
Hampir lima menit lamanya Ara memeluk Aluna, sambil sesenggukan Ara mencurahkan isi hatinya selama ini. Semenjak dia tahu kakaknya kecelakaan, dia tak bisa tidur dan terus menangisinya. Ara yang tak memiliki siapa pun kecuali Aluna, sudah tak bersemangat lagi untuk melanjutkan hidup. Bahkan ketika dokter mengatakan nyawa Aluna hampir tak terselamatkan, wanita itu malah berniat ingin mengakhiri hidup dengan bunuh diri.
"Aku sudah ada di sini, Ara. Jadi jangan menangis lagi ya," kata Aluna sembari menghapus air mata Ara di pipinya.
Sebenarnya, Aluna pun ingin sekali ikut menangis bersamaan. Namun, demi adiknya dia selalu berusaha untuk tetap tegar, tidak menangis atau terlihat lemah di depan Ara.
Saat mereka melepas pelukannya. Suara jentikan jari kembali terdengar. Bersamaan dengan itu, suasana kembali normal. Mona sudah bisa bergerak lagi, begitu pun dengan beberapa pelayan kembali berlalu lalang membersihkan sisa sarapan pagi di meja.
Mona mengerutkan kening seakan bahwa sesuatu yang aneh terjadi pada tubuhnya dan sekelilingnya. Dia melihat tangannya lalu menggerakkan pelan kalau dia sudah tak membatu lagi seperti tadi.
Kenapa perasaanku tiba-tiba tidak enak. Seakan semuanya terhenti dan pemandangan di depanku seakan berkabut. Apa yang terjadi? Mona terus membatin.
"Ayo, Helen. Kita pergi, nanti keburu siang," ajak Aluna menarik adiknya keluar.
Mona masih berdiri mematung, tatapannya mendadak kosong, dia membiarkan begitu saja anaknya dibawa oleh Aluna keluar. Dalam hatinya masih ada sesuatu yang aneh sedang mengganjal pikirannya. Ya, Mona mulai mencurigai tingkah laku mereka berdua.
...***...
Di Mansion Alvin.
"Sarapan paginya, Tuan. Selamat menikmati," ucap pelayan kepada Alvin.
Lelaki itu hanya diam tak mengangguk apalagi menjawab. Dia terus memandangi kursi kosong yang sering ditempati Aluna setiap kali makan pagi bersamanya. Baru semalam tak bertatap muka dengan Aluna, seakan sudah seperti tak bertemu berbulan-bulan.
Argh! Kenapa pikiranku jadi kacau begini si? Batin Alvin.
Sendok yang dipegangnya hanya dia mainkan untuk mengetuk meja. Kerena terlalu berlebihan memikirkan Aluna, membuatnya benar-benar tidak napsu makan.
"Sebaiknya aku sarapan nanti saja bersama Luna. Dia pasti sudah menungguku di kantor."
Ditaruhnya lagi sendok itu ke meja, dia lalu berjalan pergi meninggalkan ruang makan menuju kamarnya.
"Aku sudah tak sabar bertemu denganmu, Luna," ucap Alvin sambil tersenyum, dia merapihkan dasinya lalu menyemprotkan parfum kesukaan Aluna di tubuhnya.
Beberapa menit setelahnya, dengan diantar sopir pribadi Alvin menuju perusahaan tempatnya bekerja. Alvin sudah tak sabar ingin bertemu dengan Aluna secepatnya.
...***...
Di tempat lain, Aluna dan Ara sudah sampai di restoran cepat saji. Mereka memesan banyak sekali makanan. Sebagai rasa syukurnya, selain memesan untuk adiknya, Aluna juga memesan banyak makanan untuk dibagi ke beberapa anak jalanan. Aluna sangat suka berbagi, setiap melihat mereka, Aluna selalu teringat masa kecilnya dengan Ara dulu ketika kelaparan.
"Kakak lupa ya, kalau aku sedang berada pada tubuh Helen."
Aluna lalu mendudukkan pantatnya di kursi sebelah Ara. "Ah' kakak lupa. Apa kamu senang berada pada tubuh Helen? Lihat kamu memiliki rambut yang sehat lagi."
Ara mengangguk. "Tapi, aku lebih bahagia kalau kita bisa kembali ke dunia kita dan bersama-sama lagi seperti biasanya, Kak."
"Suatu saat kita bisa bersama lagi seperti dulu." Aluna benar-benar tak bisa menahan air matanya saat melihat Ara dengan lahap memakan semua makanan yang dibelinya, "kalau seandainya kamu kembali lebih dulu ke dunia nyata, kamu harus janji tidak boleh putus asa, Ara. Aku yakin kamu akan sembuh."
"Kapan kakak akan kembali?" tanya Ara.
"Secepatnya, setelah misi ini selesai," jawab Aluna.
Kening Ara mengernyit. "Misi? Apa maksud kakak?"
Aluna mendekatkan posisi duduknya di sebelah adiknya. "Lihatlah kalung ini, Ara. Benda ini memiliki sistem yang dapat merubah alur di novel ini," ucapnya menunjukkan kalung sistem, "aku akan menepuk kalung ini, sensornya akan menyala dan sebentar lagi kita bisa mendengar suaranya."
"Apa?"
Saat itu juga Aluna menepuk kalung sistem. Ya, sensor di kalung itu menyala. Namun, Ara tak bisa melihat apalagi mendengar suara sistem. Hanya Aluna yang dapat mengetahuinya.
"Miss K, tunjukkan suaramu," kata Aluna.
...[Ara tak bisa mendengar suaraku. Hanya Anda yang dapat mendengarnya, Nona.]...
"Kakak berbicara dengan siapa?" Ara terlihat bingung.
"Kalung ini, Ra. Dia hidup dan memiliki suara. Apa kamu mendengarnya?" tanya Aluna mendekatkan sensor di kalung itu.
Ara menggeleng. "Aku tak bisa mendengarnya. Tetapi, aku percaya, Kak."
"Jadi kamu percaya?"
Ara mengangguk seraya tersenyum.
Aluna lalu memberitahukan bagaimana Ara bisa ada di dunia novel. Aluna juga menjelaskan kepada adiknya kalau dia akan bertukar tubuh dengan Helen setiap kali mereka tertidur. Ara pun percaya, semua penjelasan yang diucapkan kakaknya adalah benar.
Karena saking asiknya melepas kerinduan dengan adiknya. Aluna melupakan sesuatu hal. Ya, Aluna lupa kalau hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Aluna tidak tahu kalau Alvin sedang menunggu kedatangannya di kantor.