TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
251. Mencari Lembaran Kertas.


"Alvin aku titip Zero. Helen kembali sadar. Aku harus ke rumah sakit sekarang," kata Aluna berpamitan.


"Maksudmu Helen sudah sadar?" Alvin balik bertanya.


Aluna mengangguk dan menjelaskan kenapa Helen bisa kembali lagi. Tak mau membuang waktu, Aluna langsung bergegas pergi setelah berpamitan dengan Zero.


"Ingat! Jangan keluar rumah selain dengan mama dan papa. Mama akan segera pulang kalau urusannya sudah selesai," kata Aluna.


"Yah, Mama. Aku berjanji."


Kemudian Aluna segera pergi dan berjalan menuju tempat parkir mobilnya. Semenjak memiliki SIM, ke mana pun Aluna bisa pergi seorang diri tanpa didampingi Alvin.


"Aku harus pergi ke rumah Luna dahulu sebelum pergi ke rumah sakit," gumam Aluna sebelum melajukan mobilnya.


...***...


Tiga puluh menit berlalu, kini Aluna telah tiba di kediaman Hideon. Rumah besar itu terlihat sepi karena tak terdengar suara Mona. Biasanya baru menginjakkan kaki saja Aluna sudah mendengar teriakan Mona. Entah itu sedang memerintah asisten rumah tangganya atau pun sedang memarahi mereka karena berbuat kesalahan.


"Ke mana ayah dan ibuku?" tanya Aluna kepada salah satu asisten rumah tangga di rumah itu.


"Nyonya dan tuan besar ada di rumah sakit, Nona Luna. Nona Helen mengalami kecelakaan barusan," jawab pelayan tersebut.


"Kalau Nona perlu sesuatu, saya akan membantu Anda, Nona," kata salah seorang pelayan lagi.


Aluna melirik satu persatu dua wanita pelayan di depannya. Dia ingin mencari potongan buku harian Luna dan memerlukan seorang pelayan untuk membantunya. "Kamu, bantu aku membersihkan kamarku sekarang," perintah Aluna kepada seorang pelayan berusia muda.


"Baik, Nona."


Aluna tersenyum. Bersama seorang pelayan tersebut dia berjalan menuju kamar Luna.


"Pelayan, tolong bantu aku mencari beberapa kertas dari kamar ini," perintah Aluna lagi.


Alis pelayan mengkerut seakan tidak paham dengan perintah Aluna. "Kertas?"


"Yah, berikan padaku kalau kamu menemukan selembar kertas atau bahkan lebih. Potongan atau berupa sobekannya berikan saja padaku sekarang," kata Aluna sambil membuka lemari milik Luna.


Pelayan mengangguk. Saat itu juga dia bergerak mencari, tentunya sambil membersihkan beberapa barang di kamar Luna yang mulai berdebu.


"Pelayan kau sudah berapa lama bekerja di sini?" tanya Aluna dan direspon pelayan dengan mendongakkan wajahnya, "eum, terkadang ingatanku sangat jelek. Gara-gara kecelakaan beberapa minggu yang lalu, dokter memvonisku mengalami gejala alzheimer. Aku melupakan semuanya termasuk berapa lama kamu bekerja di sini. Kadang aku juga melupakan kegiatan sehari-hariku dulu sebelum menikah."


Aluna berusaha mencari alasan agar mengorek informasi dari salah satu pelayan. Pelayan menjawab kalau dia sudah bekerja selama sepuluh tahun semenjak Luna belum menikah.


"Kalau begitu kamu ingat apa saja kegiatan sehari-hariku dulu?" tanya Aluna sembari tangannya merapihkan baju-bajunya.


"Tentu saja, Nona. Anda kan sering bercerita denganku dulu. Anda sering menuliskan beberapa kegiatan keseharian Anda di buku harian. Oh iya, apa kertas yang Anda maksud adalah potongan dari buku harian?" jawab pelayan itu lagi sambil mengira-ngira. Pasalnya dulu dia pernah melihatnya saat membersihan kamar.


Wajah Aluna berbinar. Menghentikan aktivitas dan melihat ke arah pelayan. "Yah, apa kamu melihatnya? Beritahu aku sekarang."


Pelayan terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab. "Dulu aku pernah menemukannya saat bersih-bersih. Saat itu ada Nona Helen, dan meminta semua lembaran kertas itu."


"Jadi dia yang menyimpannya?"


Pelayan mengangguk. "Bisa jadi, Nona."


