TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Mona yang Kehilangan


"Nona Helen tidak ada di kamarnya, Nyonya." Seorang asisten rumah tangga keluarga Hideon memberitahukan kepada Mona.


"Tidak ada? Apa dia sedang berada di kamar mandi?" tanya Mona.


Asisten rumah tangga kembali menggeleng. "Di kamar mandi juga tidak ada, Nyonya. Di taman belakang pun tidak ada," ucapnya sambil terus menunduk.


Mona yang tidak percaya segera menaruh kembali teh yang barusan dia minum ke meja. Dia masih berusaha cukup tenang berjalan menuju kamar anaknya.


"Helen, waktunya makan siang. Kenapa kamu tidak kelu--" Ucapan Mona terhenti ketika tidak ada siapa pun di kamar anaknya ketika dia membuka pintu.


Mona langsung mencari ke kamar mandi kemudian berjalan lagi ke ruangan samping tempat biasa Helen menghabiskan waktu di rumah itu. Namun, tetap saja dia tak menemukannya.


"Di mana anakku? Dia sedang sakit, siapa yang membolehkannya keluar?" Bentak Mona kepada dua asisten rumah tangga di depannya.


Satu asisten rumah tangga berjalan menunduk mendekati Mona yang tengah gusar. "Maaf, Nyonya," ucapnya pelan dan ketakutan.


Mona mendelik ke arahnya. "Apa yang ingin kamu katakan?"


"Nona Helen keluar dari rumah ini saat hari masih gelap. Nona berbicara padaku kalau dia hanya pergi sebentar. Aku tidak tahu kalau Nona Helen akan pergi lama," ucap asisten rumah tangga.


Mendengar itu darah tinggi Mona langsung naik. "Sudah aku katakan jaga anakku di kamarnya. Dia sedang sakit, pikirannya sedang kacau. Kenapa kamu malah memberinya pintu untuk keluar!" Teriak Mona begitu marah.


"Ma-maafkan aku, Nyonya. Nona Helen--" Belum menyelesaikan kata-katanya Mona langsung menampar pelayan itu.


Plak!


"Tidak becus!" Mona berjalan cepat meninggalkan mereka berdua lalu menuju ruangan pribadinya. Masih dalam pikiran kacau sekaligus panik, Mona membuka komputer, mencari file CCTV di dalamnya. Dia hendak memutar rekaman CCTV rumahnya pagi ini.


Dari rekaman yang dia putar, Mona melihat Helen keluar rumah pada pukul tiga pagi. Mona melihat gelagat anaknya yang tidak biasanya. Dari ekspresi yang dia lihat sepertinya anaknya itu sedang kebingungan. Melihat ke sekeliling rumahnya seperti orang asing.


"Helen!" Mona menutup mulutnya berusaha menahan tangis, "kenapa dia terlihat kebingungan seperti waktu itu? Mungkinkah akibat sinkop itu kepribadiannya berubah lagi? Tidak! Aku harus cepat menemukan anakku. Kondisinya benar-benar sedang tidak stabil." Mona tidak bisa menahan cairan bening yang keluar dari sudut matanya.


Mona terus mengecek ke mana perginya Helen. Yang Mona merasa curiga, anaknya itu tidak mungkin keluar rumah dengan keadaan memakai pakaian tidurnya. Helen selalu keluar rumah dengan tampilan elegan dan cantik. Tidak mungkin Helen keluar rumah tanpa riasan sedikit pun apalagi dalam keadaan rambut acak-acakan dan mengenakan sandal kamarnya.


Karena terus curiga, Mona akhirnya menghubungi polisi. Dia menceritakan kejadian hilangnya Helen lewat telepon kepada polisi. Sayangnya, polisi masih belum menanggapi. Menurut polisi, Helen adalah wanita dewasa yang tidak memiliki gangguan mental, jadi tidak mungkin dia kabur dari rumah. Ditambah lagi menurut polisi, laporan yang dibuat Mona terlalu tergesa-gesa karena baru beberapa jam setelah kepergian Helen.


Merasa kecewa laporannya tidak ditanggapi, Mona langsung menutup telepon sepihak. Mona terkulai lemas di tempat duduknya. Ya, walaupun Helen sudah dewasa, dengan kepergian mendadak Helen seperti sekarang membuatnya begitu cemas dan ketakutan.


Mendengar ada suara tangisan. Hideon yang masih berada di kamarnya mendekati Mona. Dia bertanya-tanya kenapa istrinya sehisteris itu sampai menangis kencang.


"Ada apa denganmu, Mona? Kenapa kamu menangis sekencang itu?" Hideon berjongkok membantu Mona agar bangun.


