
"Uhuk ... uhuk!" Aluna kembali batuk.
Sekarang, semua tatapan mata mengarah kepada Aluna. Mendengar wanita itu batuk ketika Alvin membicarakan momongan, membuat mereka mulai bertanya-tanya kenapa sampai reaksi Luna sebegitu terkejut.
"Kenapa denganmu, Luna? Kenapa kamu sampai terbatuk ketika Alvin membicarakan anak?" tanya istri paman Hans.
Wanita yang biasa dipanggil nyonya Hans itu sengaja menyindir Clara, mencoba memanasi keluarganya. Ia tidak suka begitu mendengar hubungan Alvin kembali harmonis dengan istrinya.
Clara buru-buru memberikan air putih untuk Aluna. "Minum ini! Sepertinya menantuku sedang tidak enak badan," katanya.
Aluna lalu meraih gelas berisi air putih dari tangan Clara. "Terima kasih, Ibu mertua," sahutnya.
Istri paman Hans yang ada di sebelah Aluna melihat saksama gadis itu dari atas sampai ke bawah. Dari caranya memandang, seperti meremehkan Luna karena kebodohannya. Nyonya Hans tersenyum miring tak percaya kalau Luna sedang sakit.
"Aku kira, karena Luna belum siap memiliki keturunan dari Alvin," ucap bibi Jia menyela pembicaraan sembari memakan hidangan pembuka.
Ucapan adik iparnya begitu menohok membuat Clara merasa geram, ia menekan keras gelas yang dipegangnya.
Jaga ucapanmu, Jiali! Kalau tidak melihat ibu mertua, sudah aku sobek mulutmu itu. Batin Clara.
Tidak hanya Clara, mendengar bibi ketiga berkata seperti itu, raut wajah Alvin langsung berubah. Dia menggeser sedikit kursi yang di duduki, mengatupkan bibir sembari melihat ke arah Aluna. Alvin mencoba mencari jawaban dari sorot mata Aluna yang dari tadi mengalihkan pandangan darinya.
"Aku rasa bukan! Mungkin, Luna sedang tidak enak badan karena kelelahan, mengingat kemarin ia sudah bekerja keras seharian. Betulkah menantuku?" Clara langsung menampik ucapan saudara iparnya.
Dari dahulu, hubungan Clara dan kedua adik iparnya memang tak cukup baik. Nenek Alma sengaja membuat acara makan malam sebulan sekali agar keluarga mereka kembali harmonis lagi tidak ada perpecahan. Sebetulnya tadi, Clara ingin mendamprat adik iparnya itu. Namun, ia masih menghargai nenek Alma, ia berjanji tidak akan membuat keributan kepada wanita tua itu.
Cepat-cepat Aluna mengangguk mengiyakan. "Benar, sepertinya tenggorokanku sedang tidak baik," jawabnya.
"Jaga kondisimu baik-baik, karena sebentar lagi kamu akan melahirkan cucu untuk kami." Clara tersenyum memanasi semua adik iparnya.
Glek.
Aluna kembali menelan ludahnya. Setiap kali membicarakan masalah anak, ia selalu diam tak berkutik.
"Sebaiknya selesaikan dulu makan malamnya, setelah selesai menikmati hidangan utama, baru kita bicarakan lagi. Nenek akan memberitahukan pengumuman penting." Nenek Alma menjadi penengah agar suasana tak semakin tegang. Dari dahulu aturan keluarga mereka tidak boleh berbicara ketika sedang memakan hidangan utama.
Semua mendadak diam mulai menikmati hidangan utama, saat itu juga suara sistem kembali berbunyi mengingatkan Aluna.
...[Nona Aluna, Anda harus berinteraksi dengan Alvin agar mendapatkan tas saran malam ini. ]...
Setelah mendengarnya, Aluna menoleh ke arah Alvin di sebelahnya, ia sedang memikirkan cara agar bisa berinteraksi dengan Alvin di depan umum.
Apa yang harus aku lakukan agar mendapat tas saran? Pikir Aluna.
Sepuluh menit berlalu, para pelayan kembali berdatangan mengganti hidangan utama dengan beberapa hidangan penutup. Di saat itu pula nenek berdiri, ia tak bisa menahan kegembiraannya untuk memberitahukan hal bahagia.
"Malam ini nenek akan memberitahukan berita bahagia," ucap nenek Alma tersenyum.
Sekarang semua pandangan mata mengarah kepada nenek Alma yang berdiri di kursi paling ujung. Wanita tua itu tak berhentinya tersenyum, dari sorot matanya jelas memancarkan kebahagiaan.
