TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
217


"Satu ...."


"Ah tidak, aku seharusnya ulangi lagi berhitungnya. Kenapa Lily lama sekali keluarnya?" kata Ara pada dirinya sendiri. Ada sekelebat pikiran kalau jebakannya akan gagal. Namun, pikiran itu langsung ditepis. Mungkin Lily sedang buang air besar, pikirnya.


Ara masih siaga berdiri tidak jauh dari kamar mandi. Baru saja mulai menghitung lagi, tiba-tiba terdengar suara teriakan Lily dari dalam.


"KYAAAAA! SIAPA PUN, CEPAT TOLONG AKU ...."


Teriakan Lily sangat keras, sampai-sampai terdengar oleh beberapa karyawan kafe. Ara yang ada di dekat kamar mandi, berusaha menahan tawanya. Tak mau dicurigai, Ara langsung pergi dari tempat itu.


"Ha, ha, ha ...."


Di dalam kamar mandi. Lily tak henti-hentinya berteriak. Dia terus merintih sambil menahan mual di perutnya. Lily jatuh terpeleset, kakinya terkilir dan hampir seluruh bajunya terkena kotoran sampah.


"Siapa yang berani menaruh ember di atas kamar mandi? Dan siapa yang berani menaruh sampah-sampah ini di lantai? Tolong kaki dan punggungku sangat sakit sekali," teriak Lily begitu karyawan kafe masuk ke dalam.


Beberapa karyawan itu saling pandang. Menurut mereka, tak mungkin ada diantara mereka salah satu pelakunya. Karyawan kafe yang kebagian membersihkan toilet, merasa dia sudah mengepel dan membersihkan toilet itu sebelum kafe dibuka.


"Maaf, Nona. Kami sudah membersihkan toilet ini dari pagi," ucap petugas kebersihan itu menunduk takut.


"Apaaaa!!" Bentak Lily, bola matanya membulat seakan hendak keluar.


Tiga karyawan yang berdiri di sana sangat ketakutan. Dua dari mereka langsung menolong Lily dan langsung membersihkan baju Lily dengan kain yang mereka bawa.


"Benar, Nona. Aku yakin sudah membersihkannya. Kalau Nona tidak percaya, Nona boleh mengecek CCTV kami," ucap pegawai kafe setengah berlutut karena takut kena amukan Lily. kalau sampai ada yang ketahuan mengerjainya, sudah dipastikan Lily meminta orang tersebut untuk berhenti bekerja.


Baju Lily sudah sangat bau, rambutnya pun terlihat basah dan kumal karena terkena sampah busuk. Penampilannya sekarang lebih mirip seperti keset kamar mandi.


Sebenarnya Lily masih ingin memarahi pelayan tersebut. Hanya saja LIly sudah mual pada dirinya sendiri dan langsung menelepon Yuze agar membawakan baju ganti.


"Tunggu aku sampai mengganti baju. Aku akan berurusan dengan kalian lagi," kata Lily dengan wajah kesal bercampur emosi. Dia kembali masuk ke dalam kamar mandi segera membersihkan diri.


Satu jam kemudian semua pelayan berkumpul di depan kafe. Lily sudah mengenakan baju bersih, dia terlihat pongah sambil memarahi pelayan kembali.


"Maaf, Nona. Kafe kami baru buka sekitar dua jam, dan belum banyak pengunjung yang datang. Hari ini, baru ada tiga orang masuk ke dalam toilet tersebut. Petugas kebersihan, Nona Lily dan satu lagi, Nona Helen sekretaris Tuan Alvin." Salah satu pelayan memberitahukan hasil pengamatannya setelah mengecek CCTV.


Mata Lily kembali mendelik ke arah pelayan yang membersihkan toilet, "Berarti pelakunya adalah kamu!"


Pelayan itu langsung memundurkan langkanya dan menggeleng cepat, "Tidak Nona. Aku berani bersumpah bukan aku pelakunya. Aku masih ingin kerja di sini, tidak mungkin aku secara sengaja mengotori toilet dengan sampah busuk."


Mendengar ucapan pelayan, Lily ingin tertawa terbahak detik itu juga. Dalam hatinya, tidak mungkin Helen pelakunya. Dia sudah tau sikap Helen seperti apa, jangankan mau berbuat jail, memegang tong sampah saja dia paling anti. Apalagi sampai mengerjainya, menurut Lily lagi tak ada untungnya seorang Helen berbuat buruk seperti itu pada dirinya.


"Bohong! Aku akan beritahukan kepada atasanmu agar memecatmu sekarang juga!"


