
Tepat jam tujuh malam, tugas Ara baru selesai dikerjakan Noah. Di ruangan itu hanya ada mereka berdua karena semua karyawan lainnya telah pulang sebelum jam enam.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya Noah, dia baru sadar ketika melihat Ara sedang menggambar wajahnya.
"Hai kembalikan, ini belum selesai," teriak Ara keras.
Noah menarik kertas yang sedang digambar Ara, tiba-tiba dia tertawa terbahak melihat hasil gambar Ara. "Ha, ha, kenapa kepalanya terlihat lebih besar dari tubuhnya? Gambar lelaki ini pasti aku. Tidak, rambutku tidak semekar ini, rambutku di sini terlalu mengembang. Dan kau, kenapa pipimu terlalu lebar, kakimu juga sangat kecil seperti lidi. Ini sangat lucu, aku sangat suka."
Ara pun ikut tertawa, tentu saja dia sengaja menggambar Noah sejelek mungkin sementara dia menggambarkan dirinya seperti seorang princess. Sayangnya gambar yang dibuat Ara terlalu amatir, bahkan lebih mirip seperti gambar anak umur tujuh tahun. "Kau beruntung, aku tak mengganti tubuhmu dengan tubuh buaya. Ini terlalu bagus untuk menggambarkan dirimu yang jelek, ha, ha .... Cepat kembalikan, aku akan memajangnya di kamar untuk mengusir kecoa."
Noah terus menjauhkan gambar milik Ara dengan tangan kanannya, dia tak membiarkan ketika Ara berusaha meraihnya. "Gambar ini terlalu fantastis. Sepertinya kau sangat berbakat seperti Squidward. Aku akan museumkan di toilet."
"Apa maksudmu? Apa kau mau melihatnya sambil buang air?" tanya Ara begitu marah. Tangannya masih sibuk meraih kertas di tangan Noah.
Noah lebih tinggi dari Ara, sehingga sangat sulit bagi gadis itu untuk meraih kertas di tangan Noah. Tak mau menyerah, Ara terus berjinjit mencoba meraih kertas tersebut dengan susah payah, dia tak mau hasil gambarnya di tempel di toilet.
Coba saja kalau kau bisa meraihnya, batin Noah.
Saat Ara masih berusaha meraih kertas, Noah langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk meraih tubuh Ara yang ramping. Menyentuh tengkuknya dengan lembut sambil melakukan kontak mata dengan Ara.
Jantung Ara langsung berdegup kencang, apalagi saat Noah meraih dagu Ara sambil tersenyum tipis. "Kau tak akan bisa meraihnya. Karena kertas ini sudah menjadi milikku," bisik Noah pelan.
Perlahan Noah mendekatkan bibirnya ke bibir gadis cantik itu dengan sangat lembut. Menyesapnya pelan, membuat Ara menutup mata tak sanggup membalas tatapan mata Noah.
Susana kantor sangat sepi, tak ada satu pun orang selain mereka. Noah tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini dan terus berciuman. Perlahan Noah mulai memainkan lidahnya menyusup lebih dalam memasuki rongga mulut gadis itu, menuntun Ara agar mengikuti gerakan lidahnya.
Ciuman mereka semakin lama semakin panas. Hampir lima menit lamanya mereka masih belum menyudahi. Sayangnya, gerakan mereka seketika berhenti saat mendengar petugas kebersihan akan mengunci pintu dari luar.
"Kita harus pulang, ibumu pasti mencarimu," kata Noah melepas tautan bibirnya. Untungnya Noah masih sadar, kalau tidak lelaki itu pasti akan menuntut lebih dari ciuman dan membiarkan mereka berdua terkunci di kantor sampai pagi.
Beberapa menit kemudian, mereka keluar bersamaan. Petugas kebersihan yang berdiri di pintu sempat kaget begitu sepasang kekasih itu melewatinya. "Maaf, Nona Helen. Aku pikir sudah tidak ada orang di dalam."
"Tidak papa, ini sudah jam tujuh malam seharusnya memang sudah waktunya aku pulang," jawab Ara.
Sambil terus berjalan, Ara terus menundukkan kepala tak berani menoleh sedikit pun ke sampingnya.
Sepuluh menit kemudian mereka sudah sampai di halaman depan. Noah menggandeng tangan Ara, memintanya pulang bersama.
Ara tak berani menjawab, langsung masuk ke dalam mobil dan mendudukkan diri di samping kemudi. Ara masih terlihat salah tingkah sehingga dia memilih diam saja sambil memalingkan muka, apalagi saat Noah sudah duduk di sebelah sambil melajukan mobilnya ke jalan.
"Kamu pasti lapar. Aku akan mentraktirmu makan malam ini, sebaiknya kita makan dulu sebelum sampai rumah," kata Noah lagi.
Ara mengangguk pelan, rasanya susah sekali bibirnya berkata untuk menolak ajakan dari Noah saat itu.
"Maaf, tadi aku sudah lancang," kata Noah, "kenapa kau diam saja? Apa kau marah?"
Ara menggeleng, dia terus membatin di dalam hatinya, mengatakan kalau Noah tidak peka terhadap wanita. Menurut Ara, kalau dia diam itu tandanya dia sedang malu.
Lima belas menit masih sama-sama diam, mobil Noah akhirnya sampai di halaman depan kafe. Noah lupa kalau kafe yang dia masuki adalah kafe langganannya dulu bersama Lisa. Noah tercengang, di depan matanya dia melihat Lisa sedang dikerubungi beberapa lelaki.
"Lisa," ucap Noah tiba-tiba. Dari dalam mobil dia melihat Lisa sedang mabuk berat dan dikelilingi beberapa lelaki yang sedang melecehkannya. Dalam kondisi mabuk, para lelaki tersebut terus menggerayangi tubuh Lisa.
"Kenapa gadis itu sering sekali mabuk!"
Ara menegakkan punggungnya, dia sangat kaget apalagi saat beberapa teman Lisa berjalan mendekat, kemudian mengetuk pintu mobil Noah dari luar.
"Paman, paman, tolong Lisa. Dia sudah kalah taruhan, dan para lelaki itu ingin meminta haknya untuk menggilir Lisa malam ini. Tolong Paman, Lisa dalam bahaya," kata teman Lisa ketika kaca mobil terbuka.
Noah langsung menoleh ke samping, seakan meminta izin kepada Ara agar dia cepat menolong Lisa. Menurut Noah, walaupun mereka sudah putus, dia masih menganggap Lisa adalah saudaranya dan harus segera menolong Lisa sekarang.
"Maaf, aku harus menolongnya," kata Noah.
Noah langsung membuka pintu. Tanpa persetujuan dari Ara, lelaki itu langsung berjalan menghampiri Ara dan akan menolongnya dari gerombolan lelaki.
Ara memperhatikan mereka dari dalam mobil, bahkan dia juga memperhatikan ekspresi ke dua teman Ara yang tak ada rasa takut. Ara pikir kalau ini adalah rencana Lisa untuk mendekati Noah lagi. Menurut Ara lagi, kejadian ini adalah settingan yang dibuat Lisa.
Sepertinya mereka sedang bersandiwara! Aku harus melarang Noah, batin Ara.
Kemudian Ara ikut keluar dan berlari menarik tangan Noah dari belakang.
"Jangan tolong dia!" ucap Ara dengan nada tinggi, "mereka berbohong. Para lelaki itu sudah dibayar Lisa."