
Memikirkan tentang Luna, membuat hatinya selalu bimbang. Alvin yang sejak tadi diam membiarkan kepalanya yang masih meneteskan darah. Berjalan pelan menuju ruang tindakan di rumah sakit. Alvin tidak membantah, sebenarnya masih ada rasa cinta dihatinya untuk Luna. Tapi entahlah, perasaan itu sepertinya sudah tertutup oleh rasa marah dan cemburu.
Kemarin Alvin mendapatkan notifikasi dari bank kalau kartu bank miliknya telah digunakan. Seperti ingin tertawa saat itu juga ketika Alvin mengetahui kalau Luna istrinya menggunakannya untuk neneknya. Luna menghubungkan kartu black card miliknya ke handphone milik neneknya.
Alvin kira, Luna akan menggunakan untuk membeli barang mewah seperti wanita yang pernah ia kencani sebelumnya, atau memberikannya kepada Devan.
Walaupun tahu kenyataan Luna tidak seburuk yang ia pikirkan, tetap saja hatinya belum bisa menerima Luna. Selalu saja video itu yang menjadi alasan kekesalannya kepada Luna.
Penghianat! Pikirnya. Luna istrinya yang ia kenal lugu, ternyata diluar perkiraannya.
Sekarang Alvin sedang sudah duduk di depan Dokter yang sedang mengobati luka di kepalanya.
"Tuan Alvin, kami minta maaf telah membuat Anda celaka," sambil terus ketakutan Dokter itu mengobati lukanya.
Meskipun bukan kesalahan pihak rumah sakit sepenuhnya, tetap saja management rumah sakit sangat takut, terlebih Alvin menaruh saham yang besar di rumah sakit itu.
"Beruntung kalian aku sedang berbaik hati kali ini, kalau tidak aku sudah mengambil lagi semua saham di rumah sakit ini."
"Terima kasih, Tuan!"
Setelah selesai di obati, Alvin bergegas kembali ke ruang inap neneknya dahulu sebelum pergi bekerja. Alvin sangat menyayangi neneknya.
***
Ketika memasuki ruang inap neneknya, di sana masih ada Helen dan ibunya, Mona. Mereka berusaha mencari perhatian neneknya, tapi sepertinya Nenek Alma tidak cukup senang dengan kehadiran keduanya.
"Alvin," sapa Nenek Alma begitu cucunya masuk ke ruangan.
Alvin mendekati neneknya, duduk di sebelahnya, "Apa nenek sudah makan?"
"Aku sudah menyuapi nenek beberapa suap, Tuan" sela Helen berusaha mencari perhatian Alvin.
Mona, ibu Helen juga berusaha mencari simpatik dari Nenek Alma dan Alvin. Seharian ini mereka sengaja berniat akan menemaninya.
"Alvin, bukankah Luna sedang bersamamu? Kemana Luna?" dari tadi Nenek Alma memang sedang mencari Luna mencari kehadiran Luna di belakang Alvin. Nenek Alma tampak kecewa ketika Luna tidak bersama cucunya.
Alvin terdiam mencari alasan, Jelas ia tidak tahu dimana Luna sekarang, "Mungkin dia sedang makan di luar, Nek."
Wajah Nenek Alma langsung cemberut kembali, padahal ia ingin sekali bertemu dengan Luna, bermain game bersama lagi.
"Ada Helen disini, Nek. Biar Helen yang menggantikan Luna," seru Mona menyodorkan anaknya.
Sayangnya Nenek Alma hanya melirik sepintas lalu kembali berbicara dengan Alvin, "Tadi malam nenek sangat senang karena Luna menemani nenek bermain game."
"Benarkah itu, Nek? Kalau nenek senang Alvin ikut senang," sahut Alvin antusias berusaha mendengarkan neneknya bercerita.
"Tadi malam, Nenek dan Luna bermain game sampai malam. Berkat strategi dari Luna, nenek bisa memenangkan gamenya. Padahal anak kecil yang nenek lihat waktu itu tidak bisa mengalahkannya, nenek sangat senang. Berkat Luna juga darah tinggi nenek kembali turun karena bermain game membuat jiwa muda nenek kembali lagi."
"Nenek benar-benar hebat," sahut Alvin.
Nenek Alma terus mengoceh, begitu bersemangat bercerita kepada Alvin tentang Luna. Alvin baru sadar ketika mengecek handphone milik neneknya kalau Luna menggunakan kartu black card miliknya, salah satunya untuk bermain game bersama neneknya.
