TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
236


Area 21+


###


"Dasar sistem me sum!"


Aluna menghentikan obrolannya dengan sistem. Entah apa yang harus dia putuskan sekarang. Aluna sangat kebingungan. Berulang kali dia berjalan mondar mandir, kembali ke kamarnya kemudian balik lagi menengok Alvin dari cela pintu yang masih terbuka.


"Ternyata dia masih belum tidur," gumam Aluna.


Aluna masih memperhatikan Alvin dari luar. Karena tak tahan gatal, Alvin sampai membuka bagian dada tubuhnya. Melihat dari jauh saja, tubuh Alvin terlihat kemerahan. Alvin masih mengusap-usap berharap rasa gatalnya akan menghilang dan dia bisa tidur malam ini.


"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Aluna lagi merasa kasihan.


Ponsel Alvin terdengar berdering. Alvin berhenti mengusap, kemudian meraih benda berbentuk pipih itu.


"Ibu, sudah kubilang aku tak ingin menceraikan Luna," kata Alvin berbicara di telepon.


^^^"Kenapa kamu tak mengatakan kalau anak itu adalah cucuku dari awal. Di mana cucuku? Cepat pulang dan bawa cucuku sekarang. Aku ingin melihatnya," ucap Clara di kediamannya.^^^


"Jadi ibu sudah menerima Zero? Kalau iya, aku dan Luna akan pulang sekarang," kata Alvin.


Clara di kediamannya jelas menolak kalau Alvin pulang bersama Luna. Dia hanya menginginkan Alvin dan Zero. Mengingat Luna yang sudah menelantarkan Zero, dia tak mau menerima kedatangan wanita itu di rumahnya.


^^^"Tidak! Rumah kami hanya menerima kamu dan cucuku. Walaupun dia sudah melahirkan cucuku, kami tak mau menerimanya kembali. Dia sangat jahat, dia tak pantas menjadi istrimu, Alvin! Ceraikan saja Luna!" bentak Clara di telepon.^^^


Akan tetapi, Alvin terus menolak. Tak peduli segatal apa pun dirinya, dia tak mau pulang malam ini, kecuali pulang bersama Zero dan Aluna.


"Sudah aku katakan berulang kali, aku tak mau pulang kecuali bersama anak dan istriku. Beri kesempatan sekali lagi untuk Luna, Ibu. Kenapa hanya Luna saja yang disalahkan? Kenapa Ibu tak menyalahkanku juga karena tidak bertanggung jawab dulu. Kalau saja dulu aku tahu Luna mengandung anakku, dia tak mungkin sedepresi itu dan mengirim Zero ke desa. Aku sangat menyayangi Luna, aku tak akan meninggalkannya sampai kapan pun," ucap Alvin dengan nada tinggi.


^^^"Apa pun Alasannya, kamu harus tetap menceraikan Luna! Nenek sudah tidak suka, kamu tak bisa menjadi ahli waris nanti kalau masih tetap bersama Luna, Alvin!"^^^


Tak mau berdebat lagi dengan ibunya, Alvin segera menutup telepon. Alvin tak peduli apa pun. Dia tak mungkin pulang hanya berdua dengan Zero.


Pembicaraan Alvin di telepon, didengar oleh Aluna di luar. Aluna merasa terenyuh dengan kata-kata Alvin barusan. Yah, meskipun dia tahu ucapan Alvin khusus untuk Luna, setidaknya dia pun harus membalasnya. Aluna sadar tubuh yang dia tempati adalah milik Alvin. Dia merasa bersalah kalau sampai tak menolong Alvin kali ini.


Dia sangat mencintai Luna. A-aku harus menolongnya, batin Aluna.


Berulang kali wanita itu mengembuskan kasar napasnya, melirik Alvin lagi dan lagi. Tetap saja lelaki itu terlihat menyedihkan. Setelah berpikir berulang kali, akhirnya Aluna memutuskan untuk membantunya.


Tapi bagaimana caranya? Aku tidak ahli dalam hal ini? Jangankan melakukan hubungan suami istri, memiliki pacar pun aku tak pernah? Bagaimana cara aku mengatakannya agar Alvin mengerti? Aluna terus membatin.


"Alkohol! Yah, aku perlu minuman itu?"


Aluna berjalan pelan menuju keluar rumah. Dia menyuruh pelayan membelikan minuman itu untuknya. Entahlah, Aluna sedang bingung kali ini. Ide yang keluar dari pikirannya dia laksanakan, meskipun terlihat konyol. Dia pernah melihat kawan-kawannya dulu hilang rasa malu setelah meminum alkohol.


Hanya kali ini aku terpaksa melakukannya, batin Aluna.


Beberapa menit kemudian pelayan datang membawakan pesanan Aluna. "Ini pesanan Anda, Nona. Apa ada pesanan lainnya lagi? Kalau tidak ada, aku mohon izinkan aku pulang sekarang."


