
Suasana yang sunyi membuat mereka hampir saja lupa diri. Untungnya Alvin masih bisa menahan hasrat agar bertindak tak lebih dari ciuman. Alvin tahu meskipun hanya berdua, bioskop itu adalah tempat terbuka. Siapa pun bisa saja masuk tiba-tiba. Ditambah lagi, Aluna mengeluhkan sakit kepala membuat Alvin tak tega dan menyuruhnya duduk bersandar.
"Duduklah! Sebaiknya kita tunda saja acara nontonnya. Aku akan mengantarmu ke rumah sakit," kata Alvin begitu khawatir.
"Ah' tidak perlu. Sepertinya hanya sakit kepala biasa. Mungkin aku hanya kelelahan karena kurang istirahat. Kita teruskan nontonnya. Aku sudah berjanji ingin menemanimu. Sayang sekali kalau tidak jadi, kamu sudah menghabiskan uang banyak untuk memesan satu bioskop ini." Aluna memindahkan tangan Alvin agar tak menggendong tubuhnya.
Alvin duduk berjongkok. "Tidak masalah, Luna. Ini tidak seberapa. Beritahu aku kalau kepalamu bertambah sakit."
Alvin merapihkan helaian anak rambut Aluna yang menutupi sebagian wajahnya. Baru kali ini lelaki itu sangat dekat dengan seorang perempuan secara langsung. Dari kecil, Alvin selalu sekolah di tempat khusus anak lelaki. Jarang sekali dia berinteraksi dengan perempuan selain ibu dan neneknya.
Bahkan untuk berteman dengan lelaki pun Alvin selalu pilih-pilih. Dia yang seorang pengidap mysophobia membuat beberapa teman enggan mendekatinya. Karena setiap kali bermain di luar, dan kotor sedikit saja, pasti kulitnya akan mengalami gatal-gatal dan kemerahan.
Selain Ana, nama panggilan Alvin kepada perempuan enam tahun yang lalu. Dia begitu nyaman berbicara dengan Aluna. Bedanya, dia bisa berinteraksi langsung dengan Aluna. Sedangkan Ana, hanya sesekali bertukar cerita lewat telepon atau berkirim surat.
Kenapa aku jadi teringat Ana? Tidak! Ana hanyalah perempuan pembohong! Setelah hari itu, kenapa sampai sekarang dia tak menghubungiku lagi? Alvin terus membatin di dalam hati.
Kekecewaan Alvin kepada Ana membuatnya tak mempercayai perempuan. Bahkan istrinya sendiri. Namun, semenjak kehadiran Aluna. Sedikit demi sedikit dia menghilangkan sikap arogannya kepada perempuan.
"Apa kamu juga seperti ini kepada Luna?" tanya Aluna membuyarkan lamunan Alvin.
"Luna?"
"Ya, Luna istrimu."
"Apa kamu tidak sadar sedang menempati tubuh istriku? Itu tandanya aku memperlakukan hal yang sama bukan terhadap Luna?"
Bodoh! Kenapa aku menanyakan pertanyaan yang konyol kepada Alvin, gumam Aluna dalam hati. Dia hanya meringis menunjukkan gigi putihnya di depan Alvin.
Alvin menyuruh Aluna agar merilekskan tubuhnya. Kemudian, dia buru-buru keluar menelepon sopir pribadi, agar cepat membawakan air mineral untuk Aluna. "Tunggu di sini."
Tak ada lima menit, Alvin akhirnya kembali membawa sebotol air mineral. Alvin langsung membuka dan memberikannya kepada Aluna. "Minumlah, kalau kepalamu masih terasa berat, sebaiknya kita pulang saja."
"Terima kasih," sahut Aluna.
Mata Aluna menatap lekat wajah lelaki yang berjongkok di depannya. Alvin begitu perhatian tidak seperti awal saat pertama kali bertemu dengannya. Ya, andai semua ini nyata mungkin Aluna akan membalas perasaan lelaki itu.
"Duduklah! Kita tonton filmnya bersama-sama. Film apa yang kamu sukai?" tanya Aluna mencoba mencairkan suasana.
Lewat beberapa detik, Alvin yang tadinya berjongkok kini sudah duduk bersebelahan dengan Aluna. "Apa yang kamu suka. Aku akan menontonnya."
"Aku? Aku sangat suka film horor. Tetapi kalau hanya kita berdua yang nonton. Bagaimana kalau kita tonton drama percintaan bercampur fantasi? Aku sangat menyukai romansa fantasi," kata Aluna memberikan saran.
Alvin mengangguk. Tanpa menunggu lama dia langsung mengirim pesan kepada sopirnya agar memberitahu operator untuk memutarkan satu film bergenre romansa fantasi untuk mereka tonton.
Film diputar, lampu yang tadinya masih ada yang menyala kini suasana menjadi gelap pekat. Hanya penerangan dari pantulan layar sebagai sumber cahaya.
