
"Kenapa rekamannya berhenti?"
Helen menekan ulang audio rekaman yang dibuat Ara hingga akhir. Didengarkannya lagi dan lagi rekaman audio tersebut sampai dia yakin pendengarannya tidak bermasalah. Namun, hampir saja dia mengetahui tentang perpindahan dimensi, tiba-tiba rekaman berhenti. Di audio, Ara hanya menceritakan dia senang berada di dimensi tempat Helen tinggal, menggunakan tubuhnya yang sehat dan memiliki pacar yang tampan seperti Noah.
Di audio juga, Ara mengatakan ingin selamanya berada pada tubuh Helen. Berencana akan menghilangkan karakter Helen dan menguasai dirinya secara utuh.
[Hati dan jiwaku terlalu sakit di dunia nyata. Aku akan menghilangkan Helen untukku selamanya.]
Helen terkejut. Setelah mendengarkan audio terakhir, komputer langsung mati. Saat itu juga Helen terlihat tak tenang dan mencari seseorang untuk menolongnya membuka audio lagi.
"Pegawai Fang, bisakah kamu menolongku," ucap Helen dengan napas tergesa.
Pegawai Fang yang sedang sibuk kala itu. Hanya melirik sekilas, lalu kembali sibuk meneruskan pekerjaannya.
"Hai, apa kamu tak mendengar aku minta tolong," teriak Helen, ekspresinya langsung berubah kesal.
"Nona Helen, tidakkah kamu tahu aku sedang sibuk."
Helen tak putus asa, kemudian mendekati pegawai satunya lagi. "Aku tahu dulu kamu seorang teknisi. Pegawai Suni, bisakah kamu menolongku? Komputerku mati," kata Helen setengah memohon.
Pegawai Suni yang ada di sana memang tidak terlalu sibuk. Namun, karena melihat wajah Helen yang memelas, dia pun akhirnya mau menolong dan membantu Helen memeriksa komputernya.
"Setelah mendengar salah satu rekaman, komputerku tiba-tiba mati."
Pegawai Suni memeriksa komputer Helen. Setelah dilihat kondisinya, sepertinya komputer Helen mengalami sedikit gangguan. Dia harus membongkar, memperbaikinya, dan tentunya akan memakan waktu beberapa jam.
"Nona Helen kemungkinan banyak virus pada salah satu perangkat komputer Anda. Aku coba perbaiki dulu, tapi tidak sebentar."
Wajah Helen terlihat frustrasi. Tangannya mengepal keras. Padahal sebentar lagi semuanya terungkap, kenapa harus eror? gerutu Helen kesal sendiri.
"Lakukan yang terbaik. Aku akan sangat berterima kasih, Pegawai Suni."
Meskipun tak terlalu menyukai Helen, pegawai Suni masih bisa tersenyum lembut. "Baik, Nona. Aku akan coba perbaiki sebisaku."
"Tapi seluruh data yang tersimpan tidak hilang' kan?"
"Aku akan usahakan, Nona. Tunggu dan bersabarlah!"
"Baik, terima kasih pegawai Suni. Sementara kamu perbaiki, aku ke toilet sebentar."
"Yah, silahkan Nona."
Helen terlalu kesal sampai wajahnya terlihat sangat jelek di cermin. Helen membasuh wajahnya lalu merias ulang agar terlihat lebih segar. Setelah sepuluh menit di dalam toilet, dia memutuskan untuk keluar hendak mampir ke ruangan Alvin dulu.
"Luna atau siapa pun dia, aku harus cepat menyingkirkannya."
Di depan ruang konferensi langkah Helen terhenti. Rupanya peserta rapat sedang beristirahat sejenak sebelum akhirnya mendapatkan keputusan akhir. Dia melihat di sana ada Alvin dan Aluna duduk bersebelahan. Di depannya lagi ada Presdir Aron dari perusahaan Guen. Dari yang dia lihat, sepertinya mereka sedang berbincang santai.
"Presdir Alvin, terima kasih sudah mengundangku," kata Presdir Guen.
Pada saat itu Helen menguping pembicaraan mereka dari luar, karena kebetulan pintu ruang konferensi tidak tertutup.
"Terima kasih kembali, Presdir Guen. Kami juga sangat senang dengan kehadiran Anda. Kedepannya semoga kita bisa bekerja sama," jawab Alvin.
