TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Dua Jam Lagi


Setelah Aluna telah selesai mengisi diary, ia baru sadar kalau belum menghubungi Devan. Aluna mencari kontak Devan, berusaha menghubungi pria itu secepatnya.


"Halo Luna." Baru sesaat tersambung terdengar suara seorang pria menjawab teleponnya.



"Apa aku sedang bicara dengan Devan?" tanya Aluna. Tentu saja ia belum mengenali suara Devan.


Pria dengan rambut belah samping itu kegirangan saat mengetahui Luna meneleponnya. Ya, Devan memang sudah lama sangat menginginkan Luna. Bahkan ketika Luna sudah menikah dengan Alvin pun, ia masih tetap menyukainya.


Devan Affandra, seorang putra dari keluarga kaya raya, berwajah tampan dan penuh kharisma. Bisnis yang digeluti keluarga Devan, selalu bersaing dengan Keluarga Wiratama. Sayangnya, Devan selalu kalah dari Alvin, baik urusan bisnis maupun mengambil hati Luna. Terakhir perusahaan Devan kalah tender dari perusahaan Alvin, menyebabkan kerugian materil yang sangat besar bagi keluarganya.


Tentu saja, mendapatkan hati Luna adalah sebuah tantangan yang sangat menarik baginya. Memisahkan mereka berdua adalah tujuan utamanya, ia ingin membalas sakit hatinya kepada Alvin. Devan, seorang pria yang terkenal casanova, setiap hari ia bisa dengan mudah bergonta-ganti wanita. Pesona yang dimiliki Devan mampu membius wanita manapun, bahkan di antara mereka, rela hanya untuk ditiduri semalam.


"Apa kau sudah lupa suaraku? Tentu ini aku, Luna. Bagaimana kabarmu? Setelah melewati malam kemarin kenapa kau tak mengabariku lagi?" tanyanya di telepon.


Aluna mengerutkan keningnya, memijat lembut pelipisnya, "Ah' sepertinya aku memang sudah lupa, kabarku lebih baik sekarang. Bolehkah aku meminta sesuatu padamu, Dev?"


Devan terkekeh di telepon, "Tentu saja, kau boleh meminta apa pun kepadaku, Luna sayang. Katakan padaku apa yang kamu pinta akan aku turuti."


Dari nada bicaranya sepertinya pria ini adalah perayu ulung.


Mau tak mau Aluna harus bersikap manis di telepon, walaupun hatinya begitu muak meladeninya.


"Aku ingin mengundangmu makan malam sekarang. Datanglah ke Kafe Miracle jam sembilan malam, aku akan menunggumu di sana," ucap Aluna.


Setelah Devan mengiyakan, Aluna cepat-cepat menutup teleponnya. Baginya, lebih baik berbicara dengan seorang LANSIA daripada berbicara lama-lama dengan casanova seperti Devan.


Malam ini Aluna terlihat sangat letih, hampir seharian ia menghabiskan energinya untuk berpikir dan mencari bukti. Aluna melihat jam di dindingnya masih menunjukan pukul tujuh malam, masih ada waktu dua jam lagi untuknya beristirahat sejenak. Matanya sudah semakin berat, bahkan mulutnya tak berhenti menguap. Tanpa sadar, belum ada sepuluh menit ia memutuskan telepon, netranya mulai menutup perlahan.


***


Lewat sepersekian menit, Helen menghubungi Devan lewat telepon. Wanita itu memberitahukannya kalau Luna sudah mengetahui semuanya. Helen meminta agar Devan berkerja sama dengannya lagi, memanipulasi bukti yang sudah Luna dapatkan.


"Kalau Luna sudah mengetahuinya, untuk apa ia mengundangku dinner sekarang?" tanya Devan di telepon.


"Tentu saja untuk menjebak kita berdua, aku sangat yakin wanita itu sudah menyiapkan perangkap."


Mendengar itu, Devan sempat berpikir sejenak mengikuti saran Helen agar tak usah datang. Sayangnya ia sudah berjanji kepada Luna, ingin menunjukan kalau ia benar-benar menyukainya.


"Aku tidak peduli, aku akan tetap ke sana!" seru Devan di telepon.


"Jadi kamu akan datang ke kafe itu?"


"Tentu saja, Nona Helen. Aku ingin Luna tahu kalau aku tidak ingkar janji. Lagipula selagi aku tidak mengaku, bukti itu tidak akan kuat."


