TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
239


Nenek Alma akhirnya menyetujui keinginan Zero. Dia memperbolehkan mereka bertiga untuk kembali ke mansion.


"Kemasi barang-barang kalian. Kita pulang sekarang," kata Clara melirik ke arah Aluna.


Alvin sedikit bernapas lega, meskipun dia tahu Nenek Alma masih belum memaafkan Aluna, tetapi setidaknya Zero sudah diakui keluarganya.


"Ini semua karena cucuku, bukan karena kalian berdua," kata Clara lagi melirik sinis ke arah Aluna.


Aluna dan Alvin saling melihat satu sama lain. Ya, mereka mengerti tidak mudah bagi Nenek Alma memaafkan Luna. Tapi Aluna yakin, dengan dia tinggal di rumah Nenek Alma nanti, sedikit demi sedikit dia akan memberi pengertian kepada wanita tua itu agar luluh, seperti dulu saat dia baru datang.


"Sekarang Zero pulang ke rumah Nenek ya, vila ini terlalu sempit. Kebersihan di sini sangat buruk, nanti oma akan membuat kamar yang megah dan dipenuhi mainan yang banyak untuk Zero," kata Clara terus merayu, "benar' kan, Nek?"


Nenek Alma mengangguk, terus menciumi cicitnya itu berulang kali. "Benar, Zero boleh meminta apa pun. Bila perlu Nenek akan buatkan taman bermain di halaman samping."


Zero hanya bisa mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja dia sangat senang, keadaan berbanding terbalik dengan yang sudah dilaluinya lima tahun. Jangankan dibelikan mainan, baju pun warisan dari orang lain.


"Aku sangat senang, Nek. Terima kasih banyak, aku sayang kalian," balas Zero memeluk balik.


Pemandangan tersebut membuat senyum merekah di bibir Aluna. Meskipun anak itu bukan anak kandungnya, wajah Aluna sangat alami terlihat bahagia. Dan Alvin diam-diam memperhatikannya.


Alvin berguman, andaikan yang ada di sebelahnya adalah Luna istrinya yang asli, apakah dia akan sekuat wanita itu. Mengembalikan posisi benang yang menggumpal sedikit demi sedikit sampai terlepas, seperti masalah kehidupan rumah tangganya yang rumit. Andaikan yang di sebelahnya adalah Luna yang asli, mungkinkah dia bisa sehebat Aluna.


Kau benar-benar wanita yang hebat Aluna, dan aku sangat mencintaimu. Bahkan sekali pun aku tak akan pernah melihat rupamu yang asli di duniamu, aku tetap akan mencintaimu. Yah, walaupun nanti cinta tak harus memiliki, batin Alvin.


"Aku juga sayang Mama dan Papa," kata Zero mendekati Aluna dan memeluknya erat.


Tak terasa air mata menetes di sudut mata Aluna. Dia teringat akan dirinya. Nasib Zero yang dulu tak berbeda jauh dengan kehidupan dirinya yang asli di dunia nyata. Sangat keras, mencari uang dibarengi sekolah demi sesuap nasi untuk dia dan Ara setiap hari. Dan itu dia lakukan bertahun-tahun. Sekali pun Aluna tak pernah mengeluh. Tak ada pelukan dari orang tua, kadang kalau dia tak kuat menghadapi hidup, berlama-lama mengunci diri di kamar mandi dan menangis sepuasnya di dalam, agar tak terlihat rapuh di depan Ara.


Tidak ada yang tahu saat Aluna menitikkan air mata karena dia sengaja menutupi wajah dengan rambutnya saat memeluk Zero. Tetapi tidak dengan Alvin, lelaki itu tahu dan diam-diam dia sendiri yang menyekanya dengan lembut.


Semoga kamu bisa cepat melahirkan anak dari rahimmu sendiri Aluna, aku yakin kamu akan menjadi ibu yang hebat, panutan untuk anak-anakmu nanti, batin Alvin.


Di saat Aluna teringat Ara, dari arah gerbang terlihat mobil Hideon memasuki halaman. Hideon dan Ara turun dari dalam dan langsung berjalan cepat menghampiri Aluna.


