
...Selamat Nona Aluna, Anda mendapatkan dua tas saran....
Suara sistem berbunyi sangat keras di telinga Aluna. Yah, tentunya hanya dia yang bisa mendengarnya. Sambil melambaikan tangan ke arah mertuanya, Aluna mendengarkan suara sistem di telinganya.
Tas saran adalah tips yang diberikan sistem kepada Aluna, tips itu akan dia gunakan sewaktu-waktu ketika Aluna butuh informasi atau data yang sangat sulit dia pecahkan sendiri.
Tips yang diberikan sistem kali ini diberikan karena Aluna mampu menyelesaikan masalah dengan sangat baik. Tas saran pertama diberikan karena Aluna berhasil merubah jadwal Alvin yang lebih mementingkan istrinya dibanding meeting penting dengan kliennya. Kemudian tas saran yang kedua diberikan sistem karena Alvin menolongnya saat tenggelam di kolam lalu membawanya ke hotel. Sedangkan untuk tas saran ketiga, diberikan sistem karena Alvin menutupi tubuhnya dan menariknya keluar dari kafe.
Aluna tersenyum sendiri mendengarnya, dia sudah mengantongi tiga tas saran dari sistem yang akan dia pergunakan sebaik mungkin.
"Kenapa kamu tersenyum sendiri?" Alvin mengagetkan Aluna.
"Aku sangat senang karena ibu mertua sekarang sangat baik padaku," ucap Aluna berbohong.
Sekarang mereka berdua sudah ada di depan hotel, berdiri bersebelahan di depan lobby hotel. Seketika Aluna kembali sadar ketika sekarang dirinya hanya berdua dengan Alvin. Dia lalu menggeser tubuhnya agar menjauhi pria yang berstatus suami palsunya itu.
Namun, semakin Aluna menggeser tubuhnya, semakin itu juga Alvin mendekatinya membuat perasaannya kembali tak nyaman.
"Suamiku, bukankah kita harus pulang sekarang? Kenapa Anda tak segera memanggil mobil agar kita bisa cepat sampai rumah?" tanya Aluna begitu canggung.
Kini tubuh Alvin sudah sangat dekat dengan Aluna tanpa jarak sedikit pun. "Ada satu hal lagi yang harus aku selesaikan denganmu sekarang," bisiknya pelan di telinga Aluna.
Suara Alvin sangat pelan, membuat bulu kuduk Aluna bergidik sesaat, ketika hembusan udara yang keluar dari hidung Alvin mengenai tengkuknya.
"Ma-maksud Anda apa Tu-tuan?" tanya Aluna terbata.
"Sudah aku bilang jangan panggil aku Tuan!" seru Alvin menyentuh halus tengkuk leher Aluna dengan telunjuknya.
Kenapa dia menyentuhku lagi? Oh' tidak! Kalau seperti ini terus, bisa-bisa aku...batin Aluna.
Aluna menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskan dengan kasar.
Fiuhh.
"Iya suamiku, hal apa lagi yang Anda ingin selesaikan denganku?" tanya Aluna sembari memegang tangan Alvin agar berhenti menyentuh tengkuk lehernya.
Alvin tersenyum penuh arti ke arah Aluna ketika gadis di depannya itu menanggapinya.
"Aku ingin membuktikan kemampuan seksualku malam ini. Sebaiknya kita kembali ke hotel, aku sudah memesannya untuk kita menginap malam ini," ucap Alvin sangat romantis memegang erat tangan Aluna.
"Apa?"
Begitu mendengar keinginan Alvin, Aluna langsung terkejut, matanya membulat sempurna. Tidak hanya itu, kata-kata Alvin barusan berhasil membuat wajah Aluna memerah. Yah, Aluna tak menyangka Alvin akan memintanya malam ini.
Gawat! Aku harus segera pergi! Batin Aluna memikirkan cara kabur.
Aku tidak akan membiarkanmu kabur Luna! Aku sudah menunggunya dari tadi siang!
"Suamiku, aku baru ingat, bukankah malam ini aku harus menemani nenek di rumah sakit. Aku sudah berjanji padanya, aku tidak ingin nenek kecewa nanti." Aluna langsung mengalihkan pembicaraan lalu dengan cepat melepas tangannya dari genggaman Alvin.
Belum sempat membalas ucapannya, kemudian tanpa rasa bersalah Aluna terburu-buru berjalan meninggalkan Alvin menuju mobilnya yang ada di parkiran.
