TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Ternyata Benar


"Aku setuju dengan pendapat istriku!" Alvin ikut berdiri di samping Aluna. "Lagipula, kami sudah bertahun-tahun berinvestasi dengan perusahan Axel. Aku juga sudah membaca laporan keuangan beberapa tahun terakhir. Keadaan keuangannya masih dikatakan stabil dan tingkat pengembalian investasinya di atas 20%. Itu tandanya perusahan masih bisa kita pertimbangkan untuk terus berinvestasi."


Karena pengaruh perkataan Aluna dan Alvin, ada beberapa investor yang ingin menarik saham, kembali berpikir ulang untuk terus berinvestasi. Tetapi tidak dengan Anming. Dia merasa paling benar dan tidak terpengaruh dengan ucapan Aluna. Anming masih terpaku pada kubu yang menyatakan berhenti berinvestasi.


Sesi perdebatan selesai. Penyelenggara rapat akhirnya memberi jeda kepada seluruh peserta rapat untuk beristirahat sejenak untuk berpikir mengambil keputusan.


Dalam hitungan menit, satu persatu diantara mereka membubarkan diri termasuk Alvin dan Aluna. Mereka berdua menuju kafe kecil untuk merilekskan pikirannya sejenak sambil menikmati teh.


"Luna, aku sebenarnya tidak percaya perkataanmu mengenai kosmetik dan obat baru yang akan diluncurkan Perusahan Axel akhir tahun ini. Kalau itu benar, dari mana kamu mendapatkan informasinya?" tanya Alvin begitu penasaran. Dia pikir Aluna sedang mengarang cerita.


"Aku sudah menyelidikinya jauh-jauh hari. Kalau kamu tidak percaya, kenapa kamu menyetujuinya?" Sambil menyeruput teh Aluna balik bertanya.


"Karena aku sudah tahu dari hasil keuangan tahunan. Aku tidak yakin akhir-akhir ini kamu punya waktu untuk menyelidikinya." Alvin terus curiga, dahinya mengernyit. "Bukan dari peramal kan kamu mengetahuinya?"


"Tentu saja tidak. Bahkan aku bisa tahu lebih dari informasi ini untuk ke depannya, asal kamu menjadikanku asisten pribadimu, Alvin."


Alvin terkekeh mendengar ucapan Aluna. Menurutnya Aluna sedang berhalusinasi. "Luna, hentikan leluconmu!"


Bukannya menjawab, Aluna mala bergelayut manja di pundak Alvin. "Aku sedang tidak berhalusinasi. Yakinlah padaku, Alvin. Kalau kamu menerimaku sebagai asisten. Aku akan memberitahukan rahasia besar lainnya. Tentunya perusahaanmu akan mendapatkan keuntungan besar nantinya."


Namun, Alvin membantah dan menyuruh Aluna agar tidak berpikiran terlalu jauh dulu. "Sudahlah, Luna. Sebaiknya kita makan dulu," katanya mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah, kalau kamu tidak percaya lihat saja hasilnya nanti."


Setengah jam berlalu, waktu istirahat pun telah usai. Seluruh peserta rapat kembali memasuki ruangan. Rapat kembali dibuka di menit itu juga. Perwakilan dari Perusahaan Axel mendata siapa saja yang akan terus bekerja sama atau tidak.


Sekarang, keputusan sudah didapat. Hampir 70% peserta rapat mau melanjutkan investasi. Termasuk Anming, mau tak mau lelaki itu menyetujui, mengingat kekuasan tertinggi di perusahan berada pada tangan Alvin.


"Alvin, apa kamu yakin dengan keputusanmu?" tanya Anming.


"Tentu saja, Ayah."


"Apa kamu yakin semua ucapan istrimu benar, kalau perusahan Axel akan meluncurkan obat di akhir tahun. Kalau tidak benar, kamu sendiri yang akan menanggungnya, Alvin. Para investor pasti akan menyalahkan kita kalau mereka merugi," kata Anming.


Ya, bukan setahun dua tahun dia mengelola perusahaan. Anming sudah memilki jam kerja yang lebih banyak dari anaknya. Walaupun kesuksesannya tidak sehebat Alvin, tetapi untuk urusan berinvestasi dia sangat takut mengambil resikonya.


Di saat mereka sedang asik mengobrol berdua tiba-tiba telepon Alvin berdering. Rupanya itu adalah panggilan telepon dari penanggung jawab Perusahan Axel. Mereka sangat berterima kasih karena Alvin masih mempercayai mereka.


Karena penasaran dengan perkataan Aluna, Alvin pun bertanya lewat telepon, "Apa benar perusahaan Axel akan meluncurkan skincare varian baru dan obat di akhir tahun ini?"


^^^"Benar, Tuan. Kami akan meluncurkannya tepat bulan Desember nanti. Maaf, kami belum memberitahukan kepada Anda sebelumya, Tuan Presdir," kata penanggung jawab di telepon.^^^


Mendengar itu Alvin begitu tercengang.


Ternyata ucapan Aluna semuanya benar. Lalu, dari mana dia mengetahuinya?