
Noah tak bisa memaksakan kehendak Ara. Namun Noah tak putus asa, dia berusaha cukup tenang kemudian mendekati Ara lagi.
“Tidak apa-apa, tidak usah sekarang menjawabnya. Apa kamu perlu bantuanku untuk menyelesaikan pekerjaanmu sekarang?” tanya Noah berusaha mengalihkan pembicaraan.
Ara mengembuskan napas pelan. Yah, baru saja dia menolak lamaran Noah, tak bisa dibohongi kalau sebenarnya dia menyesal. Namun, Ara juga tak mau membuat Noah kecewa nanti.
“Sudah selesai, Kak Alvin tadi yang membantuku.”
“Kalau begitu kita makan saja sekarang. Aku sudah bawakan makanan yang banyak. Kamu pasti suka,” kata Noah, dia lalu membuka satu dus pizza dan menyodorkannya di depan Ara, “lupakan saja masalah tadi. Kita makan sekarang, yah!”
Ara tersenyum manis. Menurut Ara walaupun mereka sudah putus, setidaknya mereka masih bisa berteman. Ara meraih sepotong pizza lalu menjawab ajakan Noah, “Terima kasih Noah. Kamu memang paling tahu seleraku. Pizza ini pasti sangat enak. Ayo kita makan sekarang!”
Di ruang kerja Ara kebetulan sangat sepi, karena rata-rata dari mereka menghabiskan waktu istirahat di kafe untuk makan siang. Sedangkan Ara, selama dia bekerja di tempat itu tak pernah sekali pun makan di kafe apalagi di luar. Seperti sekarang, dia lebih senang menghabiskan jam istirahatnya di ruang kerja.
“Ini untukmu,” ucap Ara menyodorkan sepotong pizza kepada Noah setelah dia mendudukkan diri.
Akan tetapi bukannya menerima, Noah malah balik menyuapi pizza tersebut ke mulut Ara. Otomatis, gadis itu tersentak tak bisa menolak lalu menangkap dengan bibirnya.
Adegan selanjutnya membuat Ara tercengang. Noah sedikit memajukan tubuhnya, bergerak cepat menangkap sisa pizza yang belum dilahap habis Ara di mulutnya. Noah memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memakan pizza langsung dari bibir Ara dan berakhir menciumnya dengan sangat manis.
“Aku tak peduli apa pun rupa aslimu di dunia sana. Aku tak peduli berapa kali pun kamu menolak lamaranku, kamu masih tetap menjadi pacarku sekarang,” ucap Noah penuh penekanan, berlanjut membersihkan bekas pizza di sudut bibir Ara, "aku mencintaimu, Ara."
***
Orang suruhan Clara sudah sampai di villa Alvin. Dengan diantar sopir, Aluna dan Zero kembali ke mansion.
"Selamat datang Nyonya dan Tuan muda," sapa para pelayan yang berdiri di depan pintu masuk. Zero disambut hangat oleh seluruh penghuni, kedatangan Zero pun membawa kebahagiaan bagi Nenek Alma dan Clara.
"Selamat datang cucuku," ucap Nenek Alma memeluk Zero.
"Wah rumah ini sangat besar sekali, Nek? Apa ini yang dinamakan hotel?" tanya Zero. Padangan matanya tak beralih sedikit pun melihat seisi rumah, dari sudut ke sudut. Dia begitu kagum dengan isi rumah tersebut yang berkesan sangat mewah dengan nuansa emas.
Saking takjubnya Zero sampai memegang sebuah guci antik dengan ukiran emas. "Ini seperti emas sungguhan," kata Zero lagi, tak henti-hentinya dia berdecak kagum.
"Nenek akan antar ke kamarmu? Nenek sudah siapkan kamar yang megah dan sangat lucu, cocok sekali untuk anak-anak," kata Nenek Alma, "nenek juga sudah buatkan kamar khusus untuk bermain dan mengisi mainanmu."
"Terima kasih, Nek. Mama sama papa pasti sangat suka nanti tidur di kamar itu."
"Tidak, Ze. Mama dan papamu akan tidur terpisah di ruangan lain," sahut Nenek Alma seraya menggandeng Zero naik ke atas tangga, "kalau boleh, Nenek yang akan menemanimu tidur nanti."
"Iyah, aku mau, Nek. Nanti aku akan mengajak nenek bermain dulu. Kata mama, Nenek suka sekali bermain game? Benarkah itu Nek?" tanya Zero melirik Aluna.
Nenek Alma mengangguk lalu melihat sekilas Aluna, dan mengajak Zero menjauh. "Ayo, kita ke kamar sekarang."
Aluna mempersilahkan Nenek Alma mengajak Zero pergi. Dari ruang tengah, Clara memasuki ruang tamu dan mendekati Aluna. Meskipun dia diterima di rumah itu, tetap saja dia masih diacuhkan.
"Selamat siang ibu mertua," sapa Aluna, "terima kasih sudah menerima kami di sini."
Clara memandang sinis Aluna, tetap masih memandang benci dirinya. "Aku ingatkan sekali lagi. Walaupun kamu diterima tinggal di rumah ini, tetap saja Zero kami yang urus. Untuk pendidikan dan semua yang berkaitan dengan Zero harus bicarakan dulu dengan kami. Kamu hanya berhak menemaninya tetapi tidak untuk mengambil apa pun keputusan untuk Zero nanti."