Mendengar nenek Alma mengatakan itu, semua sempat tercengang beberapa detik. Termasuk Aluna, wajah gadis itu mendadak pias. Apa yang harus ia lakukan kalau nenek sudah berkata seperti itu?
Aluna menyenderkan punggungnya di kursi, membiarkan oksigen masuk ke rongga hidungnya lalu menghembuskan pelan. Setelah itu Aluna hanya bisa menggigit bibirnya sembari tersenyum tipis menanggapi semua tatapan mata yang mengarah padanya.
"Oh' selamat ya Luna, semoga progam kehamilanmu lancar tidak ada hambatan," kata nyonya Hans berpura-pura simpati.
"Kalau ibu sudah berkata seperti itu, mau tak mau aku harus mendukung kalian." Bibi Ji ikut menanggapi.
"Terima kasih sudah mendukung anak dan menantuku, aku yakin suamiku juga sangat mendukung keinginan mereka," sahut Clara.
Yuze dan Lily yang dari tadi diam, tak banyak menanggapi. Dengan adanya Alvin saja sudah sangat mempengaruhi kekuasaan mereka, apalagi akan ada keturunan Alvin selanjutnya. Rencana mereka untuk mengambil alih sebagian besar saham pasti akan tertunda lagi.
"Semoga keturunan Alvin nanti seperti ayahnya atau kalau tidak seperti kakakku, Anming. Karena yang kami tahu Luna tidak memiliki kemampuan apa pun untuk diturunkan kepada anaknya nanti." Jiali kembali memanasi keadaan.
"Jangan berkata seperti itu, walaupun Luna tak memiliki karir dan gelar, aku yakin Luna akan mendidik dengan baik calon cicitku nanti." Nenek Alma kembali menengahi.
Mendengar Bibi ketiga berkata pedas, darah Aluna kembali mendidih. Seburuk itukah Luna sampai Luna tidak berarti apa pun di mata mereka? Aluna ingin menampik. Namun, sebelum itu ia ingin bertanya kepada sistem terlebih dahulu. Saat mereka saling menyindir, Aluna meminta izin ke belakang kepada nenek.
Sekarang Aluna berada di belakang berbicara beberapa menit dengan sistem.
"Miss K," ucapnya sembari menepuk kalung sistem.
Sistem berkedip.
"Kenapa mereka meremehkan Luna? Aku ingin tahu apakah Luna memiliki karir dan gelar untuk dibanggakan?" tanya Aluna kepada sistem.
...[Luna tak memiliki karir dan gelar apa pun. Dari kecil sampai dewasa cita-cita Luna adalah Alvin. Wanita itu tak menginginkan gelar apa pun kecuali bergelar sebagai nyonya Alvin.]...
"Apa? Sependek itukah pemikiran Luna? Pantas saja mereka meremehkan Luna." Wanita itu terperanjat.
Jadi Luna tak memiliki karir apa pun? Kalau begitu aku harus mencarikan gelar untuk Luna agar mereka tak meremehkan lagi, pikir Aluna sambil berjalan kembali menuju ruang tengah.
"Maaf, tadi aku tinggal sebentar," ucap Aluna kembali mendudukkan pantatnya ke kursi.
"Ah' kebetulan Luna sudah kembali, rencananya nenek akan mengajak semua keluarga berlibur bersama ketika Anming menyelesaikan pekerjaannya di luar negri," ucap nenek Alma mengalihkan topik lain.
Alvin termasuk lelaki yang pendiam ketika keluarga mengadakan kumpul bersama. Lelaki itu lebih suka menunjukan kemampuannya dari pada banyak berbicara atau membalas cibiran keluarga lainnya. Alvin selalu patuh dan sangat menyayangi neneknya, tidak ingin membuat sedih neneknya kalau harus bertengkar dengan keluarga lainnya.
"Nenek, aku ingin mengatakan sesuatu." Ucapan Aluna membuat semua kelurga kembali melihat ke arahnya termasuk Alvin.
Nenek Alma tersenyum menanggapi, "Katakan saja, Nak. Kami siap mendengarkan," sahutnya.
"Nenek ... suamiku ... bolehkah aku mengikuti tes lisensi pilot agar aku mempunyai gelar dan karir?" Aluna menoleh ke arah Alvin meminta izin kepadanya.
Alvin yang mendengarnya tak menyangka sedikitpun istrinya akan meminta itu, "Apa? Pilot! Apa kamu yakin, Luna?"