Jadi tujuan dia meminta kartu milikku untuk bermain game dengan nenek? hah, lucu sekali kamu, Luna. batin Alvin menahan tawanya.
Alvin terus mendengarkan cerita neneknya. Dari raut muka neneknya, sepertinya neneknya sangat menyukai Luna, tapi sesuka apapun neneknya kepada istrinya, hubungan mereka akan tetap berakhir di meja hijau.
Video Luna dan Devan yang keluar masuk hotel sudah dilihat oleh orang tua mereka. Semua keluarga sudah mengetahuinya, kecuali Nenek Alma. Alvin bingung harus menjelaskan seperti apa kepada neneknya.
Saat Luna memasuki ruangan, Nenek Alma menyambut hangat istri cucunya itu.
"Maaf aku tadi meninggalkanmu, Nek" Aluna tersenyum lalu memeluk tubuh tua itu.
Atas saran sistem, Aluna memutuskan hari ini akan menemui ayah Luna dahulu. Ia berniat meminta ijin kepada Nenek Alma karena belum bisa menemaninya hari ini.
"Tidak apa Luna," ucap Nenek Alma.
Aluna melihat Mona dan Helen yang tidak suka dengan kehadirannya. Sementara Alvin mencoba terlihat biasa saja di depan neneknya. Ia mendekati Alvin, berusaha membuat cemburu Helen.
"Suamiku, apa kamu sudah makan sekarang?" Aluna meraih lengan Alvin sengaja memanasi Helen yang terus memperhatikannya.
Mendapati sikap manis Luna, Alvin begitu terperanjat. Tiba-tiba saja Aluna menyenderkan kepalanya di lengan Alvin, berusaha bersikap manja.
"Sepertinya kalian terlihat sangat romantis. Nenek jadi teringat saat nenek muda dulu bersama kakek mu dulu, Nenek tidak sabar memiliki cicit dari kalian berdua." Nenek Alma sangat bahagia melihat hubungan romantis cucunya.
Tentu saja Alvin tidak ingin neneknya mencurigai mereka yang sedang dalam masalah, Alvin tidak ingin kesehatan neneknya terganggu.
"Aku sudah makan tadi, apa kamu sudah makan istriku?" Alvin mengelus kepala Aluna menunjukan keromantisan mereka berdua di depan neneknya.
Aluna menggeleng, terus bersikap manja. Pandangan matanya ia arahkan kepada Helen, seakan menantang Helen.
"Jangan telat makan nanti kamu sakit," ucap Alvin kepada Luna.
"Jangan khawatirkan aku! Justru aku lebih mengkhawatirkan mu, suamiku." Aluna tersipu malu. Jelas ini adalah hal baru bagi seorang Aluna dalam merayu lelaki. Aluna berusaha merapihkan dasi Alvin yang miring.
Alvin tertegun, menatap mata manja dari Aluna. Sebenarnya ia gemas sekali kalau Luna bersikap seperti itu kepadanya. "Benarkah kamu sangat khawatir?"
Aluna tersenyum, tersipu malu di hadapan mereka semua, "Tentu, suamiku."
Melihat kemesraan yang ditunjukan Aluna didepannya, Helen merasa panas membara. Mengalihkan pandangannya, bersikap seolah tak melihat. Bahkan Mona, ibunya terlihat lebih mengkhawatirkan hati anaknya.
"Nenek, maaf aku belum bisa menemani nenek sekarang. Aku baru bisa menemani nenek nanti malam."
Meskipun kecewa Nenek Alma tidak marah kepada Luna karena tidak menemaninya, pikir wanita tua itu sepertinya cucunya ingin berduaan.
"Ah aku sudah paham sepertinya kalian ingin berduaan. Maafkan nenek sudah mengganggu bulan madu kalian. Pergilah Luna, Nenek sudah tidak sabar mendapatkan cicit dari Alvin," ucap Nenek Alma tersenyum meledek Aluna.
Mendengar Nenek Alma mengatakan itu, Aluna hanya tersipu malu karena neneknya sudah berpikiran sangat jauh. Sementara Alvin merasa sedikit gelisah dengan sikap manis Luna.
Kamu benar-benar membuatku ingin...
batin Alvin sulit menggambarkan keinginan di otaknya
.
.
###
Jangan lupa tinggalkan like dan komentarnya.
Terima kasih.