yang ada adalah cibiran dari Nyonya Olive begitu melihat Noah. Setelah berbulan-bulan putus, lelaki itu kembali menginjakkan kaki di rumahnya lagi.
"Berani sekali kamu datang ke rumahku?" kata Olive ketus.
Noah menghentikan langkah, cukup baginya untuk diam ketika menghadapi singa betina seperti Olive. Noah juga tak duduk ketika Lisa menyuruhnya.
"Sebaiknya aku pulang saja sekarang," kata Noah.
Lisa menahan Noah agar tidak pergi. Tak peduli dengan ibunya yang terus melotot. Lisa malah menunjukkan kemesraan di depan ibunya.
"Ibu, Paman adalah calon suamiku. Tidak aneh kan kalau bertamu di rumah calon mertuanya sendiri," balas Lisa.
"Lisa! Apa yang kamu katakan barusan?"
"Ibu, aku dan Paman Noah kembali berhubungan. Kami juga akan putuskan untuk menikah bulan depan. Iya kan, Paman?" kata Lisa sambil menyenggol Noah.
Bukannya menjawab iya, Noah malah menggeleng dan berusaha melepas tangan Lisa dari lengannya. "Lisa, aku ingin pulang. Aku sangat lelah."
Olive mendadak emosi. Beberapa minggu setelah tak melihat mereka berhubungan, nyatanya tak merubah sikap Lisa. Malah Lisa semakin menjadi dan tergila-gila dengan Noah. Setiap hari Lisa bahkan sering mabuk sambil meracau sering menyebut nama Noah berulang kali di kamarnya. Hal itu sering membuat Olive merasa frustrasi.
"Lisa, pikirkan lagi Noah tak sepadan dengan keluarga kita," kata Olive memperingati.
"Jadi ibu lebih memilih aku gila setiap hari?"
Olive sebenarnya merasa putus asa dengan kelakuan anaknya. Apalagi setiap mabuk gadis itu selalu berkelakuan buruk, meracau yang tak jelas menyebutkan tentang dunia lain, bahkan membanting-banting barang di rumah itu. Olive sudah merasa angkat tangan, sampai tak jadi menjodohkan Lisa dengan anak temannya.
"Yah, tapi pikirkan lagi," kata Olive memohon, "Noah, katakan kalau kamu sudah mempunyai calon istri yang lain. Bukankah kamu masih berhubungan dengan Helen."
"Bukan Helen, tapi gadis dari dunia lain, Bu. Tak mungkin kan Paman menikah dengan hantu," kata Lisa ingin sekali tertawa.
"Sudahlah, sebaiknya aku pulang saja. Tak enak rasanya kalau malam-malam begini bertamu," kata Noah tak mau berdebat.
Noah tak pedulikan dengan perdebatan antara Lisa dan ibunya. Meskipun sekarang Olive tidak berperilaku buruk kepadanya, tetap saja dia merasa enggan berhubungan baik lagi dengan keluarga Lisa. Noah lebih memilih pulang di menit itu juga.
"Lihatlah, Bu. Aku sudah menentukan tanggal pernikahan aku dan paman Noah nanti. Ibu harus setuju, karena sebentar lagi ibu akan memiliki cucu," kata Lisa sambil menunjuk sebuah kalender.
Olive kaget dengan kata-kata Lisa barusan. Seorang cucu? Mungkinkah mereka berdua telah berbuat sampai memutuskan menikah? Pikir Olive dalam hati.
"Apa maksudmu Lisa? Apa kamu telah mengandung anak Noah?"
Bukannya menjawab, Lisa malah tersenyum seakan menyembunyikan sesuatu. Tentu saja bukan anak Noah, karena malam itu mereka sama sekali tak berhubungan. Jangankan untuk berhubungan badan, untuk berdiri saja Noah tidak mampu. Terlalu payah Noah saat itu, menurut Lisa. Sampai dia memanipulasi kejadian dengan menghadirkan pria lain.
"Aku tidak akan membiarkan siapa pun memiliki Noah. Tidak juga dengan gadis dari dunia lain itu. Aku akan berusaha menyingkirkannya."
***
Di tempat lain di jalanan sebuah hutan. Sindi terus berjalan diikuti ke dua orang tuanya. Sindi menemukan satu persatu origami burung bangau di sepanjang perjalanan dan mengumpulkannya ke dalam tas. Dia baru mendapatkan 4, tinggal tersisa tiga lagi agar dia bisa bertemu dengan Zero.
