
Aluna meminta bertaruh dengan Devan, memintanya mundur dari lingkaran bisnis yang digeluti suaminya, apabila ia terbukti tidak bersalah. Jelas ini adalah taruhan yang sangat besar, terutama bagi Alvin, pria itu tampak tercengang mendengar kebijaksanaan istrinya. Di saat rumit seperti sekarang, bisa-bisanya Aluna hendak melumpuhkan salah satu pesaing bisnisnya.
Tentu, sangat menguntungkan bagi Alvin. Dengan mundurnya Devan, berarti satu pesaing kelas kakap akan gugur di lingkaran bisnisnya. Mata Alvin melebar, tampak jelas jika lelaki itu terkejut dan sama sekali tak menduga akan reaksi Aluna menyangkut taruhan yang diutarakannya kepada Devan.
Aku baru tahu kalau kau sangat perhatian, Luna. Batin Alvin.
Semenit setelah Aluna memberitahukan taruhannya, Helen berjalan mendekati Clara sambil membawa surat cerai di tangan kanannya. Wanita itu memanfaatkan kesempatan ini untuk ikut bertaruh dengan Aluna.
"Nyonya, bukankah Anda sangat yakin kalau memang kakakku, wanita di dalam video itu?" Helen langsung duduk di sebelah Clara yang masih tercengang.
Clara melihat lagi surat cerai itu, timbul dibenaknya rencana awal ia datang ke kafe itu. Ya, kedatangannya ke kafe adalah menyuruh Alvin menceraikan Luna.
"Aku kembalikan surat cerai dari Anda, Nyonya. Sekarang terserah, apa Nyonya akan membiarkan harga diri Tuan Alvin terinjak-injak kembali?" Helen berbisik, kembali memanasi Clara.
Seakan masih dibuat ragu dengan Luna. Clara mengambil surat itu, berpikir sejenak apa yang akan ia lakukan. Sebagai seorang ibu, Clara tidak mau melihat anaknya dibodohi oleh seorang wanita. Clara menginginkan yang terbaik untuk anaknya.
Dengan sangat tegas Clara berdiri lalu berbicara lantang. "Dengarkan aku sejenak! Baiklah, aku akan menengahi taruhan ini, aku juga akan memberimu kesempatan untuk membuktikan kalau kamu tidak bersalah asal dengan satu syarat," ucapnya pada Aluna.
Hentakan suara Clara, membuat seluruh tamu terdiam sesaat. Kini perhatian beralih kepada Clara yang sedang berdiri memegang sebuah surat di tangannya. Wanita itu tampak berbicara tidak memihak mana pun.
Melihat reaksi wanita paruh baya itu, Aluna lantas tersenyum, ia cukup tenang menanggapinya. "Baik, apa syarat yang ibu ajukan?" tanggapnya.
Clara menatap tajam kearah menantunya.
"Seandainya kamu terbukti bersalah? Malam ini juga kalian harus bercerai! Aku tidak akan menganggapmu sebagai menantu lagi!" seru Clara.
Itu tidak akan terjadi, Nyonya. Batin Aluna.
Belum sempat Aluna mengatakan setuju, Devan yang sangat yakin dia akan menang langsung menyela ucapan Clara. "Aku setuju, Nyonya!" sahutnya yakin.
Aluna menoleh ke arah Devan tersenyum miring sejenak, lalu memusatkan perhatiannya lagi kepada Clara. Tentu dia pun sudah pasti sangat setuju. "Rupanya Anda sangat percaya diri, Tuan! Aku juga setuju!" seru Aluna.
Aluna mendekati layar dan mengeluarkan USB dari kantongnya, lalu memasukkan benda berbentuk pipih itu ke sebuah lubang yang ada di bawah layar LED berukuran 120 inci.
"Terima kasih, sebelum aku mulai, mohon duduklah dengan tenang," ucap Aluna, secara tidak langsung ia menyuruh mertuanya agar duduk ke tempat semula.
Setelah sama-sama setuju, Aluna langsung menyalakan layar LED hendak memutarkan video yang sudah ia simpan. "Mohon perhatiannya sejenak agar tidak bersuara! Aku akan memutar video seseorang yang akan memberi kesaksiannya di sini," ucapnya sembari memencet tombol on.
Melihat Aluna akan menayangkan sebuah video, Helen terlihat panik. Hampir saja ia maju ke depan lalu mengacaukan apa yang akan Aluna lakukan. Namun, sebelum itu terjadi Alvin lebih dulu melarangnya. Memberi isyarat agar Helen tetap duduk di tempat.
Apa jangan-jangan dia memiliki duplikat video itu? Batin Helen cemas.
Scene pertama menampilkan seorang wanita yang sedang duduk dengan beberapa luka lebam di wajahnya. Wanita itu adalah Yuka, Aluna lalu memutar pelan video berdurasi sekitar lima belas menit itu.
***
...Interogasi dalam video yang dibuat Aluna....
..."Perkenalkan nama Anda, Nona." Aluna mulai menginterogasi Yuka....
