TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Merubah Warna Rambut


Di perusahan, Alvin sedang duduk terdiam memandangi kopi hitam di atas meja. Memutarkan jarinya ke sisi cangkir sambil melamun memikirkan Aluna. Meskipun Alvin percaya, lelaki itu tetap menganggap perkataan Aluna adalah sebuah lelucon di luar logika.


"Hah, lucu sekali hidupku, di saat aku benar-benar ingin hidup bersama dengan seorang wanita, dia malah membohongiku."


"Seandainya semua ini benar, tetap saja tidak masuk akal." Alvin tersenyum tipis terus membayangkan wajah Aluna, "harusnya kau bicara jujur dari awal agar aku bisa menjaga jarak, bukannya memberi cela untukku masuk."


Alvin menyesap kopi itu perlahan, merasa frustrasi diputarnya kursi yang dia duduki sambil menyandarkan kepalanya. Alvin menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya begitu saja.


"Baiklah! Aku ingin buktikan sekali lagi kalau ucapanmu bisa dipertanggungjawabkan, Luna."


Alvin tersenyum tipis, dia lalu meraih telepon di sebelahnya hendak menelepon sekretaris Sam.


"Apa kamu sudah mendapatkan informasi yang akurat?" tanya Alvin menelepon Sam.


Di ruangan lain, Sam menjawab telepon dari Alvin. Dia melaporkan seluruh informasi yang didapatnya barusan mengenai perusahaan Young. Ya, apa yang dikatakan Luna semuanya benar, Presdir perusahaan Young itu sangat licik. Kebusukan Presdir Young terbongkar ketika orang suruhan Alvin berhasil meretas data di perusaan tersebut.


Banyak investor lain yang mengatakan, perusahaan Young tidak transparan memberitahukan laporan keuangan produk investasi terhadap mereka. Bahkan, ada beberapa manager bagian produksi yang melakukan korupsi, dengan memotong gaji karyawan tanpa sepengetahuan dengan alasan yang tidak masuk akal. Mendengar itu saja sudah membuat Alvin tak berpikir lagi untuk menghentikan investasi.


"Segera beritahukan Presdir dari Perusahaan Young kalau kita berhenti berinvestasi mulai sekarang," perintah Alvin kepada Sekretaris Sam lalu menutup teleponnya.


Sudah kesekian kalinya omongan Aluna terbukti benar. Tak ada alasan lagi untuk Alvin tidak mempercayai Aluna. Semakin lama dia memikirkan Aluna, semakin itu pula dirinya begitu tertekan.


"Noah, temani aku keluar malam ini di tempat biasa," ucap Alvin di telepon, "ada banyak hal yang ingin aku tanyakan padamu."


***


Di tempat lain, di pinggir jalan yang sangat ramai lalu lalang orang dan penjual kaki lima, Aluna dan Ara jalan bergandengan. Sudah setahun lamanya mereka tidak berjalan keluar berdua. Terakhir yang Ara ingat, saat rambutnya masih belum rontok dan Aluna masih belum sibuk bekerja.


Apa pun alasannya, Aluna merasa bersyukur dipertemukan dengan adiknya lagi. Ya, walaupun bertemu di dunia paralel yang tak nyata.


"Adik kecil, bagikan semua balon itu ke semua orang yang ada di sini. Hari ini aku memborong semua daganganmu," ucap Aluna pada seorang gadis kecil penjual balon.


Anak kecil yang berumur sekitar delapan tahun itu mendongak ke arah Aluna. Awalnya dia tak percaya. Namun, setelah Aluna menyodorkan setumpuk uang padanya. Anak berambut panjang itu baru percaya.


Dia sangat terharu ketika menerima uang pemberian Aluna. "Terima kasih, kakak. Semoga kakak selalu dikelilingi orang-orang yang baik yang selalu mencintaimu. Aku punya sesuatu untukmu, Kak." Gadis kecil itu lalu merogoh sakunya.


Ternyata dia mengambil balon berwarna merah yang belum mengembang di kantong, lalu meniupnya. Ara dan Aluna yang melihat, hanya tersenyum sambil terus memperhatikan tingkah lucu gadis kecil itu.


