TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bab 261. Kemampuan Dasar


"Bajingan! Beraninya kamu menciumku!"


Helen mengangkat tangan tinggi, mendaratkan keras satu tamparan di wajah Noah yang meninggalkan bekas kemerahan. Helen mengusap bibirnya kasar, ingin sekali meludahi Noah detik itu juga.


"Sekali lagi menamparku. Aku akan menculikmu."


Noah memegang ke dua tangan Helen. Lebih tepatnya mencengkeram. Dia tak pedulikan saat Helen menjerit. Helen dan Ara menurutnya sama, dan dia harus mendapatkannya. Tak peduli berapa kali pun dia akan ditampar.


"Kamu gila! Lepaskan aku, kalau tidak aku akan berteriak!"


Helen mengancam Noah kalau lelaki itu tak melepas pelukannya. Noah yang semakin menggila tak peduli sama sekali. Kalaupun ada warga yang ikut campur, biarkan saja.


"Teriak sesukamu, aku tak peduli. Cepat pergi kembalikan Ara ku," kata Noah cukup tegas di telinga Helen.


"Jadi kamu sudah tahu lelaki brengsek?"


Noah mengelus pelan pipi Helen. Hal yang gila kalau harus menikahi Helen. Namun dia akan lakukan selama Ara akan kembali.


"Aku bahkan akan menikahimu," kata Noah lagi.


"Aku tidak mau! Lepaskan aku!" Helen berusaha lepas dari Noah. Baru kali ini dia takut dengan seorang lelaki.


"Apa aku tidak cukup tampan untuk menjadi suamimu? Aku punya pekerjaan dan bisa menghidupi mu, Nona. Jadi tak perlu takut sengsara hidup bersamaku."


"Kamu bukan Alvin. Dan aku sangat membencimu."


Helen berhasil lepas dari Noah dan segera berlari menuju gerbang rumah. Tak mau dikejar lagi, kemudian dia mengunci rapat dan berlari ke dalam.


"Helen aku berjanji akan membuatmu mencintaimu. Lihat saja nanti!" teriak Noah dari luar.


Mona yang ada di atas, bergerak mendekati anaknya. Dia mengamati ekspresi di wajah Helen, dia pikir Ara telah kembali. Namun, begitu Helen mengumpat kata-kata kasar untuk Noah. Mona kembali merasa lega.


***


Setelah sampai mansion, seperti biasa Aluna langsung mengajak Zero naik ke atas lantai tiga, ruangan dan kamar yang dikhususkan untuk Alvin dan mereka. Namun baru sampai di lantai dua, mereka malah bertemu dengan Clara dan Nenek Alma. Keduanya terlihat seperti sedang menggosipkannya.


"Nenek, aku mendengar cucu Nyonya Sima sudah bisa berbahasa inggris di usianya yang menginjak tujuh tahun. Dia juga sangat mahir memainkan piano. Nenek tahu kan menantu Nyonya Sima sangat telaten dengan cucunya. Menantunya menyekolahkannya di sekolah internasional yang berkualitas," ucap Clara menyindir Aluna.


Tadinya Aluna ingin berputar arah untuk lewat jalan lain saja untuk sampai atas. Namun, karena mereka sudah melihat, terpaksa Aluna dan Zero meneruskan jalannya.


"Selamat sore, Nenek dan Oma," sapa Zero.


Clara dan Nenek Alma tersenyum kemudian meraih Zero dan memegang pundaknya. "Nenek ingin memasukkan Zero ke sekolah yang lebih besar dan bagus. Nanti di sana banyak teman-teman Zero yang sepadan dengan kita," ucap Clara.


Zero melihat ke arah Clara, kemudian ke Nenek Alma dan berakhir ke Aluna. Dia tak paham apa maksud dari neneknya itu. Memindahkan dia sekolah? Bukankah dia baru sekolah di taman kanak-kanak pilihan ibunya.


"Kenapa mesti pindah, Oma? Di sekolahku temannya sangat baik dan ramah. Gurunya juga sangat asyik, Oma. Lihat aku dapat bintang lima," kata Zero menunjukkan bintang yang didapat dari gurunya.


"Di sekolah yang baru juga gurunya sangat asyik. Bahkan Zero bisa mendapatkan pelajaran yang lebih berkualitas. Di sekolah itu, anak seusia kamu sudah mahir berbahasa Inggris. Dulu papamu juga sekolah di sana. Kamu tahu, diusia delapan tahun papamu sudah memenangkan olimpiade matematika di luar negeri. Kamu tak boleh kalah dari papamu," kata Clara kembali memanasi.