Presdir Guen tersenyum. Di masa lalu, dia adalah senior Alvin. Mereka satu universitas di Inggris. Presdir Guen sangat suka cara Alvin dan Aluna mempromosikan produk kecantikan mereka kepada para investor. Rencananya Alvin ingin bekerja sama dengan perusahaan Guen yang sudah terkenal di Inggris dengan produk parfumnya.
Disela waktu istirahat, Alvin dan Aluna mengajak Presdir Guen berdiskusi ringan. Sambil sesekali bernostalgia mengenang saat Alvin dan Aron masih menjadi mahasiswa dulu di Inggris. Presdir Guen terlihat hangat, ternyata dia tak se-kaku yang Alvin pikirkan.
"Presdir Alvin, sebetulnya saya sangat iri dengan kalian yang sangat serasi. Bekerja sama berdua untuk memajukan perusahaan. Meskipun kalian profesional tetap saja terlihat romantis."
Aluna tersenyum, dia sudah semaksimal mungkin tidak menunjukkan kalau mereka adalah suami istri. Tapi tetap saja para calon investor mengetahuinya.
"Maaf kalau bicaranya terlalu berlebihan. Mengenai kerjasama, saya sangat tertarik dengan produk yang akan Anda luncurkan. Tapi sebelumnya, bolehkah saya mengajukan satu pertanyaan. Kalau jawaban Anda cocok, saya setuju untuk berkerja sama dan ikut berinvestasi."
Aluna dan Alvin sempat saling melirik. Alvin langsung mengangguk dan mempersilahkan Presdir Guen untuk melontarkan pertanyaan.
"Presdir Alvin, saya punya soal cerita. Ini memang terdengar konyol. Tapi saya ingin mendengarkan jawaban Anda, karena kalau jawaban Anda tepat, saya akan memakainya untuk konsep iklan kita."
"Katakan saja, Presdir Guen," ucap Alvin cukup tenang tanpa merubah ekspresi wajahnya.
Presdir Guen menarik napas pelan sebelum akhirnya melontarkan pertanyaan. "Seandainya di jalan dalam keadaan hujan deras. Anda sedang mengendarai mobil yang hanya bisa dinaiki dua orang. Tiba-tiba bertemu denganku, seorang nenek tua renta yang sedang kedinginan dan istri Anda di sebuah halte, sedang duduk menunggu mencari tumpangan. Siapa yang akan Anda pilih untuk diantarkan terlebih dahulu?"
Aluna langsung kaget dengan pertanyaan Presdir Guen barusan. Semenjak dia menjadi asisten Alvin, baru kali ini ada yang melontarkan pertanyaan konyol seperti itu sebelum sepakat bekerja sama. Aluna melirik sekilas Alvin yang sedang berpikir. Dia kira Alvin akan memilihnya.
"Aku akan memilih untuk tinggal di halte bersama pasanganku," jawab Alvin tegas.
"Aku akan meminjamkan mobil yang aku kendarai kepada Anda untuk mengantarkan nenek tua renta yang kedinginan tadi. Saya tahu, Anda bisa bawa mobil bukan?"
Akhirnya Aluna bernapas lega mendengar jawaban Alvin. Pertanyaan jebakan yang membuat Aluna hampir saja menunda napasnya.
"Yah, tentu saja. Lalu bagaimana dengan kalian berdua?"
"Kami akan menunggu hujan reda di halte sambil bersenda gurau sampai kendaraan datang. Kalau pun sampai tak ada mobil, kami akan berjalan berdua untuk sampai rumah," ucap Aluna menyela.
Presdir Guen kembali terkesima dengan jawaban Aluna.
"Dan aku akan menggendongnya kalau istriku kelelahan. Asalkan kami tetap bersama." Tambah Alvin sambil menggenggam tangan Aluna.
Presdir Guan kembali tersenyum. Sangat manis dan romantis jawaban Alvin. Yah, jawabannya sesuai yang dia mau. Presdir Guan yakin kalaupun nanti dia berkerja sama, Alvin tidak egois membagikan keuntungannya.
"Kalian sangat romantis. Presdir Alvin, Saya setuju bekerja sama dengan Anda. Mengenai jawaban Anda, saya akan gunakan konsepnya untuk iklan kolaborasi produk kecantikan dan parfum. Saya akan mengusulkan tema pasangan romantis untuk produk kita. Untuk seluruh biayanya, perusahaan kami yang akan menanggung," ucap Presdir Guan sambil menyalami Alvin.
"Benarkah?" tanya Aluna terkejut. Keputusan Presdir Guen di luar ekspetasinya.
