
Nenek Alma membaca selembar laporan yang sudah di print Alvin di meja ruang tengah. Wanita tua yang sedang mengenakan kaca mata itu tampak mengerutkan keningnya mencoba menelaah satu demi satu tulisan. Ekspresinya langsung berubah begitu membaca hasil laporan yang menyatakan kalau Helen yang melukai tangannya sendiri.
"Sudah kuduga kalau Luna tidak bersalah!" Nenek Alma menaruh selembar kertas itu lagi ke meja. "Benar-benar wanita licik! Rubah betina! Beraninya kamu membohongiku lagi," gerutunya lagi.
"Pelayan An!" teriak Nenek Alma memanggil pelayannya.
"Iya, Nyonya," sahut pelayan An.
Wanita yang dari tadi berdiri di depan pintu itu langsung berjalan cepat menghampiri Nenek Alma. Dari raut wajah yang ditunjukkan majikannya itu, menurutnya seperti sedang marah, membuat pelayan An enggan mendekati.
Nenek Alma melirik sekilas ke arah pelayan itu. "Panggil semua keluarga ke sini. Aku akan memberitahukan pengumuman penting!" serunya lantang.
"Baik, Nyonya." Tidak menunggu lama, pelayan An langsung bergegas pergi.
Sayangnya pelayan An hanya berhasil memanggil Clara, sementara Aluna yang masih terlelap belum boleh dibangunkan. Sedangkan Alvin dan Anming sudah jelas tidak ada di mansion karena sedang bekerja.
Clara yang sudah berdandan cantik bersiap akan pergi bersama teman-temannya pun terpaksa menunda. "Ada berita apa, Nek? Sepertinya ada hal penting yang ingin dibicarakan?" tanya Clara ketika dia sudah duduk bersebelahan dengan nenek Alma.
"Bacalah laporan ini," ucap Nenek Alma seraya menyerahkan selembar kertas kepada menantunya.
Clara langsung meraihnya, dibacanya pelan isi dari laporan itu. Ekspresi wajah Clara pun tak beda jauh dari Nenek Alma, dia juga tampak marah dan kesal.
"Tak ada kapoknya Helen menjebak Luna! " seru Clara.
"Clara, panggil Helen dan ibunya kemari. Aku ingin tahu bagaimana tindakan Mona selanjutnya, ketika mengetahui kalau Anaknya sudah bersalah. Bukankah dia yang paling lantang meminta Helen kembali bekerja dengan Alvin," perintah nenek Alma.
Clara tampak kesal, sudah dua kali Helen memanipulasi kesalahannya kepada Luna. Dia yang awalnya respect kepada Helen berubah membencinya. "Aku tidak yakin Helen akan mengakui kesalahannya. Perempuan itu kan seorang manipulator licik, dia akan mengelak apa pun kalau dia tak bersalah walaupun bukti sudah ada di depan mata."
"Kalau dia tak mau mengakuinya, bilang saja kalau kita akan mengakhiri kerja sama perusahan kita dengan perusahaan Hideon," kata Nenek Alma.
Clara yang malas berbicara dengan Mona menyuruh pelayan An agar menghubunginya lewat telepon.
Lewat sepersekian detik Pelayan An langsung menghubungi Mona. Saat telepon terhubung, Mona begitu tercengang, dia sebenarnya tahu kalau anaknya lah yang bersalah, membuatnya enggan datang lagi ke rumah Alvin. Namun, karena desakan dan ancaman dari nenek Alma akhirnya mau tak mau dia mengiyakan dan harus datang ke mansion hari ini juga.
"Nyonya Mona bilang, Dia belum bisa datang sekarang karena Nona Helen sedang tidak ada di rumah." Pelayan An menjelaskan kepada Nenek Alma.
"Aku yakin Mona pasti takut dan berbohong kalau Helen tidak ada di rumah. Ibu sama anak sama saja memiliki hobi playing victim demi mendapatkan apa yang menjadi incarannya. Dua kali dia menjebak Luna, besok entah apa lagi yang akan dia lakukan. Apa perlu kita laporkan kepada polisi, Nek?" Clara terus menggerutu, mengeluhkan tindakan Helen.