Aluna langsung berdiri dan memberikan beberapa baju yang akan dia lipat kepada pelayan. "Kamu lanjutkan pekerjaanmu. Aku ingin ke kamar Helen untuk mengambilnya sendiri,." kata Aluna.


"Yah."


"Nona Helen di rumah sakit dan dia membawa kunci kamarnya."


"Jadi maksudmu pintu kamar Helen terkunci? Apa kamu menyimpan kunci cadangan yang lain?" tanya Aluna.


Pelayan kembali diam seakan menyembunyikan sesuatu. "Aku tidak menyimpannya, Nona."


Aluna tak punya cara lagi. Segera dia ambil setumpuk uang dan memberikannya kepada pelayan. "Beritahu aku sekarang."


Pelayan tersenyum lebar. Dengan perasaan malu dia menerima uang tersebut. "Kemarin nyonya besar menyuruhku menduplikat kunci kamar Nona Helen. Aku sudah menduplikat tapi belum menyerahkannya keada Nyonya."


"Berikan padaku sekarang!" seru Aluna.


Awalnya pelayan menolak dengan alasan takut terhadap Mona. Namun ketika Aluna menyodorkan lagi setumpuk uang, akhirnya pelayan tersebut mau memberikannya dengan catatan jangan memberitahukannya kepada Mona apalagi Helen.


"Tenang saja, aku akan mengembalikannya sebelum Mona tahu," kata Aluna.


Selang beberapa menit kemudian Aluna sudah ada di kamar Helen. Dia sedang mengobrak abrik seluruh kamar Helen, termasuk sebuah laci tempat riasnya. Kata pelayan tadi, Helen menemukan beberapa lembar potongan kertas buku harian beberapa hari yang lalu. Itu berarti bukan Helen yang menemukan, melainkan adiknya Ara.


"Sepertinya Ara menyembunyikan sesuatu," gumam Aluna.


Satu lembar buku harian Luna berhasil didapatkan. Aluna dengan cepat membacanya. Namun, isi kertas tersebut hanyalah isi hati Luna terhadap Alvin.


"Dapat," ucap Aluna begitu mendapatkan beberapa potongan kertas lagi.


'Kau sangat kejam. Tapi aku mencintaimu'. Tulisan itu adalah pembuka di potongan kertas tersebut. Aluna mendudukkan diri di atas kasur, ingin membaca lembaran kertas lainnya dengan tenang.


"Sekejam itukah Alvin terhadapmu sampai dia mengurungmu dan tak memberikanmu makan? Tidak, sepertinya tidak mungkin Alvin yang melakukannya," gumam Aluna masih terus membaca tulisan demi tulisan.


Baru membaca beberapa potong tulisan, ponsel Aluna kembali berdering. Dari Alvin yang mempertanyakan dirinya apa sudah sampai di dalam rumah Hideon. Aluna tak peduli malah menghiraukannya. Dia masih terpaku di tempat ingin membaca lagi.


"Nona Luna," panggil pelayan dari luar sambil mengetuk pintu keras, "Nona, tolong buka pintunya."


Sontak Aluna pun kaget dan memasukkan beberapa potongan kertas tersebut ke dalam saku. "Yah," jawabnya sambil membuka pintu, "eum ... ada apa?"


"No-nona, barusan ada telepon dari Tuan Hideon. Katanya, Nona Helen sudah siuman," kata pelayan memberitahukan dengan tergesa-gesa.


"Syukurlah, aku akan ke sana sebentar lagi," jawab Aluna.


Pelayan terlihat was-was menengok ke kiri dan ke kanan. "Maaf, Nona harus cepat keluar dari dalam kamar. Mobil Nyonya Mona sudah memasuki halaman," kata pelayan ketakutan. Dia tahu Mona pasti sangat marah kalau ketahuan dia memberikan kunci kamar Helen kepada Luna. Bisa dipecat dia kalau ketahuan.


Aluna buru-buru mengunci kamar dan menyerahkan kunci kamar Helen kepada pelayan. Aluna juga memasukkan potongan kertas yang didapatkannya ke dalam saku.


"Terima kasih, Pelayan. Jangan beritahukan kepada nyonyamu itu kalau aku masuk ke dalam kamar Helen," kata Aluna dan dibalas anggukan pelayan.


"Iya, Nona aku berjanji tidak akan memberitahukannya."


Aluna berjalan pelan menjauhi kamar Helen. Dalam hatinya, masih berkecamuk memikirkan isi tulisan di buku harian Luna.


'Benarkah dia sudah meninggal? Kalau iya, apa dia akan kembali lagi? Lalu siapa orang yang membunuhnya?' Sambil berjalan, Aluna terus membatin.