"Kalau begitu kita harus bekerja sama malam ini. Aku punya cara lain agar bukti yang sudah didapatkan Luna akan sia-sia," ucap Helen.


Wanita itu tersenyum licik, menemukan siasat lain melawan Aluna. Ya, Helen sudah tahu kalau Aluna telah merekam semua pengakuan Yuka di handphonenya.


***


.


Bunyi beberapa alat medis yang sedang dirapihkan terdengar jelas di telinganya. Karena suara itu, Aluna terjaga dari tidurnya.


"Bangun, Nona. Operasi adik Anda sudah berhasil. Anda sudah di tunggu oleh Nona Ara di ruangannya." Perawat yang menepuk pundaknya menyuruh Aluna menemui adiknya.


Perawat yang membangunkannya rupanya tak sengaja menjatuhkan beberapa alat medis yang telah dipakai untuk operasi Arabella, adiknya. Ia memungut gunting bekas operasi yang terjatuh di lantai.


"Ara! Di mana ruangan adikku?" tanya Aluna masih belum sadar sepenuhnya.


Perawat itu lalu menunjuk ruangan yang letaknya paling ujung. Tidak jelas menurut Aluna, ia menunjuk ke ruangan mana. Aluna bertanya sekali lagi, namun perawat itu malah berlalu mendorong troli sembari tersenyum kepadanya.


Menoleh sejenak, Aluna mulai mengedarkan pandangannya. Membaca setiap petunjuk arah yang ada di atas pintu. Ya, Aluna sedang mencari dimana ruang operasi adiknya.


Tap.


Tap.


Kerena begitu hening, membuat suara langkah Aluna begitu nyaring terdengar. Ia terus berjalan sembari terus mencoba membuka beberapa pintu ruangan yang sangat sulit ia buka.


Di mana Ara? Tanyanya dalam hati.


Seketika, sayup-sayup suara yang tidak asing baginya, terdengar dari jauh.


"Kakak... kakak.. "


Ya, itu suara Ara!


Aluna menoleh, melihat dengan jelas adiknya yang tengah duduk di kursi roda dari jauh. Wajah Ara dan Helen sangat mirip, membuatnya berpikir sejenak kalau dia bukanlah adiknya. Tetapi Aluna mengamati lagi, sangat yakin kalau suara itu milik adiknya.


Bukan! Dia bukan Helen! Dia Ara, adikku!


Sepertinya jarak mereka hanya beberapa ruangan tidak jauh dari tempatnya berdiri. Aluna benar-benar terkesiap, lalu berlari dengan cepat ke arah adiknya.


"Araaaa!!" teriaknya histeris.


Aluna mencoba berteriak sekeras mungkin. Sayangnya, suara yang ia keluarkan dari mulutnya seperti tak terdengar.


"Kakak.... " teriak Ara dari jauh sambil mengulurkan tangannya.


Dengan kekuatan yang ada pada jiwanya, Aluna mencoba berlari lebih cepat lagi. Namun, semakin jauh ia melangkah, semakin jauh pula adiknya, seakan jarak mereka tak berujung. Napas Aluna semakin tersengal, mencoba menggapai tangan adiknya.


"Ara..."


Bug.


"Ah!" pekik Aluna.


Kakinya tak sengaja tersandung.


Seketika itu juga pemandangan di depannya langsung berubah. Bukan ruangan rumah sakit lagi, melainkan kamar Luna. Matanya yang terbuka lebar mengedarkan pandangannya ke penjuru ruangan.


"Ternyata aku masih di sini?" Aluna mulai menyadari kalau dirinya masih berada di dunia Novel. Rupanya, barusan ia bermimpi bertemu adiknya. Aluna baru sadar ketika ia mendapati dirinya ternyata jatuh dari tempat tidur.


Dengan napas yang belum stabil, Aluna menepuk kalung sistem.


"Miss K."


Sensor di kalung langsung menyala.


"Mengapa wajah Helen sama persis dengan adikku Ara?" tanya Aluna.


...Sistem menjawab, "Betul Nona, mereka sangat mirip. Karena misi ini bersumber dari adik Anda, Arabella."...


###


Hai reader yang aku sayangi.


Kalau berkenan berikan vote untuk novelku yang satu ini ya..


Terima kasih.