Tapi di mana? Bahkan dia seperti kehilangan jejak.
"Sindi, di sini terlalu berbahaya untuk kita. Meskipun di sini hutan lindung, tetap saja ada hewan buasnya," kata Ayah Sindi memperingati. Kerena sepertinya usahanya akan sia-sia.
"Aku hanya perlu menemukan tiga origami lagi ayah. Aku yakin akan menemukannya sebentar lagi," jawab Sindi terlihat murung.
"Sindi, benar kata ayahmu terlalu berbahaya di sini. Bukannya kita akan menemukan Zero tapi malah dimakan hewan buas." Sinta menambahi..
Sindi malah diam. Tetap bersikukuh dengan pendiriannya untuk meneruskan pencarian. Sindi diam beberapa detik, sampai akhirnya indera penciumannya menangkap sesuatu yang tajam. Seperti bau asap dari kayu bakar.
"Tidak mungkin kan ada orang yang membakar kayu di tengah hutan seperti sekarang?" tanya Sindi melihat bergantian ayah ibunya sambil terus mempertajam indera penciuman, "baunya ada di arah pukul jam sembilan. Sepertinya tidak jauh. Tolong antar aku ke sana, Ayah."
Sindi sangat yakin yang membakar kayu adalah Zero. Tidak mungkin orang lain, apalagi ada yang sengaja membakar hutan itu dalam keadaan habis hujan seperti sekarang.
"Baiklah, untuk kali ini saja," kata Ayah Sindi.
Sindi di temani ke dua orang tuanya berjalan terus memasuki hutan. Meskipun sudah biasa memasuki hutan saat tinggal di desa, tetap saja mereka merasa takut kalau tidak dipaksakan.
"Lihat, Ayah. Satu origami lagi aku temukan," kata Sindi. Tangannya menunjuk di dedaunan karena Zero menaruh origami buatannya di atas.
Sindi berlari hendak mengambilnya. Namun, sebelum dia berhasil meraih, sesuatu yang bergerak ke luar dari semak di bawah dedaunan.
"Roar!!!"
Seekor macan kumbang menyeringai ke arah Sindi dan membuat gadis kecil itu terjatuh. Ayah Sindi langsung sigap dan menolong anaknya agar berdiri, menyuruh Sinta untuk menjauh.
"Sinta bawa anakmu menjauh," perintah ayah Sindi.
Refleks Sinta pun menarik anaknya menjauh. Kini tinggal ayah Sindi dan seekor macan kumbang yang menyeringai ke arahnya, seakan ingin menerkamnya untuk santapan malam ini.
Ayah Sindi merasa terancam langsung mengambil ranting untuk menjauhkan sang macan. Ayah Sindi lebih takut kalau mereka mati sia-sia tanpa melakukan perlawanan. "Pergi, atau aku tusuk dengan ranting ini," balas Ayah Sindi tak kalah menyeringai.
"Roar!!!"
Sang macan terus melangkah maju tanpa mengalihkan pandangan sekali pun ke arah lain. Siap menerkam mencari cela saat Ayah Sindi sudah terpojok.
"Ayah," teriak Sinta dan Sindi sambil menangis. Apalagi saat ranting yang dipakai ayahnya untuk menghalau tak bisa membuat macan kumbang takut.
"Sinta cepat bawa lari anakmu," teriak Ayah Sindi dengan suara parau. Dia sudah pasrah kalau nanti akan dimangsa.
Tinggal beberapa inci lagi diterkam. Suara langkah kaki yang sedang berjalan mendekat ke arah mereka. Sangat cepat hingga akhirnya terdengar suara teriakan.
"Berhenti!"
Seorang anak lelaki dengan gagah berani, memegang bambu panjang sambil membawa sebuah kayu dengan api yang membakar di ujungnya. Terus melangkah ke tengah sambil menatap tajam ke arah hewan buas di depannya.
"Pergi!"
Zero mengarahkan sebilah bambu dan kayu yang dibakar tadi ke arah macan, memperlihatkan giginya seakan mengancam hewan buas itu agar menyingkir.
Sontak, sang macan pun ketakutan. Bukan hanya karena bambu atau kayu bakar tadi. Meskipun tubuh Zero sangat kecil, tapi kilatan mata Zero yang sangat tajam, membuat hewan buas itu ketakutan tak bernyali. Ada sesuatu di dalam tubuh Zero yang membuat hewan buas itu lari ketakutan.