"Kak Luna, apa dia ponakanku? Oh dia sangat tampan sekali?" Ara berteriak histeris mendekati Zero, "lihat aku bawakan hadiah untukmu, pria kecil."


Aluna mengangguk. Dia memperkenalkan Ara dengan nama Helen kepada Zero setelah anak itu mengucapkan terima kasih.


Bukannya membalas sapaan Hideon, Nenek Alma malah meminta pamit pulang. Nenek Alma sedang malas melihat muka Hideon apalagi mengajaknya berbicara. Nenek Alma masih menyimpan rasa marah kepada Hideon gara-gara menelantarkan cucunya di desa.


"Sebaiknya kita pulang sekarang, Clara," ajak Nenek Alma.


Clara menurut, dia memberitahukan kepada Aluna kalau sopir mereka akan datang menjemput Zero, setelah dia selesai mengemasi barang-barang.


Clara menyetujui, dia pun sama sangat malas bertemu dengan Hideon. “Luna, aku akan menyuruh sopir menjemput kalian. Setelah ayahmu dan Helen pulang, kamu harus cepat membawa cucuku ke rumah,” kata Clara.


Aluna hanya mengangguk pelan. Hideon tak dapat berbicara banyak atau membalas mereka. Hideon tahu akan kesalahannya dan menyadari kalau mereka sedang marah dengannya.


“Terima kasih sudah menerima anak dan cucuku dengan baik,” kata Hideon mengalah.


Akan tetapi bukannya menjawab, kedua wanita tua itu malah acuh dengan berjalan fokus ke depan melewati Hideon begitu saja.


“Helen, bukankah kamu harus bekerja sekarang,” kata Clara berhenti sejenak di depan Helen. Clara mengamati sikap Helen, tak biasanya dia pergi hanya berdua dengan Hideon.


"Ya, Nyonya setelah ini aku akan datang ke kantor. Aku ingin menyapa ponakanku dulu," jawab Ara.


"Jangan macam-macam, apalagi menyakiti cucuku. Kalau itu terjadi, aku sendiri yang akan melukaimu," bisik Clara, pikiran jelek dirinya tentang Helen tak bisa dihilangkan. Semua yang berkaitan dengan keluarga Hideon membuatnya selalu berpikiran buruk.


"Tuan Hideon, aku kira Anda tidak akan menjenguk cucu yang sudah Anda buang lima tahun yang lalu," kata Clara beralih menyindir Hideon saat Nenek Alma sudah menjauh.


"Apa maksud Anda, Nyonya?"


"Kau tanya apa maksudku? Jangan bilang lagi ini semua gara-gara Anak Anda mengalami amnesia selama lima tahun. Atau sekarang, jangan-jangan Anda pun ikut mengalami amnesia juga?" Clara terus menyindir Hideon, berharap dia sadar kalau dia bersalah dan anaknya tak pantas bersama Alvin lagi.


Hideon menarik pelan tangan Clara, dan berbicara menjauhi semuanya, dia tak mau masalah ini didengar cucunya.


"Nyonya Clara, dengarkan aku baik-baik. Yah, anak aku memang mengalami amnesia, dan kamu bilang aku pun ikut amnesia. Oke, aku tidak masalah. Lalu bagaimana dengan putramu? Apa dia juga ikut mengalami amnesia sudah menggauli putriku dengan pergi begitu saja tanpa bertanggung jawab? Di mana Alvin saat anakku melahirkan?" Mata Hideon membulat sempurna, "dan satu lagi, aku tidak pernah membuang Zero. Setiap bulan aku tidak pernah lupa sedikit pun mengirimkan uang untuknya."


Clara langsung tertegun. Memang benar anaknya pun ikut bersalah.


"Kamu boleh menyuruh Luna bercerai dengan Alvin. Tapi untuk Zero, dia adalah cucuku. Aku akan memperjuangkannya untuk mendapatkan hak asuh!" kata Hideon lagi. Dia sangat geram karena hanya anaknya lah yang selalu disalahkan.