TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Merawat Alvin


Baru masuk ke kamar, Aluna membelalakkan matanya karena terkejut. Bagaimana tidak, ia melihat wajah Alvin yang sangat pucat dan tubuhnya meringkuk kedinginan. Aluna mendadak cemas, ia langsung berjalan mendekat, mengecek suhu tubuh Alvin dengan menempelkan punggung telapak tangannya ke kening. "Alvin, badanmu sangat panas. Sepertinya kamu demam!"


Alvin tak menjawab, bi birnya terus bergetar karena kedinginan. Ya, Alvin sedang mengalami demam akibat semalaman terkena guyuran hujan dan karena alerginya yang kembali kambuh.


"Aku akan mengambil obat, tunggulah di sini," ucap Aluna tampak khawatir. Di menit itu juga, dia berlari keluar kamar, mencari obat penurun panas.


Aluna yang tidak tahu di mana dia mendapatkan obat, bertanya kepada kepala pelayan yang kebetulan saat itu berdiri tidak jauh dari kamar Alvin, "Pelayan An, bisakah beritahu di mana mendapatkan obat penurun panas? Aku sangat membutuhkannya sekarang." Aluna berkata di depan pintu kamar Alvin.


Pelayan An adalah kepala pelayan wanita yang sudah bekerja hampir lima tahun dengan keluarga Alvin. Mendengar namanya dipanggil, wanita yang berumur sekitar empat puluh tahunan itu langsung menoleh. Dahinya berkerut penuh selidik. "Mari, Nona. Aku akan antar Anda ke ruang obat sekarang," jawabnya.


Aluna berjalan cepat mengikuti pelayan An di belakangnya, dari ekspresi wajah Aluna terlihat kalau wanita itu merasa cemas.


"Em ... maaf, kalau boleh tahu siapa yang sakit, Nona?" tanya kepala pelayan An sambil terus berjalan.


"Suamiku sedang demam, panas di tubuhnya sangat tinggi sekali." Aluna pun berjalan sambil menjawab pertanyaan pelayan An.


Lima menit kemudian, mereka telah sampai dan memasuki ruangan berukuran 5×5 meter. Di sana banyak berbagai macam obat-obatan dan keperluan keluarga lainnya, lebih dikatakan seperti gudang makanan dan obat-obatan.


"Obat ini sangat cocok sebagai obat penurun panas untuk Tuan Alvin," ujar pelayan An memberi usul.


Tanpa pikir panjang Aluna lalu mengambil obat berbentuk tablet yang diusulkan Pelayan An. Aluna juga mengambil beberapa botol kosong dan perlengkapan kompres lainnya. "Terima kasih atas sarannya, pelayan An."


Setelah mendapatkan obat, Aluna setengah berlari menuju kamar Alvin. Dia langsung mengambil air minum dan mendekati Alvin.


"Minumlah obat ini dahulu agar panasnya segera turun," ucap Aluna, membawa segelas air dan satu buah paracetamol berbentuk tablet di tangannya.


Kemudian Alvin bangun, lalu meraih pil itu dan memasukkannya ke dalam mulut. Sebelum Alvin menelannya, dia sempat enggan menelan obat berbentuk padat itu, dia lebih menyukai obat berbentuk puyer atau cair. Namun, karena Alvin tidak mau terlalu merepotkan Aluna, akhirnya dia pun menelannya juga.


"Luna." Alvin meraih pergelangan tangan Aluna saat wanita itu selesai menaruh gelas di atas nakas.


Meskipun dalam keadaan lemah dan mengantuk. Tetapi entah mengapa tangan Alvin begitu kuat menahan wanita itu agar tidak pergi. Alvin memiringkan kepalanya. Matanya yang mengerjap setengah terbuka.


Aluna yang tak siap jadi kehilangan keseimbangan dan jatuh terduduk di tepi ranjang. "Temani aku tidur, aku butuh kehangatan!" Alvin menarik tangan Aluna yang belum ia lepaskan, lalu menarik ke bi birnya menghadiahkan sebuah ke cupan di punggung tangan Aluna. "Jangan pergi, Luna," bisiknya serak, lalu matanya yang sudah semakin berat dihanyutkan oleh rasa kantuk.


***


Di pinggir sebuah bar, Noah melihat dari dalam mobil pacarnya Lisa bersama temannya sedang berjalan sempoyongan. Benar yang dikatakan temannya kalau Lisa sedang mabuk berat. Noah pun terlihat geram mengamati mereka berdua.


"Lisa! Kenapa kelakuanmu tak pernah berubah!" Bentak Noah setelah keluar dari dalam mobil.


Walaupun dalam keadaan mabuk, Lisa mengenali siapa yang memanggilnya. Lisa yang masih belum sadar sepenuhnya kembali energik, berteriak histeris memanggil Noah, "PAMAAAN!! Aku sudah menduga kalau kamu akan datang."


Perbedaan usia Noah dan Lisa sangat jauh hampir tujuh tahun, membuat pacar kecilnya itu memanggil Noah dengan sebutan 'Paman'. Noah tak memperdulikan panggilan apa untuk dirinya, yang dia inginkan hanyalah Lisa yang masih duduk di sekolah menengah atas itu bisa lebih dewasa.


"Lihatlah, matahari sudah terbit dan sekarang sudah hampir jam enam. Kenapa kalian bisa mabuk seperti sekarang. Bukankah seharusnya kalian kembali ke asrama dan sekolah? Kalau seperti ini terus bagaimana kamu bisa lulus, Lisa!" Noah terus membentak dan memarahi Lisa.


"Paman, bagaimana mungkin aku bersekolah dalam keadaan mabuk seperti sekarang, ha ... ha ... guruku pasti akan menendangku keluar." Lisa terus meracau.


"Kenapa tiap kali bertengkar denganku selalu berakhir dengan mabuk-mabukan? Kalau seperti ini terus, bisa-bisa kamu tidak lulus lagi!" Noah masih memarahi.


Tahun kemarin, Lisa tidak lulus SMA. Semua itu karena Lisa terlalu kekanakan. Lisa yang merupakan anak orang kaya dan selalu dimanjakan, tidak terlalu peduli dengan pendidikannya.


"Aku janji ini yang terakhir, Paman."


"Aku akan mengantarkanmu ke asrama." Noah menarik tangan Lisa. Namun, sebelum Lisa masuk ke mobil, temannya melarang mereka berdua.


"Maaf, Paman. Di asrama kami tidak diperbolehkan lelaki masuk ke wilayah sekolah, kecuali kalau Anda adalah wali." Teman Lisa melarang Noah.


"Aku tidak peduli! Masuklah ke dalam mobil sekarang!" Bentak Noah.