Di dalam video wajah Yuka masih menunduk, hanya memperlihatkan rambut panjangnya yang tergerai dan sangat mirip dengan rambut yang dimiliki Aluna.
..."Namaku, Yuka Nata," sahutnya....
..."Apa benar wanita dalam video panas itu adalah Anda, Nona Yuka Nata?" tanya Aluna tegas. ...
Di dalam video itu hanya memperlihatkan Yuka seorang diri, sementara Aluna hanya menampakkan suaranya saja.
Hening sejenak,
Brak!!
Terdengar suara gebrakan meja.
..."Katakan dengan keras Nona Yuka Nata!" teriak Aluna....
...Yuka terkesiap. "Be-benar wanita dalam video itu adalah aku," ucap Yuka terbata....
Beberapa detik kemudian, terlihat sebuah penggaris yang dikendalikan Aluna menegakkan wajah Yuka, membuatnya terlihat jelas di kamera video.
..."Perlihatkan wajah cantikmu, Nona."...
Ketika wajah Yuka diperlihatkan, para tamu yang menonton langsung tercengang. Semakin penasaran dengan interogasi selanjutnya.
..."Apa video itu dibuat atas dasar kemauanmu sendiri? Atau ada pihak lain yang menyuruhmu membuat video panas bersama Devan malam itu?"...
Sempat diam sejenak, terlihat wajah Yuka yang mulai ketakutan. Namun, lewat sepersekian detik wanita itu kembali berbicara.
..."A-aku membuat video itu atas suruhan Nona Helen dan Tuan Devan."...
Duarr!!
Pengakuan Yuka barusan bagaikan bom yang meledak di sekitar mereka. Tak merasakan suara dan wujudnya. Namun, mampu membuat semua yang menontonnya terkaget. Sekarang semua tamu mengarahkan pandangan ke arah Helen dan Devan yang dari tadi nampak bersikap tenang seolah tak bersalah.
Tidak hanya para tamu yang saling berbisik membicarakan Helen, tetapi juga Clara. Berkali-kali dia menggelengkan kepalanya masih belum yakin mendengar pengakuan Yuka.
Sementara Alvin. Ya, pria itu tampak tenang menyaksikan pertunjukan istrinya menganiaya Yuka. Dalam hatinya berpikir, Aluna benar-benar wanita yang sangat hebat, karena berhasil menemukan bukti yang menurutnya tidak mungkin didapatkan dalam waktu secepat itu.
Jadi tadi sore dia pergi dariku, karena ingin memukuli wanita itu? Jangan-jangan ototmu terbuat dari besi? Berhasil membuat wanita itu babak belur seperti panci rongsok..ha..ha, batin Alvin.
Sesekali Alvin tersenyum melihat tingkah beringas Aluna. Ia sangat yakin kalau istrinya lah yang membuat babak belur Yuka dan berhasil membuat wanita itu membuka mulutnya.
..."Bagaimana kronologis kejadiannya? Cepat katakan secara terperinci!" Suara Aluna terdengar keras mengintimidasi Yuka....
Tiba-tiba.
"Jangan teruskan!" Mona yang merasa video itu menyudutkan anaknya, berdiri dan meminta Aluna menghentikan videonya.
Untuk sementara, video itu terpaksa di jeda Aluna. Karena ia tak mau dengan teriakan Mona, suara dalam video itu tak terdengar jelas.
"Hentikan, Luna. Kita bicarakan hal ini secara kekeluargaan. Bukankah dengan memperlihatkan video ini, keluarga kita akan tercemar, belum tentu itu semua benar. Mari kita bicarakan baik-baik." Mona memohon kepada Aluna.
Sepertinya Anda sedang membuat lelucon denganku, batin Aluna.
"Mana ibu tahu video ini benar atau tidak kalau belum melihatnya sampai habis! Sekarang aku mohon dengan sangat, diam lah sejenak. Bukankah para tamu di sini sangat penasaran dengan kelanjutannya, bukan?" Aluna menoleh ke semua tamu.
Para tamu mengiyakan dan memerintahkan Aluna meneruskan videonya. Sementara Helen yang tadi duduk bersebelahan dengan Devan, kini pindah di dekat kursi Hideon.
"Lanjutkan video itu!" Perintah Alvin.
Melihat tidak ada satupun orang yang mendukungnya. Mona mendekati suaminya, lalu bermanja-manja meminta pria itu menghentikan anaknya.
"Sayang! Tolong perintahkan Luna mengakhiri videonya. Bukankah itu tandanya kita mengadu domba anak kita. Biarkan masalah ini kita selesaikan dengan rapat keluarga." Rayu Mona.
Terlihat wajah Hideon yang semakin dilema karena Mona terus saja mendesaknya agar memarahi Aluna. Namun, ketika melihat raut wajah tamu lain yang begitu memperhatikan mereka, membuatnya merasa malu.
"Benarkah kamu dan Devan yang menyuruh Yuka dan memfitnah Luna?" tanya Hideon langsung kepada Helen.