"Anak kecil kamu sedang apa?" tanya Ara ketika mulut gadis kecil itu bergerak-gerak seperti sedang mengucapkan mantra.


"Aku sedang berdoa, Kak."


Aluna teringat saat dia kecil. Dulu dia pernah berjualan balon demi mendapatkan uang untuk membeli nasi bungkus untuk adiknya. Aluna ingat waktu itu dia masih berumur enam tahun. Umur di mana dia seharusnya duduk manis sambil belajar dan dimanjakan orang yang baik disekelilingnya, justru dia gunakan untuk mencari nafkah.


"Ha ... ha ... terima kasih adek kecil, imajinasimu benar-benar sangat tinggi, memangnya balon ini berisi mantra apa?" kata Aluna tertawa.


"Kakak buktikan saja nanti." Anak kecil balas tersenyum menyerahkan balon.


"Baiklah kakak menerimanya. Pesan kakak, kalau pun kamu harus mencari uang, ingat! Jangan lupakan pendidikanmu, karena itu sangat penting," imbuhnya sambil mengelus rambutnya.


Setelah memberikan sejumlah uang untuk anak kecil tadi, Aluna dan Ara kembali meneruskan perjalanan menuju salon kecantikan.


"Anak kecil tadi sangat lucu, bagaimana kalau aku letuskan balon ini di atas kepalamu, kamu adalah orang yang kakak sayangi."


Mendengar itu, Ara merasa senang. "Terima kasih, Kak. Tapi, tunggu dulu!" Sebelum balon itu meletus di atas kepalanya, tangan Ara lebih dulu meraihnya.


Kemudian, Ara terdiam sambil memejamkan matanya sesaat lalu melepas tali balon itu ke udara.


"Kenapa kamu melepasnya," kata Aluna.


Ara tersenyum. "Aku sudah menyayangimu, Kak. Kata gadis kecil tadi balon ini sangat istimewa. Aku berharap balon ini meletus di atas kepala seseorang, khususnya lelaki. Aku ingin ada orang lain yang menyayangi kakak selain aku."


Aluna terkekeh mendengar ucapan Ara. "Ha .. ha ... itu hanya imajinasi adik kecil itu saja, Ara. Lagipula mana ada hal semacam ini di dunia kita, jangan terlalu dianggap serius."


"Tidak ada yang mustahil, Kak. Kalau ucapan anak itu benar, bagaimana?"


Aluna merangkul bahu adiknya, sambil berpikir membayangkan. "Heum ... kalau ucapannya benar, kakak berharap balon ini meletus tepat di atas kepala lelaki yang kakak sukai."


"Memangnya siapa lelaki yang kakak sukai?" tanya Ara penasaran, tidak biasanya kakaknya itu membicarakan soal lelaki.


Aluna mengangkat bahunya sambil tersenyum malu. "Entahlah kakak bingung. Sudahlah jangan membahas itu lagi, kita sudah ada di depan salon. Ayo kita masuk!" Ajak Aluna.


Sekarang, mereka berdua berada di dalam salon. Seorang pegawai salon menyapa mereka lalu mempersilahkan Ara duduk di depan cermin.


"Kakak, aku ingin merubah warna rambutku menjadi warna kuning. Ini adalah impianku, apa kakak setuju?" tanya Ara.


Aluna berdiri di sebelah pegawai salon. "Kakak setuju, asal kamu senang Ara."


Pegawai salon menyentuh rambut Ara. "Nona rambut Anda sangat terawat dan halus. Sangat disayangkan kalau Anda merubah warna rambutnya menjadi kuning, karena hal itu bisa merusak rambut Anda yang cantik."


Memang benar rambut Helen sangat terawat dan sehat, namun karena ini adalah impian Ara dari dulu. Dia tak memperdulikan nantinya kalau Helen akan marah saat bertukar tubuh lagi.


"Tidak masalah! Tolong cat rambutku menjadi kuning. Aku sangat menyukai warna kuning."


Aluna tersenyum mendengar perkataan adiknya. Yang dia tahu, Helen tidak menyukai warna kuning apalagi sampai mengecat rambutnya berwarna kuning, itu mustahil. Kalau sampai terjadi Aluna tak bisa membayangkan bagaimana ekspresi Helen.