"Tentu saja, saya akan menggunakan produk kecantikan dan parfum sebagai daya tariknya. Mengenai pemasaran, jangan khawatir. Produk kami sudah terkenal di Paris."
"Terima kasih, Presdir Guen. Saya yakin kita akan sukses bernama."
Alvin dan Aluna sangat senang dan menjabat tangan cepat sebagai tanda setuju. Keduanya merasa puas karena berhasil membuat Presdir Guen mau bekerja sama dan berinvestasi. Itu berarti perusahan mereka akan semakin berkembang sampai ke luar negeri.
Sementara di balik pintu, terlihat Helen sangat marah mendengar percakapan mereka. Dia melihat banyak perubahan pada diri Alvin. Dia diperkerjakan kembali di tempat itu, tapi tidak diberikan tugas yang layak sebagai seorang sekretaris seperti biasanya sebelum Aluna hadir. Dari wajah Alvin saja, Helen melihat kalau Alvin sudah mencintainya.
"Sebenarnya dia tahu tidak kalau wanita itu adalah penyihir. Pantas saja Alvin sampai tergila-gila," umpat Helen dalam hati.
...***...
Tiga jam sudah rapat akhirnya selesai. Sekarang Aluna harus kembali ke meja kerjanya. Hendak menaruh berkas dan barang yang sudah selesai digunakan. Aluna melewati meja Helen, dia sangat kaget ketika melihat kondisi meja Helen yang berantakan.
"Pegawai Fang, di mana Nona Helen? Kenapa meja kerjanya berantakan?"
Pegawai Fang yang terpanggil langsung mendatangi Aluna. "Nona Helen sudah pergi tiga jam yang lalu."
"Pergi? Lalu kenapa mejanya berantakan seperti sekarang?"
Pegawai Fang melirik komputer Helen yang barusan diperbaiki. Sepertinya telah selesai, namun Helen belum kembali juga.
"Barusan kata Pegawai Suni, dia telah selesai memperbaiki komputer Nona Helen yang eror. Sebelum pergi, saya melihat wajah Nona Helen yang panik karena komputernya tiba-tiba mati. Nona Helen mengatakan karena baru saja mendengar rekaman audio."
Rekaman audio? Kenapa perasaanku tidak enak? Batin Aluna.
"Terima kasih, Pegawai Fang. Saya coba cek apa komputernya sudah bisa digunakan atau belum," kata Aluna.
Setelahnya pegawai Fang pergi. Aluna juga berpesan, kalau nanti dia melihat Helen suruh hubungi dia terlebih dahulu.
Mata Aluna terpancing melihat satu dokumen bertuliskan nama Noah. Kemudian dibuka lalu didengarkannya menggunakan headset. Ara baru belajar komputer, jadi mungkin dia terlihat ceroboh dengan memasukkan file suara di komputer milik Helen.
"Sepertinya Helen sudah mengetahui sebagian rahasia kami," gumam Aluna.
Aluna tak tinggal diam. Disalin dokumen itu lalu dia kirimkan ke ponselnya. Setelah selesai, Aluna menghapus dokumen tersebut, dia berencana memutar balikkan fakta.
"Miss K, jangan menghilang terus menerus. Tas saranku belum seluruhnya kamu kembalikan. Sekarang jawab aku, apa Helen sudah mengetahui mengenai duniaku di sana?"
Aluna mengetuk kalung sistem. Dia berbicara sambil berbisik di pojokan kantor. Sebelumnya ketika dia bertanya siapa pembubuh Luna, Miss K tak menjawab dan menghilang beberapa hari.
[Yah, Helen telah mengetahui perpindahan dimensi walaupun belum tahu sepenuhnya tentang dunia kalian.]
"Jadi dia tahu siapa aku sebenarnya?"
[Yah.]
Otak Aluna langsung berpikir cepat. Kalau Helen sudah mengetahui itu tandanya dia tak bisa berlama-lama di tubuh Luna. Kalau semua tahu, game akan berakhir dan misinya akan gagal total.
"Tempo hari aku bertanya siapa pembubuh Luna? Kenapa kamu tak segera menjawab?"
Sistem langsung menyala. Memberitahukan misi yang sangat penting bagi Aluna.
[Anda harus mencari tahu sendiri dan mengungkap misterinya, Nona. Hadiahnya sangat besar, akan mendapatkan seratus tas saran yang bisa Anda gunakan untuk memotong sisa waktu di dunia novel.]
Aluna terkejut. Matanya membulat sempurna. "Jadi maksudmu aku harus cepat mengakhiri permainan ini?"