...***...


Di luar kafe, Ara tertawa terbahak-bahak ketika mendengar rencananya berhasil. Di sisi lain dia senang karena berhasil mengerjai Lily, meskipun tak melihat secara langsung bagaimana wujud menyeramkan Lily saat berlumuran sampah, dengan membayangkan saja dia sudah tertawa.


Tapi di sisi lain, Ara juga merasa bersalah karena menyebabkan satu pelayan menerima kerugian dan harus dipecat. Ara tak tinggal diam, setelah Lily pergi, dia mendatangi kafe itu dan meminta jangan memecat pelayan tersebut.


"Nona, ada seorang lelaki yang mencari Anda. Dia sedang duduk di ruang tunggu," kata seorang rekan kerja Helen yang kebetulan berpapasan dengan Ara.


Ara terdiam beberapa saat. "Siapa?"


"Kalau tidak salah namanya 'Noah', yang aku kenal dulu dia pernah datang ke mari menemui Presdir," jawab orang tersebut.


Ara tersenyum. Ini pasti atas perintah kakaknya menyuruh lelaki itu agar membantunya. Ara terlihat ragu melangkah. Karena pikirnya, semakin sering dia bertemu lelaki itu maka dia akan semakin jatuh cinta dan otomatis akan sulit melupakannya saat kembali ke dunia nyata. Kakaknya pernah berpesan, boleh berpacaran tapi jangan terlalu cinta karena mereka hanya sementara di dunia novel. Mereka tak boleh terlalu mencintai karakter visual mana pun.


"Terima kasih infonya, aku akan menemuinya sekarang," ucap Ara.


Pintu lift terbuka, kini Ara sudah berada di lantai satu perusahaan Alvin. Dia berjalan sangat tenang menuju ruang tunggu. Dalam hatinya ada rasa senang karena akan menemui Noah lagi, tak peduli bagaimana nantinya, dia hanya ingin merasakan cinta dari seorang lelaki dan memuaskan hatinya.


Sepertinya dia sudah lama menungguku, batin Ara.


Ara tersenyum, dia terus melihat ke arah punggung Noah dari kejauhan. Sesekali, lelaki tersebut melihat ke ke kiri dan ke kanan. Noah tidak tahu kalau Ara sedang berjalan dari arah belakang.


"Kenapa dia semakin tampan mengenakan setelan jas warna hitam itu? Gaya rambutnya yang formal membuatnya terlihat lebih wibawa. Kalau presdirnya seperti dia, aku mau jadi sekretarisnya selamanya" kata Ara berdecak kagum.


Dari jauh, Noah terlihat manis. Dia sangat ramah, membalas siapa pun yang menyapanya. Sampai-sampai banyak pegawai wanita saling berbisik di belakang ingin menjadi pacarnya.


"Ah' harusnya kamu jangan menunggu di sini. Harusnya langsung saja ke ruanganku," kata Ara lagi, dia tak suka ketika ada wanita lain yang tersenyum kepada Noah.


Beberapa langkah lagi sampai, Ara dikagetkan dengan kedatangan Lisa dari arah pintu utama. Ara terbengong, apalagi saat baru sampai Lisa langsung memeluk Noah.


"Pamaaan, suatu kebetulan kita bertemu di sini," ucap Lisa tanpa malu-malu memeluk Noah sangat erat.


Kejadian itu disaksikan langsung oleh Ara dari belakang. Ara terdiam dan lebih memilih terpaku di tempat melihat keduanya.


"Lisa! Kenapa kamu ada di sini?" tanya Noah dengan ekspresi kaget.


"Aku tidak sengaja lewat di depan dan melihat paman masuk ke sini," jawab Lisa masih memeluk Noah.


"Lisa, tolong lepas. Aku malu, banyak orang yang memperhatikan kita," ucap Noah.


Merasa ada yang memperhatikannya, Noah langsung menengok ke belakang. Dia melihat Ara menunjukan wajah yang sangat masam kepadanya. Tak sanggup melihat mereka berpelukan, Ara berbalik badan hendak meninggalkan tempat itu. Ara benar-benar sedang patah hati.


"Araaa!" teriak Noah sambil mencoba melepas pelukan Lisa.


"Paman, bukankah dia Nona Helen?" tanya Lisa berusaha menahan lelaki itu.


Noah tak peduli, kemudian mendorong tubuh Lisa agar melepaskannya. Noah berjalan cepat mengejar Ara yang semakin menjauhinya.


"Nona Helen, tunggu!"