TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Memasang Kamera


Di dalam kamar, Helen banyak bercerita kepada ibunya tentang keanehan yang terjadi akhir-akhir ini.


"Mom, lihatlah rambutku. Mana mungkin aku mewarnai rambutku menjadi kuning. Mengganti dengan warna coklat pun aku tak berani."


Helen berdiri di depan cermin mengamati rambutnya yang kini berubah kuning menyala seperti rambut boneka. Dia juga mengamati setiap detail wajahnya, masing ingat jelas barusan Aluna mengatainya bertambah tua.


Aku sama sekali tak bertambah tua, kamu benar-benar telah menghinaku, Luna.


"Kalau kamu tidak mau, tak mungkin pegawai salon mewarnai rambutku. Sekarang katakan, hal apa saja yang Luna lakukan padamu saat sedang berdua? Sebelum pergi, aku melihat kalian sangat akrab. Apa kamu yakin saat itu sedang tidak berpura-pura?" tanya Mona penuh selidik.


Helen mengernyitkan kening. Tak ada memori diingatannya kapan dia pergi dan pulang dari salon. Yang dia ingat sedang berada di rumah sakit, lalu di salon, kemudian tiba-tiba ada di kamar hotel.


"Aku ... aku hanya ingat pegawai salon memarahiku, kemudian Luna menamparku. Dia bilang agar pemilik salon tak menuntut, karena saat itu aku memecahkan banyak peralatan mereka. Setelah itu ... Luna memberikanku segelas minuman." Helen melihat lekat wajah ibunya sambil terus berpikir, " ... setelah itu aku tertidur kembali, dan saat bangun sudah ada di kamar hotel bersama lelaki sialan itu."


Dari cerita Helen, Mona menyimpulkan ada yang tidak beres dengan anaknya. Ya, dia menduga Aluna melakukan praktek ilmu hitam atau bisa jadi perempuan itu mempunyai kemampuan menghipnotis sampai Helen diperdaya.


"Jangan-jangan Luna sudah menghipnotismu, minuman apa yang sudah Luna berikan?"


Helen mengangkat bahunya tak tahu.


"Atau jangan-jangan dia menaruh ramuan di dalam minuman. Ramuan tersebut dia dapatkan dari dukun sengaja agar kamu bisa menurut, semacam pelet atau pengasihan?" Mata Mona membulat sempurna menduga-duga apa yang terjadi.


"Aku tak tahu, Mom. Aku juga sering bermimpi berada di sebuah kamar rumah sakit. Di mana aku melihat tubuhku sangat kurus, rasa nyeri di tulang bahkan di sekujur tubuh aku rasakan saat itu. Yang paling ngeri adalah aku tak memiliki rambut dan hampir botak. Suasana sangat asing, bangsal yang aku tiduri seperti kamar dari kalangan kelas bawah, sangat sempit dan tidak nyaman," kata Helen.


Mendengar penjelasan Helan. Mona sudah yakin kalau Aluna memakai cara yang magic untuk membalasnya. Mona juga berniat ingin menyelidiki lebih dalam tentang perubahan anaknya yang tiba-tiba.


"Besok aku akan bertanya kepada peramal tentang maksud dari mimpimu itu, Nak. Tenang saja, kalau sewaktu-waktu kamu berubah, aku akan menyadarkan dan menahan tindakanmu. Apa kepalamu masih pusing?" tanya Mona memijat kening Helen yang sedang tidur di pangkuannya.


"Aku masih merasa pusing, bau alkohol bahkan masih berasa di indera penciumanku."


"Sebaiknya beristirahat saja, Mommy akan menemanimu di sini."


Sementara di kamar Aluna. Sebelum tidur nyenyak, Aluna terlihat mondar mandir di depan pintu kamarnya. Dia ingin bertanya kepada sistem semua kejadian yang menimpa Ara. Dia sudah memiliki enam tas saran. Masih dibutuhkan empat lagi untuk dia bisa menukarnya dengan kehidupan sementara untuk Arabella.


Hampir setengah jam menepuk, kalung sistem tidak menyala. Aluna sangat was-was kalau kalung itu rusak. Menurut penjelasan sistem yang diingatnya, sistem akan mengalami gangguan saat si pemilik tubuh mengalami cedera. Aluna sangat takut karena barusan Ara menabrak kaca dan membuat sistem menjadi kacau.


Ini semua gara-gara Noah. Kalau saja lelaki itu tak mabuk, Ara pasti tidak akan mengikutinya, gerutu Aluna.


Ditepuknya kalung sistem sekali lagi.


"Akhirnya menyala juga. Miss K!" panggil Aluna.


Sensor di kalung kadang meredup kadang juga menyala terang.