Percepat langkahmu Aluna, pria itu pasti akan mengejarmu!
Benar saja, baru beberapa langkah Aluna berjalan sangat cepat, ternyata Alvin mengikutinya. Meskipun Aluna tahu, wanita itu berpura-pura tidak tahu menghiraukan Alvin yang berteriak padanya. "Luna, jangan pergi dulu!" seru Alvin dari belakang.
Kenapa dia malah meninggalkanku? batin Alvin.
Tidak, tidak! Teruslah berjalan jangan melihat ke belakang Aluna. batin Aluna.
Namun, Aluna yang tidak biasa menggunakan sepatu hak tinggi kali ini tak bisa berjalan dengan cepat. Langkahnya bisa disusul oleh Alvin dengan mudah.
"Luna!"
Karena tak ada sahutan dari istrinya, Alvin lalu meraih tangan Aluna dari belakang.
Yah, Alvin berhasil menarik tangan Aluna. Membuat wanita itu hampir jatuh karena tak bisa menyeimbangkan tubuhnya.
"Aaah!" teriak Aluna kencang.
Dengan gerakan cepat Alvin menangkap tubuhnya, lalu memeluknya dengan erat agar tidak terjatuh.
"Apa kamu ingin kabur dariku?" tanya Alvin.
Sekarang mereka saling berpelukan.
Aluna terperangah, sempat terdiam sesaat ketika pandangan mata mereka saling bertemu. Aluna membiarkan pria itu memeluknya beberapa detik, memperhatikan dengan saksama wajah pria yang memeluknya dengan jarak dekat.
Kenapa dia menarikku lagi? Kenapa dia memelukku lagi? batin Aluna.
Dada Aluna mendadak bergemuruh tak karuan, perlakuan Alvin benar-benar membuatnya sulit bernapas. Aluna yang tidak ingin terlalu lama dalam pelukan Alvin, lalu melepasnya pelan.
"Bukan suamiku, Aku hanya tidak ingin nenek menunggu terlalu lama," sahut Aluna berkelit, kali ini dia tak ingin melihat wajah Alvin yang terus menggodanya.
"Itu bukan sebuah alasan. Apa kamu takut melakukannya untukku? Bukankah kita sudah sah menjadi suami istri, sepertinya kamu sengaja menghindariku." Alvin kembali memeluk erat Aluna.
Sekali lagi dia kembali lemah setiap kali Alvin memeluknya. "Suamiku, lepaskan! Aku malu orang lain melihat kita berpelukan di sini." Aluna berusaha mencari alasan agar Alvin mau melepaskannya.
"Aku tidak peduli! Luna, lakukan sekarang. Aku ingin mempunyai anak darimu!" ucap Alvin.
Apa? Anak? Tidak! Aku tidak mau! Batin Aluna.
Aluna terdiam lagi memikirkan keinginan Alvin barusan. Yah, sepertinya dia tidak bisa melakukannya, Aluna tidak mau kalau sampai hamil dia akan mengandung dan melahirkan lalu meninggalkan anaknya di dunia novel.
"Suamiku, hari ini aku sedang ada tamu bulanan. Aku tidak bisa melakukannya sekarang." Aluna dengan halus menolak keinginan Alvin dengan beralasan dirinya sedang menstruasi.
Mendengar ucapan Aluna, Alvin lalu melepas pelukannya dengan pelan. Meskipun sedikit kecewa, Alvin akhirnya memakluminya.
"Kenapa kamu tidak mengatakannya dari tadi?" tanya Alvin.
"Ah' karena aku baru ingat tadi." Aluna mencoba menutup wajahnya agar tak terlihat berbohong.
"Baiklah hari ini aku memakluminya, tapi lain waktu kamu tidak bisa menolaknya lagi," kata Alvin.
Tentu saja Aluna tak bisa mengiyakan kemauan Alvin. Untuk selanjutnya dia harus memikirkan cara lain agar bisa menolak keinginan Alvin yang ingin tidur dengannya.
Sementara di tempat lain Helen dan Mona memperhatikan mereka dari jauh. Mereka sangat geram dengan percakapan asmara Alvin kepada Luna.
Tanpa rasa kapok, Helen tidak gentar sedikit pun dan akan terus mengganggu rumah tangga Luna.
Lihat saja aku akan membalas kelakuanmu Luna! Aku tidak akan membiarkanmu hidup bahagia dengan Alvin! Batin Helen.
.
.
###
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih.