TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Noah dan Alvin


Selang lima belas menit kemudian, akhirnya obat tidur itu bereaksi. Lambat laun mata Helen terpejam dengan sempurna. Perempuan berambut pendek itu sangat menikmati pijatan yang diberikan Aluna dan pegawai salon.


Tak perlu memakai ilmu hipnotis lagi membuatmu bisa tertidur, dengan serbuk obat tidur itu saja sudah manjur. Ternyata pemilik toko itu benar kalau obat ini sangat ampuh dan bekerja lebih cepat dari obat tidur biasa. Batin Aluna tersenyum puas.


"Nona, adik Anda sudah tertidur. Apa yang akan kami lakukan selanjutnya? Sebentar lagi pewarnaannya selesai," kata pegawai salon.


Aluna membenarkan posisi tubuh Helen agar nyaman saat tidur. "Biarkan saja adikku tidur di sini, tunggu hingga setengah jam."


"Tapi, Nona. Ini sudah jam tujuh malam. Sebentar lagi salon kami akan tutup."


Aluna mengeluarkan lagi uang di dalam tasnya. Memberikan sejumlah uang itu kepada pemilik salon.


"Aku sewa tempatmu selama setengah jam. Apa uang ini cukup?" tanya Aluna menyodorkan uang.


Mata pemilik salon langsung membulat melihat setumpuk uang yang diberikan Aluna. Kalau dilihat dari banyaknya, jumlahnya lebih besar dari omset salonnya sehari.


"Ba-baik, Nona. Silahkan pakai saja. Sampai malam pun kami tidak akan menolak. Pegawai, tolong pijat lagi customer kita agar dia bisa lebih nyaman lagi ketika tidur," perintah pemilik salon kepada pegawainya.


Aluna tersenyum. Benar, uang memang mempengaruhi segalanya. Dengan memiliki uang yang banyak dia bisa memerintahkan orang semaunya.


Aluna ingin proses pergantian jiwa adiknya berjalan lancar. Dia sengaja menyuruh Helen agar bisa tidur lebih lama lagi.


"Bagaimana hasilnya, Nona? Apa terlihat bagus?" pegawai salon memperlihatkan rambut Helen kepadanya.


"Bagus! Adikku pasti sangat menyukainya."


Sementara di tempat lain. Alvin sedang duduk di sebuah kafe tempat biasa dia bertemu dengan Noah. Lelaki yang sangat disiplin dalam urusan waktu itu, sudah menunggu Noah lima menit yang lalu sambil menikmati teh hangat kesukaannya.


Sepuluh menit kemudian tepatnya pukul 19.10. Noah baru memperlihatkan batang hidungnya. Dia tersenyum begitu memasuki ambang pintu langsung berjalan ke arah meja di mana Alvin duduk.


"Maaf, aku sudah membuatmu menunggu," kata Noah. Kemudian menarik kursi ke arah luar dan mendudukkan pantatnya, duduk berhadapan dengan Alvin. "Aku hanya telat lima menit," imbuhnya.


"Kau, selalu saja terlambat. Kalau kamu adalah karyawanku sudah aku suruh berhenti bekerja," kata Alvin.


"Ha ... ha ... Jangan terlalu arogan Tuan Presdir. Aku tahu wajahmu akan bertambah tua kalau sering memarahi bawahanmu."


"Aku tak peduli kalau wajahku mendadak tua. Lagipula aku sudah memiliki istri. Sedangkan kamu, sampai sekarang pun tak ada tanda-tanda kapan kamu akan menikah," ucap Alvin enteng seraya menyesap teh hangat.


Mendengar kata menikah, wajah Noah mendadak murung lagi. Dia teringat hubungannya dengan Lisa. Dulu mereka sama-sama optimis ingin menikah setelah Lisa lulus SMA. Sayangnya, semua berubah begitu saja.


"Ah' aku lupa kalau pacarmu masih kecil," kata Alvin lagi.


Keluarga Lisa memang dekat dengan Alvin. Ada sebagian saham Alvin di investasikan ke perusahaan Tuan Sean ayahnya Lisa. Untuk urusan bisnis mereka lumayan dekat. Namun, untuk urusan pribadi, Alvin sendiri enggan ikut campur urusan mereka. Walaupun Nyonya Olive sering meminta bantuan darinya agar menjauhkan Noah dari Lisa, Alvin berlagak tidak peduli.


