
Di kediaman Tuan Glu. Lisa sedang duduk termenung di depan cermin kamarnya. Matanya terlihat sembab karena tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Jari tangannya menggulir satu demi satu foto kenangan dirinya dengan Noah di handphone.
"Sulit melupakanmu paman," kata Lisa.
Dahulu sebelum Keluarga Noah dinyatakan bangkrut tepatnya sembilan tahun yang lalu. Tepatnya ketika Noah berusia 18 tahun dan Lisa berusia 10 tahun. Setiap pulang sekolah saat sore hari. Noah sering mengajarkan les tambahan kepada Lisa di rumah.
Noah, guru sekaligus kakak yang baik untuk Lisa.
Berbagai pelajaran diajarkan Noah agar gadis itu bisa mendapatkan nilai yang baik di sekolahnya. Cinta tumbuh karena terbiasa, seperti itu gambaran perasaan Lisa kepada Noah. Tidak hanya memberikan les tambahan, Noah juga sering mengajaknya keluar menonton film atau sekedar makan di kafe. Berbagai hal sering dilakukan bersama. Kecuali tidur bersama atau pergi ke kamar mandi. Noah bahkan sering menginap di rumah keluarga Glu.
Awalnya Lisa hanya menganggap Noah seperti kakaknya sendiri, begitu pula sebaliknya. Beberapa bulan kemudian, Noah dan Lisa bertunangan. Tidak ada yang keberatan diantara keduanya, masing-masing keluarga terlihat bahagia. Berbagai rencana pun sudah dirancang di dalam otak kedua keluarga, berencana ingin menikahkan Lisa setelah lulus SMA nanti.
Sayangnya, semua yang direncanakan tak sejalan dengan takdir. Beberapa tahun setelah pertunangan keduanya, keluarga Tuan Rui dinyatakan bangkrut. Perusahan Tuan Rui rugi besar-besaran. Proyek pembangunan gagal, perumahan yang dia bangun di sebuah komplek mengalami longsor. Tidak hanya rugi secara materi, tetapi ada korban jiwa di peristiwa itu. Tuan Rui sampai menjual seluruh saham, bahkan menjual perusahaannya kepada Tuan Glu. Itu pun masih belum cukup, sampai dia berhutang miliaran uang kepada bank dan keluarga Lisa untuk memberi santunan dan ganti rugi kepada korban.
"Paman, kau sudah berjanji akan menikahiku setelah lulus sekolah nanti. Beberapa bulan lagi aku lulus, aku ingin menagih janjimu," kata Lisa mengusap foto Noah.
Saat itu juga timbul di otak Lisa untuk menghubungi Noah, mengirimkan banyak pesan suara meminta maaf kepada Noah. Mengatakan kalau dia ingin menjalin pertemanan dengan Noah.
"Maafkan aku, Paman. Hubungan kita berakhir, tetapi setidaknya kita masih bisa berteman."
"Tidak apa kalau kamu menyukai Helen. Atau pun kamu juga sudah menjalin hubungan dengannya. Aku hanya ingin menjadi temanmu seperti dulu lagi, Paman."
Beberapa pesan suara dikirimkan. Namun tak ada balasan.
"Paman, balas pesanku. Kalau tidak lebih baik aku bunnuh diri saja."
Lisa mengirimkan pesan video berulang kali, yang memperlihatkan dia sedang menuangkan cairan desinfektan di sebuah gelas. Dalam video itu, Lisa menuliskan pesan teks kalau dia akan menenggaknya sebentar lagi jika Noah tak segera membalas pesannya.
Sangat terpaksa Noah akhirnya membalas pesan Lisa tersebut. Noah mengatakan dia mau berteman, asalkan Lisa tak menggangunya lagi dan bersikap biasa saja.
"Apa kamu dan Helen berpacaran?" Lisa kembali mengirimkan pesan teks lagi.
^^^"Tidak!" balas Noah.^^^
"Bukankah kemarin kamu bilang sudah memiliki pacar. Lalu siapa pacarmu sekarang?"
^^^"Arabella," balas Noah singkat melalui pesan teks.^^^
...***...
Di tempat lain di perusahan Wiratama. Saat siang hari, semua bergelut dengan pekerjaan masing-masing termasuk Alvin dan Aluna.
