TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Bukti Lain


Seakan terbungkam oleh kata-kata Aluna, Helen yang sangat terkejut mulai kehabisan kata-kata. Helen tak bisa memikirkan cara licik selanjutnya untuk melawan Aluna.


"Tidak! Itu semua tidak benar!" Helen memundurkan langkahnya pelan karena merasa tersudut.


Terlihat jelas wajah panik Helen dari raut mukanya. Wanita itu berusaha mengalihkan pandangannya ke arah lain agar tak bertemu mata dengan Aluna. Tetapi, tidak dengan tatapan Aluna, dia yang masih mencecarnya tak beralih sedikit pun.


Kenapa dia sekarang menjadi sangat pintar? Aku harus mencari cara lain agar bisa mengelak, batin Helen.


Entah mengapa Helen merasa ketidaknyamanannya semakin dalam. Jelas dia sangat malu kalau sampai terbukti bersalah. Helen menoleh sekilas ke arah Devan, seakan meminta pertolongan kepadanya.


Jangan panik, Helen! Batin Devan.


Devan yang sedang menyesap wine, tampak tak cemas sedikit pun. Ya, dia yang sudah melihat tahi lalat di bawah tulang selangka Luna merasa tenang. Tahi lalat yang sama persis dimiliki Yuka, akan dijadikannya bukti untuk mengalahkan Aluna.


Sementara tidak jauh dari Devan, Clara yang melihat kepintaran menantunya, mendadak suka pada Aluna. Dia semakin kagum dengannya, dalam hati baru kali ini melihat Luna secerdik itu, padahal yang selama ini dia tahu Luna adalah wanita yang bodoh dan tidak tegas dalam menyelesaikan masalah apa pun.


Aku masih tak menyangka kamu secerdas itu, Luna. Pantas saja dari tadi Alvin tak melarangmu sedikit pun, batin Clara.


Aluna sangat gemas dengan sangkalan Helen, tangannya mulai menunjuk muka Helen. "Tidak benar katamu! Jadi kamu pikir kami salah melihat? Sudah jelas kamu menghubunginya di dua jam berikutnya, masih saja terus mengelak! Lihatlah wajah wanita itu, bukankah dia adalah Yuka? Tentu Anda semuanya bisa membedakannya bukan, Nyonya-nyonya?" Aluna beralih bertanya kepada teman-teman Clara, meminta pendapat kalau yang di hubungi Helen adalah benar, Yuka.


Hening, tidak ada yang berani menjawab.


Para tamu yang menyaksikan perseteruan itu kembali berbisik di belakangnya. Mereka memiliki persepsi yang hampir sama. Tentunya mereka lebih mempercayai Aluna dibandingkan Helen.


"Aku lebih percaya bukti yang dimiliki Luna, aku yakin Helen lah dalang dibalik video itu. Mungkin saja benar, dia ingin memfitnah Luna agar Alvin cepat dimilikinya." Bisik salah satu teman Clara kepada teman satunya.


"Iya aku juga sepemahaman, aku sangat kagum kepada Luna, wanita itu sangat pintar mendapatkan bukti lain. Kalau aku jadi dia sepertinya tak akan sanggup menyelesaikannya sendirian." Teman berbaju merah menimpali.


Melihat posisi anaknya yang semakin terdesak, Mona sangat khawatir. Dia yang melihat dari kejauhan sangat iba, ingin sekali mengakhiri acara ini dengan cepat. Tidak ada cara lain yang dilakukan Mona kecuali memohon kepada suaminya agar mau menolong anaknya.


"Sayang! Tidak kah dengan cara seperti ini akan mempermalukan keluarga kita? Bukankah itu adalah aib yang harus kita tutupi. Lancang sekali Luna berkata seperti itu dan menunjuk-nunjuk wajah Helen di depan umum. Aku mohon, marahi lah anakmu agar berhenti mencecar Helen, lagipula dia juga adiknya. Harusnya bukan dengan cara seperti itu Luna menyelesaikan masalah." Helen terus saja membujuk suaminya.


Sayangnya, Hideon berpikiran lain. Walaupun Mona terus merayunya, dia tetap tidak bisa menghentikan Aluna. Menurutnya bukti yang dijabarkan putrinya memang masuk akal.


"Tenangkan dirimu, Mona. Biarkan anak kita menyelesaikan masalah mereka sendiri. Kita tidak usah ikut campur. Lagipula kalau memang Helen tidak bersalah, kamu tak usah takut," kata Hideon tenang.


"Tapi, bukan dengan cara seperti ini! Itu sama saja mempermalukan anakku di depan umum. Apa kamu tidak bisa mengajarinya?" Mona terus saja mendesak Hideon.


Hideon tetap pada pendiriannya, dia hanya ingin tahu kebenaran yang sesungguhnya. Tentu sebagai ayahnya, dia jelas mendukung Luna. Kalaupun akhirnya Helen bersalah, wanita itu harus menerima konsekuensi dari perbuatannya karena telah memfitnah anaknya.


"Tunggu, ada bukti lain yang harus semua orang tahu," kata Helen.


Tidak bisa lagi berdebat dengan Aluna, Helen dengan cepat membalikkan langkahnya lalu berjalan menuju meja Devan, meminta bantuan kepadanya yang dari tadi hanya duduk manis menyaksikan perseteruan mereka.


Bantu aku Devan! Batin Helen.


Tanpa berkata, Devan sudah menebak dari sorot mata Helen kalau dia sedang meminta tolong kepadanya. Devan lalu meletakkan segelas wine yang barusan ia minum di meja.


Aku harus bertindak, pikir Devan.


"Bukankah kamu adalah pria dalam video itu? Cepat katakan pada semua orang siapa wanita sebenarnya?" Helen mengajak Devan ke depan.


Masih dengan gaya kalemnya, Devan berjalan ke depan mendekati Aluna. Pria itu sempat terhenti lalu menatap Aluna sejenak. Sayangnya Aluna langsung memalingkan wajahnya.


Melihat Devan maju ke depan, Alvin yang melihatnya semakin memanas. Terlebih saat pria itu berusaha menggoda istrinya, Alvin sudah memiliki ancang-ancang memberi perhitungan kepadanya kalau sampai Devan macam-macam dengan Luna.


"Luna, aku mengerti kamu sebagai wanita sangat malu mengakui kalau dua orang dalam video ini adalah Kita. Tadinya aku tidak ingin mengumbarnya terlalu jauh, sayangnya kamu malah menjadikan video itu sebagai taruhan," ucap Devan.


Sebelum pria itu meneruskan ucapannya Aluna langsung menyela, "Apa maksudmu?" Bentaknya.


Devan tersenyum tipis. "Semua bukti yang diperlihatkan Luna tidak akan benar kalau aku tidak mengakuinya. Aku bahkan telah melihat secara detail tubuh wanita yang aku tiduri. Aku punya bukti lain kalau Luna adalah wanita dalam video itu!"