Ucapan Aluna begitu menohok, membuat Clara sedikit kesal. Kehidupan penerus keluarga wiratama memang sudah diatur dari kecil. Dari mulai makanan, pendidikan mau pun pergaulannya sudah diatur sedemikian rupa. Clara ingin menjadikan Zero penerus yang pintar dalam segala hal, bahkan harus lebih baik dari ayahnya.
"Jangan mengajariku! Aku tahu mana yang baik untuk penerus keluarga ini," ucap Clara setengah membentak. Aluna tak peduli dan terus berjalan menjauh.
Lihat saja Luna, aku atau kamu yang akan dipilih Nenek untuk mengurus Zero nanti. Dia adalah cucuku, aku tahu mana yang terbaik untuk Zero. Kau boleh mengatur Alvin, tetapi tidak dengan Zero, batin Clara.
Di lantai atas di depan kamar Zero, Aluna berjalan pelan mendekati Nenek Alma yang sedang duduk di atas tempat tidur bersama Zero. Wanita tua itu terlihat sedang bersenda gurau di kamar.
"Maaf aku mengganggu Nenek," kata Aluna dengan nada pelan.
Zero dan Nenek Alma menoleh menghentikan obrolan mereka. Meskipun Nenek Alma masih menyimpan kemarahan untuk Aluna, setidaknya dia masih lebih baik dibandingkan Clara. Wanita tua tersebut menyuruh Aluna duduk di dekatnya.
"Mama, lihat mainanku sangat banyak. Nenek yang memberikan semuanya," kata Zero kegirangan.
Aluna pun turut senang. Dia mendudukkan diri di sebelah Nenek Alma, sementara Zero sibuk bermain di lantai tidak jauh dari mereka duduk.
"Nenek, terima kasih untuk semuanya," kata Aluna.
Nenek Alma terdiam beberapa detik. Dia berusaha untuk memaafkan Aluna, tetapi beberapa detik kemudian dia teringat akan Zero yang sudah dia telantarkan lagi.
"Luna, aku tidak menyangka dengan apa yang kamu lakukan dulu ...." Nenek Alma tak meneruskan ucapannya karena ada Zero di sana.
"Aku juga minta maaf atas kesalahanku semuanya," sahut Aluna, "aku mengaku salah."
Meminta maaf untuk hal yang bukan kesalahannya sama sekali sudah sering Aluna lakukan dulu, sehingga tidak sulit bagi dirinya hanya untuk sekedar meminta maaf atas perlakuan Luna.
"Harusnya kalau kamu tak menginginkan Zero dulu, berikan saja kepada kami. Aku pasti tak akan menolaknya. Lihat Zero sangat tampan dan terlihat pintar. Kalau saja dari bayi dia di sini, pasti tak akan sekurus sekarang," kata Nenek Alma merasa prihatin dengan tubuh Zero yang kekurangan gizi.
Aluna bingung harus mengatakan apa lagi. Yang Aluna tahu, Luna dulu mengalami stress hebat setelah melahirkan Zero. Luna berpikir Zero adalah anak lelaki botak yang memperkosanya dulu di hotel. Kalau saja dulu Luna tahu, anak yang dilahirkannya adalah anak Alvin. Tak mungkin dia sampai sedepresi itu.
Aku harus menyelidiki semua masa lalu Luna dari sekarang sebelum misi ini berakhir, batin Aluna.
"Maafkan aku, Nek. Yah, aku memang bersalah waktu itu. Tidak enak rasanya kalau aku menceritakan semuanya di depan Zero. Kalau Nenek bersedia, aku ingin berbicara dengan nenek empat mata," kata Aluna sambil menunduk.
Nenek Alma mengerti. Yah, walaupun Zero masih kecil dan belum mengerti permasalahan orang dewasa, dia pun tak ingin Zero mendengarnya. Nenek Alma akhirnya menyuruh Aluna untuk menemuinya lagi saat Zero tidur nanti.
"Temui nenek lagi nanti kalau Zero sudah tidur. Nenek juga akan membicarakan mengenai perubahan nama Zero. Nama itu terlalu buruk untuk cucuku," kata Nenek Alma. Setelah berpamitan dengan Zero, dia meninggalkan ruangan tersebut.
Zero mendekati Aluna yang sedang merapihkan mainannya setelah kepergian nenek. "Mama. apa benar nenek akan mengganti namaku?" tanyanya.
Aluna tersenyum dan memeluk anak lelakinya itu. "Yah, sepertinya memang benar. Apa kamu keberatan?"
Zero mengangguk, jelas dia keberatan karena nama tersebut sudah melekat pada dirinya semenjak bayi.
"Sindi sudah mengenalku dengan nama Zero. Kalau aku merubahnya, apa Sindi akan tetap mengenalku?" tanya Zero lagi. Sepintar dan sekuat apa pun Zero, tetap saja dia masih kecil dan masih berpikiran polos.
Aluna mengusap pucuk kepala Zero, berjongkok sedikit agar bisa sejajar dengan anak itu. "Nenek hanya merubah namamu, bukan sikapmu. Sindi pasti akan tetap mengenalimu, Ze."