"Terima kasih, Bibi, bisa pulang sekarang dan kembali lagi esok pagi," jawab Aluna sambil meraih kantong.


"Jangan pikirkan apa pun. Anggap saja bukan aku yang melakukannya," kata Aluna sambil menyesap pelan segelas wine.


Pintu depan sudah terkunci, Asisten Jo memilih tidur di depan pos. Aluna juga melihat Zero sudah tidur dengan pulas dan menutup pintunya dengan rapat. Satu gelas wine masih membuatnya sadar, Aluna menuangkan lagi cairan merah itu ke dalam gelas, lalu menenggaknya lagi sampai dirasa cukup.


Aluna bukan seorang pemabuk, tetapi dia tak munafik kalau dulu pernah meminumnya saat menghadiri pesta temannya dulu. Itu pun hanya beberapa kali teguk, tidak seperti sekarang yang hampir saja menghabiskan satu botol.


Aluna tersenyum puas, kesadarannya sudah mulai menurun. Yang dia ingat sekarang adalah Alvin, dan dia harus segera menolongnya sekarang.


"Kau pikir aku tak bisa melakukannya? Ha, ha, sepertinya tidak terlalu sulit," kata Aluna sambil membuka beberapa kancing bajunya.


Cara jalan Aluna sedikit sempoyongan, dengan percaya diri dia memasuki kamar Alvin, menutup pintu dengan rapat dan berjalan pelan mendekatinya dari belakang.


"Aku sudah membawakan obatnya, suamiku," racau Aluna.


Mendengar Aluna datang, seketika Alvin langsung menoleh. Alvin tercengang melihat Aluna sudah melepas seluruh pakaian di depannya.


"Lu-luna, apa yang terjadi?" Alvin dibuat melongo, matanya membulat sempurna melihat tubuh Aluna tanpa pakaian, hanya menyisakan pakaian da lamnya saja.


Pemandangan tersebut membuat dia meneguk salivanya. Alvin dibuat merinding, apalagi saat melihat Aluna tersenyum-senyum sendiri seakan sedang menggoda dirinya.


"Kenapa kamu diam saja? Bukankah kamu mengingkannya," racau Aluna lagi dalam kondisi setengah sadar.


Alvin melupakan rasa gatal dan berganti menjadi ketakutan. Dia pikir Aluna sedang kemasukan roh halus.


"Luna, sadarlah! Kenapa dengan dirimu?"


Alvin yang sedang duduk di tempat tidur, semakin memundurkan diri, apalagi saat tangan Aluna sudah bergerilya menyentuh tubuhnya. Wanita itu dalam kondisi setengah sadar. Alkohol membuatnya tak malu dan berani menyentuh beberapa titik ero tis milik Alvin.


"Jangan banyak bertanya, aku datang ke sini untuk menyembuhkanmu," kata Aluna, dia mulai meracau lagi, "ternyata kamu benar-benar sangat tampan. Aku sudah siap sekarang."


Alvin mulai sadar saat ini Aluna dalam kondisi mabuk. Alvin menahan tawa saat Aluna mulai menjelajah tubuhnya. Aluna semakin mendekat, seperti singa yang mendapatkan buruan, ingin menerkamnya hidup-hidup.


"Jadi kamu ingin memperko saku?"


Diperlakukan seperti itu membuat Alvin pasrah. Bodohnya dia kalau sampai menolak, karena justru hal itulah yang selama ini dia tunggu dan inginkan.


"Kenapa kamu diam saja? Apa aku tidak menarik?" Nada suara Aluna mulai meninggi.


"Kamu sangat menarik dan seksi malam ini. Aku sangat menyukainya," kata Alvin balas menggoda.


Kalau kamu terus menggodaku, baiklah kita lakukan sekarang, batin Alvin tersenyum penuh nap su.


Rasa gatalnya mulai berangsur menghilang. Alvin membalas perlakuan Aluna, melakukan gerakan foreplay sebelum mereka bermain. Meraih pinggang wanita itu dan menahan di bawah tubuhnya.


Jangan salahkan aku nanti, kamu sendiri yang memintanya, batin Alvin mulai melakukan kontak mata dengan Aluna. Menatap mata wanita itu dalam-dalam. Sadar atau tidak, dia sangat menyukainya.


Perlahan Alvin mendekatkan bibirnya ke bibir gadis cantik itu dengan sangat lembut. Memainkan perlahan lidahnya agar Aluna membuka mulut.


Ciuman yang panas dan semakin menuntut, membuat keduanya tak dapat mengendalikan diri saling menyatu. Melakukan gerakan foreplay yang semakin memanas, berpindah-pindah posisi yang nyaman dan menyenangkan. Sampai merasakan ******* bersamaan.