"Miss K, berapa tas saran yang aku dapatkan sekarang? Harusnya lebih dari enam karena aku mencium Alvin cukup lama," kata Aluna protes.


...[Hanya enam yang Anda dapatkan, Nona. Tiba-tiba sistem mengalami gangguan karena Ara tak sengaja menabrak kaca, menyebabkan sensor di otak yang terhubung dengan sistem, mengalami gangguan. Lalu lintas sistem tidak bisa mendeteksi seluruh kegiatan Ara selanjutnya. Ini bisa membahayakan. Dengan terpaksa kami mengembalikan jiwa Ara sementara ke dunia nyata sampai Anda bisa mendapatkan sepuluh kantong saran untuk ditukar.]...


"Apa?!" Mata Aluna membulat sempurna, "jadi besok Ara tak akan kembali saat terbangun lagi?"


Aluna terduduk lemas di depan pintu. "Ini semua gara-gara lelaki itu!"


...***...


Keesokan harinya. Di pagi yang cerah, tepat pukul tujuh. Aluna melangkah keluar dari rumah Hideon. Tubuh tinggi jenjangnya terbungkus cantik dress formal, yang panjangnya dibawah lutut dengan paduan warna hitam terdapat garis merah di ujungnya.


Aluna berjalan ke tepi jalan menghadang taksi. Berkali-kali perempuan itu membenarkan posisi rambutnya yang sudah diikat rapi agar tepat ke tengah kepala.


"Antar aku ke perusahaan Wiratama Grup," kata Aluna setelah memasuki taksi yang berwarna biru muda tersebut.


Baru saja duduk, terdengar banyak notifikasi pesan teks masuk di handphonenya. Tentu saja semua pesan teks tersebut dikirim dari Alvin.


Bibir Aluna melengkung menyunggingkan senyum, membaca satu persatu pesan dari Alvin. Alvin mengirimkan pesan gambar di handphone Aluna menunjukkan sederet makanan yang sudah tersaji di atas meja. Rupanya, lelaki itu tidak mau sarapan pagi sebelum dia datang. Alvin ingin sarapan pagi bersama Aluna di ruang kantornya.


Setelah turun dari taksi. Aluna disambut hangat beberapa pegawai di perusaan Alvin. Mereka sudah mengetahui posisi Aluna di perusahan tersebut.


"Selamat pagi, Nyonya Presdir."


"Pagi. Apa Presdir Alvin sudah ada di atas?" tanya Aluna dengan penuh kharisma.


"Iya, Presdir Alvin sudah sampai di kantor setengah jam yang lalu."


Beberapa menit berlalu, pintu lift telah terbuka membawanya sampai ke lantai tujuh. Aluna harus berjalan beberapa langkah lagi untuk sampai di ruangan direktur. Ruangan Alvin letaknya di tengah, luasnya paling lebar dibandingkan ruangan lainnya. Dalam ruangan itu sudah seperti rumah berukuran mini. Terdapat dapur kecil bahan kasur pun tersedia di ruangan itu.


"Selamat pagi Asisten Luna."


Seorang lelaki dengan setelan jas berwarna gelap, sedang duduk di belakang meja yang sudah tersaji banyak makanan. Dia terlihat segar dan bersemangat begitu melihat Aluna memasuki ruangannya. Senyuman yang ditunjukkan lelaki itu menambah nilai plus di wajah tampannya.


"Pagi Presdir Alvin. Wah, makanannya banyak sekali! Siapa yang membawa makanan sebanyak ini ke mari?" Wajah Aluna berbinar kegirangan. Berbagai jenis makanan yang tersaji, membuat perutnya tiba-tiba keroncongan mendemo dirinya meminta cepat di isi.


Tentu saja Alvin sudah menyuruh chef dari rumahnya untuk mengirim berbagai makanan itu ke ruangannya. Alvin sudah menyiapkan semua itu saat malam hari. Sejak kehadiran Aluna, Alvin sudah tak terbiasa sarapan pagi sendirian.


"Terima kasih, Presdir Alvin."


Kedua insan itu memulai hari dengan sarapan pagi bersama di ruang kerjanya.


Sementara di kediaman Hideon. Dua orang perempuan yang berstatus ibu dan anak tengah sibuk memasang CCTV di kamar Helen. Benar kata sistem, kalau hari ini tak ada perubahan sama sekali pada diri Helen saat bangun. Insiden semalam membuat sistem kacau. Jiwa Helen masih berada di tubuhnya.


"Kita pasang kamera pengaman ini di kamarmu. Dengan begini, Mommy akan tahu, apa penyebab kamu berubah," kata Mona sangat bersemangat.


...###...


Halo, seperti biasa author ingin promisikan novel temen author yang keren. Sama-sama masuk ke dalam novel ni kak.


Yuk, baca hanya di Noveltoon.