"Zero!" seru Sindi takjub sekaligus terharu begitu ayahnya selamat.
Ternyata orang yang menolong ayahnya adalah lelaki kecil yang sedang dia cari. Sindi langsung berlari memeluk ayahnya setalah hewan buas tadi lari menjauh, begitu juga dengan Sinta.
"Ayah, maafkan Sindi. Apa ayah terluka?" tanya Sindi sambil menangis.
Sambil dipeluk anak dan istrinya, Ayah Sindi tersenyum melihat ke arah Zero. Baru kali ini dia paham alasan mengapa anaknya begitu keras kepala ingin menemui Zero. Yah, karena Sindi sangat menyukai lelaki yang gagah berani sepertinya ayahnya. Dan dia temukan dalam sosok Zero.
Ayah Sindi mengusap pucuk kepala anaknya. Sambil berkata, "ayah tidak terluka sedikit pun. Dia lelaki yang kamu cari 'kan?" tanyanya dengan lembut.
Sindi mengangguk. Tampak bahagia sekaligus terharu bisa sampai sejauh ini untuk mencarinya dan usahanya ternyata tak sia-sia. Sekarang lelaki kecil itu sedang tersenyum. Zero berjalan pelan ke arah Sindi sambil menyodorkan origami burung bangau di telapak tangannya.
"Ini untukmu. Maaf, hanya tinggal satu," kata Zero sedikit sedih.
Sindi mengambil empat origami di dalam tas, kemudian mengambil satu lagi di atas dedaunan tadi. Sekarang sudah terkumpul lima origami. Satu laginya ada di tangan Zero.
Sindi meraih origami burung bangau dari tangan Zero, dan menunjukkan lima lainnya. "Terima kasih, enam origami ini aku terima."
Alis Zero terangkat sedikit. Kalau Sindi berhasil mengumpulkan dan mendapatkan origami tersebut, harusnya berjumlah tujuh. Lalu di mana satu laginya? Batin Zero.
Sinta langsung memeluk Zero. Membersihan kotoran yang menempel di tubuh dan baju Zero dengan tangannya. "Syukurlah kamu bisa selamat Zero. Tidak hanya ke dua orang tuamu, bahkan Sindi anakku akan bersedih sepanjang hari. Kenapa kamu diam, bukankah harusnya senang."
Sinta melihat Zero seperti memikirkan sesuatu. Terlihat sekali ada perasaan yang mengganjal pada diri bocah kecil itu.
"Maafkan aku Sindi, aku tidak bisa menepati janji karena hanya memberimu enam origami burung bangau," kata Zero menunduk.
Ayah Zero tersenyum, dia lalu menghibur Zero. "Tak apa, kamu bisa membuatnya lagi nan–"
"Apa kalian mencari ini?"
Sebuah suara mengagetkan ke empat orang yang sedang berpelukan itu. Sontak, kesemuanya melihat ke arah sumber suara. Mereka melihat Aluna dan Alvin sedang berjalan mendekat.
"Origami burung bangau ini 'kan yang kalian cari?" tanya Aluna, "aku menemukannya tadi di jalan. Sindi, aku berikan langsung kepadamu. Sebagai tanda kalau kami sudah menerimamu," kata Aluna sambil menyerahkan satu origami yang dia temukan kepada Sindi.
"Terima kasih, Bibi," jawab Sindi tersipu malu di sebelah kedua orang tuanya.
"Aku sangat menyukaimu," kata Aluna lagi kepada Sindi.
"Kalian anak yang pintar," kata Alvin menambahi.
Alvin dan Aluna datang sambil membawa satu origami yang mereka temukan di jalan tadi. Dari awal dia yakin itu adalah milik anaknya.
Rupanya Zero tak sengaja menebar di dua jalan Utara dan Selatan menuju hutan. Yang Utara, Sindi yang lebih dulu menemukannya. Sementara Aluna dan Alvin lewat di jalur selatan.
Aluna melihat asap yang mengepul di udara dari dalam hutan. Lewat asap itulah, yang menuntunnya sampai ke dalam hutan.
"Mama ... papa," teriak Zero sambil berlari hendak memeluk ke dua orang tuanya.
Alvin langsung merentangkan tangan, kemudian memeluk erat anaknya. "Jagoan kecilku."
"Sudah aku duga kamu adalah anak yang hebat," kata Aluna sambil mencium pipi Zero.