TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 273. Menghubungi Aluna


"Duduklah yang tenang di belakang," kata Yuze setelah Zero duduk di belakang kursi kemudinya.


Zero berusaha tenang meskipun di dalam hatinya merasa waspada. Tadi sebelum naik, dia sempat menolak ikut dengan Yuze. Namun, kepala sekolah malah melarangnya untuk tetap tinggal.


"Origami yang kamu buat sangat bagus, Zero. Taruh saja di sini," kata Lily sambil menunjukkan dashboard mobil.


Zero langsung menyembunyikan burung origami yang dia buat ke dalam tas sekolahnya. Dia tak mau Lily mengambil apalagi sampai memegangnya. "Tidak, Bibi. Sebaiknya aku simpan saja di dalam tas."


"Terserah kamu, Zero. Lagipula aku tak tertarik sama sekali dengan hasil karyamu."


Lily mulai menunjukkan sikap ketusnya terhadap Zero. Tak mau berpura-pura lagi karena dia akan menghilangkan bocah kecil itu secepatnya setelah sampai nanti.


Lily dan Yuze saling melirik. Seakan memberikan isyarat agar lelaki tersebut berbelok arah menjauhi mobil Clara di depan.


Zero tak banyak bicara, masih diam sambil mengamati jalanan. "Bibi, arah toko mainan ada di sebelah sana. Kenapa kita malah berbelok?" tanya Zero merasa curiga.


"Jangan banyak protes, kamu tinggal diam saja di tempat karena sebentar lagi kita akan sampai. Semakin kamu berisik, yang ada Yuze tidak fokus menyetir," kata Lily setengah membentak.


"Aku tidak percaya, bibi akan membawaku kepada Sindi. Sebenarnya Bibi ingin membawaku ke mana?"


Sekali lagi Lily melirik Yuze yang fokus menyetir sambil melihat arah map di ponselnya. Yuze baru kali ini melewati rute menuju pelabuhan, jadi dia membutuhkan asisten petunjuk arah dari ponselnya.


"Sudah kubilang jangan berisik! Lihat paman Yuze jadi tidak fokus. Kamu mau kita tersesat?" kata Lily, "lagipula aku tak sejahat ibumu dulu yang sengaja membuangmu dari lahir selama lima tahun ini. Ibumu itu sangat kejam seperti iblis. Luarnya saja baik, tetapi dalamnya tidak. Kamu pikir tak akan dibuang lagi setelah ini?"


Lily tersenyum miring terus menakut-nakuti Zero yang duduk di belakang. Melihat ekspresi wajah Zero yang cukup tenang, dia yakin rencananya akan mulus berjalan seratus persen.


"Mama tidak seburuk itu. Bibi pasti tidak mengenal siapa Mama Luna." kata Zero membela.


"Tidak mengenal? Membuang anak selama lima tahun apa masih belum cukup untuk dikatakan seperti iblis? Kamu tak paham, masih terlalu lugu dan kecil, Zero."


"Aku tidak tahu bagaimana rupa iblis. Apa wajahnya seperti Bibi?"


Ucapan Zero begitu menohok. Sampai membuat Lily naik pitam ingin memukulnya dan segara mendorong Zero dari mobil ke jalanan.


"Lancang sekali kamu!"


"Lily jaga sikapmu! Aku bisa menabrak mobil kalau kalian terus berseteru di dalam mobil," kata Yuze berusaha menahan Lily untuk tidak berlaku kasar terhadap Zero.


"Tenang saja Zero sudah ada bersamaku," jawab Lily berbicara di telepon.


Helen di tempatnya tersenyum puas. Dia sudah menyusun rencana dari kemarin untuk menyingkirkan Zero, membawanya ke pelabuhan. Mereka berniat mengirim Zero ke pulau terpencil.


"Dia baik-baik saja. Sebentar lagi mobil kita sampai ke pelabuhan. Kamu sudah hubungi orang yang akan membawa anak ini 'kan?" tanya Lily.


"Yah, dia sudah menunggu di pelabuhan satu jam yang lalu. Setelah ini kalian tahu kan akan berbuat apa lagi?" tanya Helen di seberang sana lewat telepon.


"Tentu saja Helen, jangan khawatir. Aku sudah menyewa seseorang untuk memanipulasi keadaan kalau Yuze diculik. Aku yakin Nenek Alma tidak akan mencurigai kita."


Pembicaraan bibinya di telepon sengaja didengar Zero. Dia yakin Lily sedang membicarakan dirinya, berniat menyingkirkannya setelah sampai nanti.


Zero ingat pesan gurunya agar menghubungi Aluna cepat. Saat Lily sedang sibuk mengobrol di telepon, Zero segera menghubungi Aluna lewat smartwatch yang melingkar di pergelangan tangannya.


Mamah, angkat teleponnya. Aku dalam bahaya, batin Zero sambil terus menekan nomor Aluna bergantian dengan nomor Alvin. Namun sayangnya tak satu pun diangkat.


Zero tak menyerah, ditekannya lagi dan lagi nomor Aluna beharap ibunya itu segera menyusulnya cepat.


"Kamu sedang apa, Zero?"


Rupanya apa yang dilakukan Zero keburu ketahuan oleh Lily. Dia langsung melepas dan menarik paksa smartwatch yang sedang dipegang Zero.


"Beraninya kamu menghubungi ibumu. Apa kamu tidak percaya dengan kami, Hah!" bentak Lily.


"Kembalikan, Bibi. Atau turunkan aku di sini saja'" kata Zero berusaha meraih smartwatch di tangan Lily.


Sayangnya, Lily tak berniat sedikit pun mengembalikan benda tersebut kepada Zero. Lily terus menjauhkannya. Lily memberitahu Yuze, berbisik di telinganya kalau rencananya sudah tercium oleh Zero.


"Bibi, kembalikan!"


Akan tetapi, bukannya mengembalikan Lily malah membuangnya lewat jendela. Lily tampak tersenyum puas dengan ekspresi kesedihan di wajah Zero.


"Jangan buang waktu dengan mengubungi Luna! Kamu itu dari dulu adalah anak yang terbuang dan pembawa sial. Lihat sudah puluhan panggilan tapi tak satu pun diangkat. Harusnya kamu tahu alasan apa sampai Ibumu tidak mengangkat teleponmu? Yah, karena dialah yang menyusun rencana ini. Luna sengaja meminta bantuan Bibi untuk membawamu pergi jauh dari kehidupan ayahmu. Jadi, kamu jangan membelanya lagi," kata Lily sambil menunjukkan senyum liciknya.