Nenek Alma juga semakin geram. "Kita bicarakan ketika mereka sudah sampai sini," ucap nenek Alma, "Pelayan An katakan pada Mona, kalau dia tak datang ke sini hari ini, kita akan limpahkan kasus ini kepada polisi."
***
"Siapa nama Anda?" tanya salah satu anggota polisi.
"Namaku ... Arabella," ucap Ara pelan.
Ara awalnya ketakutan tidak mau dibawa ke kantor polisi, terpaksa ikut karena dua petugas itu akan menjadikannya tersangka kalau Ara tidak kooperatif.
Polisi itu menaikkan alisnya. "Bisa tunjukan identitas Anda?"
Ara menggeleng, jelas dia tak membawanya. Kemudian Ara menyebutkan alamat tempat tinggal dia yang asli. Namun, saat Ara menyebutkan daerah tempat tinggalnya, polisi kembali kebingungan pasalnya nama tempat yang Ara beritahu tidak pernah dia dengar dan tidak ada.
"Jangan bercanda dengan polisi, Nona! Tidak ada nama tempat yang Anda katakan tadi!" Bentak polisi itu lagi.
"Apa tidak ada nama tempat tinggal yang aku sebutkan tadi?" Ara malah balik bertanya.
Polisi tadi lalu meminta Ara menyerahkan ponsel di tangannya. Dia ingin mengetahui nama asli dari data di handphone yang dibawa Ara.
"Nama Anda adalah Olivia Helen Tanuel, kenapa Anda terus berbohong? Dan satu lagi nama tempat yang Anda sebutkan itu tidak ada. Anda sedang tidak berhalusinasi, bukan?" Petugas polisi terus mengamati perilaku Ara yang absurd.
Jadi tidak ada nama daerah tempat tinggalku di sini? Lalu, aku ada di mana sekarang? Di daerah mana aku tinggal? batin Ara.
Pernyataan polisi membuat Helen putus asa. Dia yang ketakutan mau tak mau mengiyakan kalau dia adalah Helen. Perilaku Ara membuat polisi menduga kalau dia kurang waras.
Setelah setengah jam berlalu, Ara keluar dari kantor polisi. Meskipun awalnya tidak percaya karena Ara memberikan alamat palsu. Kronologis yang Ara katakan dapat di percaya karena sesuai dengan keterangan di CCTV. Polisi sudah menyatakan kalau kecelakaan yang terjadi murni akibat keteledoran pengemudi.
"Helen! Namamu Helen, bukan? Bukankah kamu adalah sekretaris Alvin? Aku ingin berterima kasih denganmu sebentar." Tiba-tiba saja Noah yang sedang menunggu di depan kantor polisi mendekati Ara lalu menepuk pundaknya.
Ya, Noah memang tidak terlalu mengenal dekat Helen. Namun, dia pernah mendengar dan mengetahui siapa Helen. Noah tak menyangka kalau bidadari yang menolongnya itu adalah Helen, sekretaris Alvin.
Ara langsung menghentikan jalannya dan menoleh, "Kamu! Bukankah kamu yang mengalami kecelakaan itu?" Ara balik bertanya, dia memandangi lekat wajah Noah karena kagum.
Beruntungnya Noah tidak mengalami luka parah. Dia hanya memiliki luka di bagian dahi. Polisi yang melihat dia sudah sadar juga menyuruh Noah memberikan keterangan di kantor polisi.
Noah sudah melihat CCTV yang ada di kantor polisi. Awalnya dia tidak tahu kalau wanita yang menolongnya adalah Helen karena dia hanya melihat samar-samar. Yang Noah tahu, ada seorang wanita cantik menolongnya mati-matian dari dalam mobil. Tidak hanya menolongnya tetapi juga menolong Lisa dan temannya. Ara menolong mereka bertiga karena melihat asap pada mobil itu. Ara takut mobil yang mereka tumpangi akan meledak, membuatnya menarik ketiga orang itu keluar.
"Panggil saja aku Noah. Terima kasih sudah menolongku dan kedua temanku." Noah mengulurkan tangannya berkenalan sekaligus berterima kasih.
Ara tampak terkesima beberapa detik memandangi wajah Noah. Dia tampak kagum karena wajah Noah sama persis dengan artis idolanya di dunia nyata.
"Oppa!" seru Ara tanpa sadar memanggil Noah.