Aluna tak suka cara Clara berbicara dengan anaknya. Membandingkan Zero dengan Alvin, seakan merendahkan Zero karena dia tak memiliki keahlian.


Aluna langsung mengambil Zero. Dia tak ingin Zero diatur oleh mereka. Menurutnya Zero masih terlalu kecil untuk membahas masalah penerus keluarga. Masa kecil tidaklah lama, Aluna ingin Zero menikmatinya seperti anak pada umumnya yang ceria tanpa pengekangan.


"Cukup, Nek, Ibu. Aku ibunya dan aku sudah menyekolahkan Zero di tempat yang tepat. Lagi pula Zero masih terlalu muda untuk membahas masalah penerus keluarga ini. Bahasa Inggris memang penting, tapi waktu tak bisa diulang. Masa kecil yang bahagia dan ceria jauh lebih berharga. Dan lagi, Zero masih belum genap enam tahun, jangan terlalu mengekangnya."


Aluna berkata tak terlalu keras namun tegas. Dia tak peduli akan dianggap menantu yang tak dapat diatur.


"Kamu sudah membuangnya selama lima tahun. Harusnya kamu fokus di rumah dan mengurus Zero sebagai penebus kesalahanmu. Tapi nyatanya kamu terlalu egois dan malah sibuk bekerja. Alvin tak kekurangan uang sampai menyuruh istrinya bekerja. Dari sini saja Nenek tak yakin kamu bisa mengurus cicitku," kata Nenek Alma.


Ucapan Nenek Alma memang ada benarnya. Tapi dia bukanlah Luna yang asli dan dia harus mengikuti misi yang diberikan sistem. Aluna tak bisa menjelaskan semuanya kepada mereka.


"Maafkan aku, Nek. Aku bekerja bukan berarti mengabaikan anakku."


"Kalau begitu berhentilah bekerja sekarang juga!" perintah Nenek tegas.


Aluna kembali diam. Dia tak bisa kalau harus berhenti bekerja. Aluna meminta Zero agar naik ke atas agar tak mendengarkan mereka berdebat, namun kembali dilarang oleh Clara.


"Biarkan Zero mengikuti aturan kami. Lihatlah Alvin, kalau bukan kami yang mengaturnya tak mungkin dia sesukses sekarang. Walupun Zero masih berusia lima tahun, dia harus memiliki kemampuan dasar berbahasa Inggris," kata Clara.


Aluna tak bisa berkutik. Tapi untungnya di saat bersamaan Alvin datang. Dia langsung menghampiri Zero dan Aluna.


"Nenek, Ibu, biarkan Zero mengikuti cara Luna," kata Alvin.


Nenek Alma dan Clara melihat tidak suka.


"Alvin!"


"Aku tidak mempunyai kenangan yang indah saat kecil dulu, bermain bersama teman tanpa mengingat banyak les tambahan. Ibu tidak tahu betapa sedihnya aku saat kecil melihat dari atas, teman-teman sebayaku sedang bermain hujan-hujanan, bermain layang-layang bersama. Bermain rumah-rumahan dengan pelepah pisang sampai mereka tertawa terbahak tanpa pengekangan. Sementara aku saat itu sibuk berkutat dengan rumus rumus yang selalu membuatku selalu bermimpi buruk. Biarkan Zero menikmati masa kecilnya, Ibu."


Alvin membuka suara dan terus mendukung Aluna. Sebelum masalah semakin memanas, dia langsung membawa Aluna dan Zero segera naik ke atas.


"Alvin, ibu hanya ingin memberikan yang terbaik untukmu. Lihatlah dirimu sekarang," kata Clara membela diri.


"Terbaik untuk ibu, tetapi belum tentu terbaik untukku."


Alvin telah berhasil membawa Aluna dan Zero ke tempatnya di lantai tiga. Baru kali ini Alvin berani menentang ibunya. Namun, dia lakukan untuk kebaikan Zero.


"Alvin, maafkan aku tadi sudah membuatmu melawan mereka."


"Kamu tak bersalah, jadi tak perlu meminta maaf. Menentang bukan berarti melawan," jawab Alvin.


"Baiklah, kamu benar."


Aluna mendekati Zero. Omongan mertuanya memang benar kalau Zero harus memiliki kemampuan dasar berbahasa Inggris dan alat musik. Dia juga berencana ingin mengajarkannya namun tidak sekarang.


"Zero, apa kamu pernah belajar bahasa Inggris?" tanya Aluna.


Zero mengangguk. "Yah, di sekolahku yang dulu juga pernah belajar. Hanya beberapa kata saja. Tapi aku tak ingat lagi."