Sambil menonton mereka sesekali bercengkrama. Aluna sangat fokus melihat alur demi alur film yang sedang ditontonnya. Begitu pun Alvin. Film yang mereka tonton menceritakan tentang cinta hubungan percintaan suami istri. Di mana pemain utamanya adalah seorang istri yang sering dikasari tetapi perempuan tersebut memiliki kemampuan sihir dapat menyembuhkan penyakit.
"Lihat kasihan sekali istrinya. Kenapa suaminya begitu kasar? Dia pasti akan menyesal ketika istrinya berhasil menyembuhkan penyakitnya. Suaminya pasti akan menyesal setelah pemain wanita pergi meninggalkannya. Penyesalan memang selalu datang di akhir." Aluna membahas film yang ditontonnya kepada Alvin.
Berbagai cacian dan hinaan dilontarkan Alvin kepada Luna kala itu. Apalagi saat mengetahui Luna sudah tidak pera wan. Rumor perselingkuhan Luna dengan Devan santer terdengar di telinga Alvin. Berbagai fitnah kejam dituduhkan kepada Luna sampai-sampai Alvin gelap mata mengurungnya di kamar menyiksa Luna dengan tidak memberi kebebasan sama sekali.
Sayangnya, Luna terlalu lemah. Dia adalah perempuan penakut. Luna tak berani mengatakan sejujurnya kalau dia adalah perempuan enam tahun yang lalu. Ya, perempuan yang mengaku bernama Ana. Bahkan sampai sekarang Alvin belum tahu kebenarannya.
"Dasar lelaki kejam. Kalau aku jadi perempuan itu aku lebih baik meninggalkannya. Sudah di kasari habis-habisan tapi malah menyembuhkan penyakitnya." Aluna mengumpat kesal, mereview film yang sedang ia tonton bersama Alvin.
Beberapa menit berlalu umpatan Aluna sudah tak terdengar lagi. Digantikan suara dengkuran ringan yang hampir tak terdengar. Kebiasaan Aluna sering ketiduran kambuh lagi. Film belum berakhir dia malah tertidur nyenyak di bahu Alvin.
"Aluna," panggil Alvin. Untuk pertama kalinya Alvin memanggil nama asli perempuan yang sedang tertidur itu. Melihat jam di pergelangan tangannya sudah lebih dari pukul sebelas malam. Ditambah film pun telah berakhir, dia berniat membangunkan Aluna.
Akan tetapi, niat untuk membangunkan Aluna dia urungkan. Alvin malah menggendong perempuan itu dengan gaya bridal style. Memapahnya keluar dari gedung dalam bioskop menuju mobil.
"Asisten An, cepat bukakan pintu mobilnya," perintah Alvin kepada sopirnya.
"Baik, Tuan."
Maaf, sudah membawamu ke dalam kehidupanku, Aluna.
Tiba-tiba saja Alvin menci um kening Aluna dengan sangat lembut. Dia merebahkan tubuh Aluna di pangkuannya.
Setengah jam kemudian. Mobil Alvin sudah sampai depan rumahnya. Perlahan Aluna membuka kelopak matanya. Bukan Alvin yang membangunkannya, melainkan sistem. Suara nyaring sistem memberitahukan notifikasi kalau dia sudah mendapatkan lima kantong tas saran.
...[Selamat Nona. Anda mendapatkan lima kantong tas saran. Pertama karena interaksi Alvin yang melindungi Anda di tengah keramaian. Tas saran ke dua karena Anda berhasil mengajak Alvin bermain dan melupakan alerginya. Tas saran ketiga didapatkan karena kalian berciu man. Keempat Alvin menggendong Anda sampai ke mobil. Dan yang terakhir Alvin menci um kening Anda dengan tulus.]...
Mendengar berita bahagia itu, Aluna langsung sadar sepenuhnya. Matanya langsung berbinar tidak seperti orang yang baru bangun tidur.
"Terima kasih, Alvin." Aluna menahan tangan Alvin ketika lelaki itu hendak keluar dari dalam mobil.
Hal itu membuat Alvin tersentak dan sedikit kaget. Dia pikir Aluna masih tidur dan berniat menggotongnya lagi ke dalam rumah.
"Kamu sudah bangun? Apa kepalamu masih sakit?"
Aluna tersenyum menggeleng. Dalam hatinya timbul untuk mengumpulkan tas saran lebih banyak lagi demi adiknya.
Aluna benar-benar memanfaatkan kesempatan itu saat sopir sudah tidak ada. Dengan sangat lembut Aluna menarik tangan Alvin membuat lelaki itu kembali masuk ke dalam mobil.
Refleks, tangan halus Aluna meraih tengkuk Alvin. Mendekatkan wajahnya. Mendongakkan bibir ke arahnya lalu melu matnya dengan sangat lembut.
...###...
Hai kak, Aku mau rekomendasikan lagi novel temen aku. Pasti dijamin seru.
Yuk baca hanya di Noveltoon.