TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Perdebatan Hideon


Noah duduk santai di ruang kerjanya, terdiam sambil membayangkan Arabella. Kerjaannya sudah dia selesaikan beberapa menit yang lalu, kini dia sedang santai menikmati waktu istirahat seusai makan. Berkali-kali lelaki tersebut menyentuh tombol huruf di ponselnya, merangkai beberapa kata lalu menghapusnya lagi. Dia begitu ragu mengirimkan pesan tersebut ke nomor Ara.


Bagaimana kalau jiwa yang sekarang adalah Helen, dan Ara belum kembali? Helen pasti akan curiga dan memarahiku lagi begitu tahu aku menghubunginya, batin Noah.


Noah menghapus lagi pesan itu, lalu menaruh benda berbentuk pipih tersebut di atas nakas. Dia mulai memijat pelipisnya lalu menyandarkan punggungnya di kursi.


Kenapa aku selalu memikirkan Ara? Kenapa dia belum kembali sampai sekarang? Seperti apa dunianya, aku ingin sekali ikut dan menemuinya di sana, batin Noah lagi.


Beberapa hari ini dia sangat rindu kepada Ara, sampai-sampai dia melupakan ingatannya bersama Lisa dulu. Noah masih membayangkan saat Ara tersenyum manis padanya, namun khayalannya seketika buyar ketika ekspresi wajah Ara yang lembut digantikan oleh sikap Helen yang sangat kasar.


Ah' aku benar-benar bisa gila kalau seperti ini terus-menerus. Sebenarnya di mana kamu sekarang Ara?


...***...


Mona sedang sibuk bergosip dengan teman sosialita lewat video call. Siang ini rencananya dia ingin keluar bersama teman-temannya sambil berbelanja. Sayangnya barusan Helen menelepon menyuruhnya agar mengorek informasi dari Hideon.


"Suamiku, sepertinya kamu sangat lelah. Apa pekerjaan di kantor sangat banyak sampai baru pulang siang ini?" tanya Mona begitu Hideon selesai mandi.


Dari semalam dia belum tidur karena terus memantau perkembangan Zero. Sampai-sampai dia memutuskan pulang siang ini ke rumah hanya untuk beristirahat sebentar.


"Hem," kata Hideon.


Mona mendekati Hideon lagi, berusaha menenangkan lelaki itu dengan memberikan pijatan ringan di punggungnya. "Kalau ada beban, ceritakan saja semuanya padaku. Aku siap mendengarkan."


Sepertinya Hideon sengaja mengacuhkanku, batin Mona. Kemudian dia sengaja mengeraskan pijatannya agar Hideon sadar.


"Ah' bisakah lebih lembut lagi pijatannya?" teriak Hideon lalu menoleh.


Mona berpura-pura tenang. "Suamiku, aku mendengar kabar kalau Luna memiliki anak. Tapi, selama aku bersama Luna, sepertinya aku tak pernah melihat Luna melahirkan."


Hideon kembali diam dan acuh.


"Apa berita itu benar?" tanya Mona lagi.


"Aku lelah dan sangat mengantuk, bisakah kamu keluar saja kalau hanya membahas masalah ini?" ujar Hideon merasa tak nyaman.


"Banyak orang yang bertanya padaku. Kalau berita ini benar, kenapa kamu menyembunyikannya? Jangan-jangan Luna melahirkan saat kamu bilang ingin ke luar negeri enam tahun yang lalu?" Mona terus memancing emosi Hideon.


Merasa tak nyaman dengan pertanyaan Mona akhirnya Hideon bangun lagi, menghempaskan tangan Mona dari punggungnya. "Aku bilang aku sangat lelah. Bisakah kamu tak menggangguku dengar pertanyaan tak penting itu! Atau kalau tidak sebaiknya kamu keluar saja!"


"Selalu saja bilang lelah setiap aku bertanya! Telingaku lama-lama pecah mendengar gunjingan kerabat Alvin terhadap keluarga kita. Mereka mengatakan kalau aku tak becus mengurus Luna karena tak tahu apa-apa, sampai dia punya anak pun aku tak tahu. Pertanyaan tak penting katamu? Lalu kau anggap aku siapa?" Mona berpura-pura ikut emosi.


Hideon mengembuskan kasar napasnya. Dari semalam dia pasti sudah menduga kalau berita ini cepat tersebar. "Jawab saja tak tahu agar mereka diam."


Mendengar ucapan Hideon, Mona yakin kalau berita itu benar. "Jadi benar Luna sudah melahirkan? Kalau iya di mana dan siapa ayah dari anak itu?"