Namun, Mona menepis tangan Hideon. Dia masih meraung-raung menangisi kepergian anaknya. "Helen, anakku kabur dari rumah pagi tadi. Kondisi dia sedang tidak stabil. Tidak biasanya dia keluar rumah pada pukul tiga pagi, apalagi dalam kondisi penampilan yang berantakan. Aku yakin stresnya kambuh lagi. Tolong cari anakku sampai dapat, kalau tidak aku tidak ingin hidup lagi!" Mona menarik baju Hideon membuat lelaki itu ikutan panik.


"Mona, tenanglah! Mungkin Helen sedang ada keperluan mendesak. Sebentar lagi anak kita pasti akan kembali." Hideon mencoba menenangkan istrinya.


"Ini sudah jam sebelas siang. Aku yakin anakku sedang terlunta-lunta di jalan. Aku takut dia kembali amnesia dan aku takut seseorang memanfaatkan keadaan Helen untuk mencelakainya. Ini semua gara-gara Nyonya Clara yang memecat Helen. Kalau itu tidak terjadi, tidak mungkin Helen frustrasi seperti sekarang. Lihatlah video rekaman CCTV ini." Mona terus berkata sambil menangis menunjukkan rekaman CCTV kepada Hideon.


"Tenangkan dirimu. Lagipula semua ini juga karena salah anakmu. Kenapa dia berusaha menjebak Luna. Kalau kebenaran ini tidak terungkap, sudah pasti Luna lah yang menerima akibatnya bercerai dari Alvin. Sudahlah! Lebih baik kita bina anak kita agar kembali ke jalan yang benar." Hideon berusaha menengahi.


Namun, tetap saja Mona tidak terima. Dia tetap menginginkan anaknya kembali seperti dulu. Mona ingin anaknya kembali bekerja agar stres yang diderita Helen menghilang. "Kamu tahu kan Helen dengan susah payah mendapatkan posisi itu. Tolong bujuk Luna agar Alvin mau memperkerjakan anakku lagi. Setelah itu aku akan menasehati Helen agar tidak mengganggu rumah tangga kakaknya lagi," ucapnya memohon.


Karena tidak tega dengan istrinya Hideon pun mengangguk. Dia mendudukkan Mona di sofa memberinya minum dan menenangkan istrinya. Hideon berulang kali menghubungi Luna namun telepon masih dalam panggilan lain.


Saat Mona mulai tenang, tiba-tiba Luna balik menelepon Hideon. Lelaki itu berbicara di sebelah istrinya dan otomatis pembicaraan mereka pun semuanya didengar langsung oleh Mona.


"Halo anakku, Luna." Sapa Hideon di telepon.


^^^"Ya, ada perlu apa Ayah meneleponku?" tanya Luna.^^^


"Luna, aku ingin memberitahukan kalau Helen kabur dari rumah pagi-pagi sekali. Kami melihat CCTV sepertinya Helen pergi dalam kondisi tidak stabil."


^^^"Lalu apa karena berita ini Ayah menghubungiku berulang kali? Helen hanya ingin mencari sensasi. Aku yakin sebentar lagi juga dia akan pulang."^^^


"Kami sangat khawatir stresnya kembali kambuh. Kami takut dia kembali amnesia seperti kemarin dan terlunta-lunta di jalan. Luna, kalau bisa kembalikan posisi Helen sebagai sekretaris Alvin lagi agar dia bisa sembuh. Mona berjanji akan menasehati Helen agar tidak mengganggumu lagi." Hideon terus memohon.


^^^"Amnesia? Aku tidak percaya! Tidak Ayah, aku tidak menerima Helen sebagai sekretaris suamiku lagi. Lagipula aku sendiri yang akan menjadi sekretaris Alvin mulai hari ini."^^^


Mendengar Aluna akan menjadi sekretaris Alvin. Mata Hideon dan Mona membulat. Bagaimana mungkin anaknya yang pemalas dan tidak memiliki bakat apa pun berniat menjadi seorang sekretaris perusahan besar. Ya, walaupun Alvin adalah suaminya tentu saja profesi yang akan dijalankan Aluna tidak main-main mengingat Aluna akan menghadapi rapat besar dan klien dari berbagai negara.


"Luna, kamu sedang tidak bercanda, bukan? Aku tidak mau nanti Alvin akan kecewa dan menghinamu lagi. Kalau begitu, sebaiknya kita adakan pertemuan keluarga dan membicarakan masalahmu dengan Helen setelah kita menemukannya."


^^^"Itu tidak akan terjadi, Ayah. Mulai hari ini aku putuskan akan menjadi sekretaris sekaligus asisten suamiku." Luna langsung memutuskan telepon.^^^