Alvin tengah sibuk di samping komputer. Tidak lama kemudian, dia menerima pesan berisikan dokumen yang dikirim oleh kliennya. Alvin meneruskan dokumen tersebut kepada Aluna agar disalin olehnya, lalu memerintahkan Aluna agar membawakan secangkir kopi.
Beberapa menit kemudian. Aluna datang membawa salinan dokumen dan membawakan secangkir kopi panas lalu menaruhnya di atas meja Alvin.
"Aku sudah mengirimkan pesan balasan ke email Perusahaan Yu. Perwakilan dari perusahan Yu mengajak makan siang bersama, sambil membicarakan rencana investasi siang ini. Beberapa dokumen yang mereka kirim sudah aku salin dan teliti," kata Aluna berdiri di depan meja Alvin.
"Walaupun perusahan Yu sempat mengalami kerugian beberapa tahun yang lalu karena pandemi. Tetapi proyek wahana bermain yang mereka luncurkan sangat berbeda dari wahana lain. Keunikannya ada pada dekorasi wahana yang dibuat dengan tema pelangi. Ini sangat bagus. Sepertinya mampu menarik minat pengunjung, khususnya anak-anak. Dan aku sudah mengamati keuntungan yang diberikan perusahan itu cukup tinggi dan menjanjikan kepada perusahan yang bekerja sama dengannya terdahulu," kata Aluna menjelaskan.
Alvin sedikit mengerutkan kening, mencerna penjelasan Aluna sambil mengamati grafik pertumbuhan investasi di komputer. "Jadi, apa keputusanmu?" tanyanya meminta pendapat.
"Kita terima kerja sama dengan perusahaan Yu. Asal dengan syarat mereka mau mengikuti aturan main kita. Aku sudah buat poin-poin penting yang akan dibahas siang nanti, diantaranya mereka harus mengganti rugi dua kali lipat kalau proyek ini putus di tengah jalan," kata Aluna.
Alvin tersenyum puas dengan jawaban Aluna. Melihat cara pandang Aluna, Alvin percaya kalau dia bukan istrinya. Pemikiran mereka sangat berbeda jauh.
Beberapa jam setelahnya.
"Presdir Alvin. Klien sudah menunggu di lantai bawah," kata sekretaris Sam memberitahu kepada Alvin.
Mendengarnya Alvin langsung menyudahi aktifitasnya dan menyuruh Aluna untuk meneruskan pekerjaannya. Rencananya Alvin akan ditemani sekretaris Sam menemui dua klien di bawah.
"Semua dokumen klien sudah aku aku simpan di file perusahan," kata Aluna memasuki ruangan Alvin.
"Terima kasih, Luna," sahut Alvin, dia sudah bersiap-siap akan turun.
"Tunggu," kata Aluna sebelum Alvin keluar.
Aluna mendekati Alvin lalu membenarkan posisi dasinya. "Kamu harus terlihat rapih. Kliennya dua orang perempuan yang cantik dan sangat seksi. Aku yakin kamu akan betah berlama-lama ngobrol dengan mereka," kata Aluna.
Sebelum naik ke atas, Aluna sempat bertemu dengan klien di lantai bawah. Penampilan dan busana yang dikenakan klien tersebut sedikit terbuka, seperti sengaja menggunakannya untuk merayu Alvin. Sebenarnya ada perasan tidak nyaman melihat penampilan klien tersebut. Namun agar terlihat profesional, Aluna berusaha berpikir positif.
"Kalau kliennya perempuan, aku hanya akan menemuinya bersamamu," kata Alvin.
"Alvin ada banyak tugas yang harus aku selesai--"
Alvin langsung memotong ucapan Aluna. "Kalau begitu aku tidak akan menemuinya."
Aluna tersenyum. "Baiklah!"
"Sekretaris Sam, lanjutkan pekerjaanku. Aku akan menemuinya bersama istriku," perintah Alvin.
"Baik, Presdir."
Sebenarnya sudah banyak klien perempuan yang ditemuinya beberapa kali. Banyak diantara mereka sengaja merayu bahkan menawarkan tubuhnya secara cuma-cuma. Sayangnya dari dulu Alvin tak pernah terpengaruh.
"Alvin," panggil Aluna ketika mereka berada di dalam lift.
"Ya."
"Siapa yang lebih kamu sukai, aku ... atau ... Luna?"