Melihat wajah murung sahabatnya. Alvin tersenyum menyelidik. Baru kali ini dia melihat wajah Noah sekalut itu. Tidak hanya melihat wajahnya, dia melihat penampilan Noah tidak seperti biasanya. Kebiasaan Noah setiap hari selalu memakai pakaian rapih dan formal. Tetapi tidak tidak kali ini, hanya mengenakan celana jeans robek, kaos hitam polos dan rambutnya pun terlihat acak-acakan tidak seperti biasanya yang selalu memakai Pomade.


"Penampilan dan wajahmu sangat kusut hari ini. Sepertinya kamu sedang ada masalah?"


Alvin kadang terlihat cuek dan tidak peduli dengan siapa pun, tetapi tidak dengan orang-orang yang disayanginya. Walaupun dalam diam, dia sebenarnya sangat peduli dengan mereka. Kedua orang tua, Nenek, Aluna dan Noah adalah orang-orang yang Alvin sayangi.


"Aku sudah putus dengan Lisa. Jadi jangan bahas perempuan itu lagi. Bukankah kita bertemu di sini ingin membahas masalah istrimu dan adiknya, bagaimana kalau kita membahas mereka saja? Lebih menarik dibanding membahas hidupku." Noah mulai mengalihkan pembicaraan.


Alvin tersenyum. "Sudah aku duga kalian akan putus. Hidupmu memang mengenaskan."


Tanpa perlu dijelaskan Alvin sangat tahu penyebab putusnya hubungan sahabatnya itu.


"Lebih mengenaskan lagi kamu. Tinggal bersama istri tetapi tidak tahu kalau sebenarnya dia bukan istri yang asli," balas Noah menahan tawanya.


Mendengar ucapan Noah yang menohok. Alvin merasa tersindir. Memang benar dia telah tertipu dengan Aluna. Bahkan dia pun tak kalah mengenaskan dari Noah.


"Ternyata kita sama-sama mengenaskan," ucap Alvin, "apa kamu percaya mereka bukan dari dimensi kita? Tadi di telepon kamu mengatakan kalau Helen juga berubah?"


Noah memajukan kursinya, mulai berbicara serius dengan Alvin tentang perpindahan dimensi Aluna dan Ara. Noah mengatakan kalau dia percaya dan menjelaskan satu persatu rentetan kejadian saat bertemu dengan Ara. Dari Noah lah, Alvin tahu semuanya. Dia mulai membenarkan kalau sesuatu diluar logika memang nyata ada.


"Aku percaya mereka telah bertukar jiwa," kata Noah, "dan aku sangat tertarik dengan Ara."


Alvin menghela napas panjang, lalu mengeluarkannya begitu saja. 'Aku sangat takut kejadian dulu terulang lagi.' Alvin membatin di dalam hati.


Alvin mengingat-ingat kejadian dulu saat dia belum menikah. Tepatnya, kejadian enam tahun yang lalu. Dulu, dia sempat mencintai wanita yang belum pernah ditemuinya sama sekali. Mereka sering berbalas-balas pesan melalui surat ketika Alvin berada di luar negeri. Sayangnya, wanita itu menghilang bak ditelan bumi di malam pertemuan mereka.


Di saat mereka sama-sama terdiam, handphone Noah tiba-tiba berdering sangat nyaring. Rupanya ada rekan kerjanya yang menelepon.


^^^"Noah, pacarmu mengacaukan laboratorium. Dia sedang mengamuk berniat menghancurkan alat-alat lab kalau kamu tidak datang malam ini." Rekan kerja Noah berbicara di telepon.^^^


"Baiklah, aku akan menyalahkan handphoneku memperingati Lisa agar tidak melakukan hal bodoh," kata Noah.


Saat itu juga dia menyalakan handphone pribadinya. Ternyata benar Lisa sudah menghubunginya berpuluh-puluh panggilan tak terjawab.


"Apa pacar kecilmu mengacaukan lagi?" tanya Alvin.


Noah mengangguk.


"Baiklah kita ke sana sekarang. Aku akan menunggu di kafe sampai masalah kalian selesai."