
"Terima kasih, Presdir Alvin. Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan Anda."
"Sama-sama, semoga kerja sama kita sampai setahun ke depan bisa berjalan dengan lancar."
Alvin menyalami beberapa investor, dia sangat puas dengan hasil rapat kali ini. Keahlian Aluna dalam menyampaikan informasi mengenai bisnis mereka ke depan, rupanya menarik perhatian beberapa klien untuk ikut berinvestasi.
"Aku rapikan berkas-berkas yang terpakai dulu sebentar. Nanti aku akan menyusulmu, Presdir Alvin," kata Aluna sambil berbisik.
Alvin mengangguk, kemudian berjalan keluar ruangan bersama para investor. Sementara Aluna sendiri sibuk merapihkan berkas yang barusan dipakai, menumpuknya lagi menjadi satu.
"Ada banyak panggilan, siapa yang menghubungiku?"
Baru saja keluar ruangan, Aluna dikagetkan oleh puluhan panggilan tak terjawab. Ada dua nomor, satu dari guru San dan satunya lagi nomor smartwatch anaknya.
"Guru San, apa yang terjadi? Maaf tadi aku sedang rapat penting dan tak bisa diganggu," kata Aluna setelah telepon Guru San tersambung.
Guru San di sekolahnya mengatakan kalau Zero barusan dijemput oleh nenek dan paman bibinya. Guru San meminta maaf karena tak bisa mencegah Zero dibawa pulang.
"Apa?! Anakku sudah pulang?"
"Maafkan saya, Nyonya."
"Baik, Guru San. Terima kasih informasinya."
Aluna langsung mematikan telepon. Mempercepat langkahnya menuju ruang pribadi Alvin. Dia yakin sekarang Alvin sudah ada di sana, berniat memberitahukanya.
"Presdir Alvin, bisakah kita bicara empat mata sekarang," kata Aluna memberikan isyarat agat Sekretaris Sam yang dari tadi bersama Alvin di ruang pribadinya agar keluar.
Lewat sepersekian detik setelah sekretaris Sam Keluar, Aluna menyodorkan ponsel kepada Alvin, memberitahukan dia kalau Zero sudah dijemput oleh ibunya.
"Jadi ibu tetap menjemput Zero?" tanya Alvin kaget.
"Apa maksudmu?"
"Maaf, Luna. Aku pikir ucapan ibuku di telepon sebelum rapat adalah main-main."
Aluna menggeleng pelan. "Bukan ibu saja yang menjemput. Guru San telepon, Lily dan Zero terus memaksa Zero agar pulang bersama mereka. Guru San juga mengatakan terpaksa memperbolehkan Zero pulang, karena dia didesak oleh kepala sekolahnya agar setuju," kata Aluna sambil berpikir keras, sebenarnya ada motif apa sampai Lily dan Yuze menjemput Zero? Tumben sekali pikirnya.
"Aku akan menelepon ibuku sekarang."
Alvin melihat raut kecemasan pada diri wanitanya. Alvin pun langsung menelepon Clara detik itu juga.
"Bu, apa Zero ada bersamamu sekarang?" tanya Alvin tanpa berbasa-basi begitu telepon terangkat.
"Zero sedang ada di mobil Lily dan Yuze sekarang. Jangan khawatir, Alvin. Aku sudah menjemputnya barusan," jawab Clara lewat telepon yang kini sedang duduk di dalam mobil lain.
"Bukankah Alvin sudah melarang ibu menjemput anakku? Kenapa ibu melanggarnya, apalagi menyuruh Lily dan Yuze. Apa ibu masih tidak kapok sudah berulang kali ditipu oleh mereka berdua?" Untuk kali pertamanya Alvin berkata cukup keras kepada ibunya. Perasannya mendadak tidak enak begitu mendengar kabar kalau Zero sedang bersama Lily dan Yuze.
"Alvin, apa salahnya? Lagian mereka berniat baik ingin membantuku," sahut Clara tidak mau disalahkan, "lagipula kenapa kamu dan istrimu malah menyembunyikan Zero di sekolah itu. Kami sampai kewalahan mencari alamatnya."
Aluna mendengar pembicaraan ibu dan anak itu. Dia menyimpulkan kalau sekarang anaknya sedang tidak bersama Clara, melainkan bersama Lily dan Yuze. Itu berarti Zero tengah dalam bahaya. Tepat dugaannya.
"Zero bersama Lily dan Yuze? Bisakah aku bicara dengan Zero sekarang, Ibu?" kata Aluna ikut berbicara di ponsel Alvin.
"Mobil Lily dan Zero ada di belakangku. Jadi jangan kha--"
Ucapan Clara berhenti begitu menengok ke belakang. Tidak ada mobil satu pun yang mengikuti mobil mereka, apalagi mobil yang dikendarai Yuze yang dari tadi di belakangnya.
"Pak Sopir, di mana mobil Yuze. Kenapa aku tak melihatnya di belakang." Ucapan Clara yang sedang bertanya kepada sopirnya terdengar lewat telepon.
"Aku tidak tahu, Nyonya. Dari lima menit yang lalu mobil Tuan Yuze tak terlihat mengikuti kita,' jawab sang sopir. Ucapannya pun terdengar lewat ponsel Alvin.
Aluna sudah mendapatkan jawabannya sekarang. Yah, anaknya kini dalam bahaya. Kemudian berbisik di telinga Alvin memberikan saran.
"Kenapa ibu membiarkan anakku pergi bersama Lily dan Yuze? Sekarang mereka saja ibu tak tahu keberadaannya. Mereka berniat menyingkirkan anakku, Bu," kata Alvin mulai gelisah.
"Karena ibu tak setuju kalau kalian mempertemukan cucuku dengan gadis desa itu!" jawab Clara di telepon, "mungkin ... mobil Yuze tertinggal jauh karena ada lampu merah. Ibu akan mengabari nanti, Vin. Jangan berpikiran buruk dulu."
Alvin membuang napasnya kasar. Sesalahnya Clara dia masih tak tega memarahi ibunya. "Kalau begitu, tolong beritahu kepada sopir agar segera mengirimkan lokasi mobilnya. Kami akan menyusulnya sekarang."
Sambungan telepon berakhir. Tak mau membuang waktu, Aluna langsung mengemasi barang-barangnya untuk segera menyusul Zero.
"Kenapa kamu tak memberitahukanku sebelum rapat tadi kalau mereka mau menjemput anakku?" Nada bicara Aluna mulai meninggi. Sudah ke sekian kalinya keluarga Alvin selalu saja ceroboh terus mempercayai kedua keledai busuk itu.
"Aluna, aku saat itu sedang sibuk. Aku tak tahu kalau ibu akan menyuruh Lily dan Yuze. Aku pikir ibu akan main-main." Alvin membalas ucapan Aluna sambil mengirimkan pesan kepada Sekretaris Sam untuk menghandle pekerjaannya hari ini.
"Aku tak habis pikir kalau keluargamu itu ternyata bodoh .... Apa tidak ingat dengan berbagai insiden beberapa minggu ini, kasus video mesum, dan kejadian di bar saat bersekongkol dengan Helen. Semua ini karena ulah jahat mereka. Tak ingatkah kalau cucunya itu hampir saja mati, sudah dipindahtangankan berulang kali kepada keluarga yang menyiksanya. Kenapa mereka masih saja melindungi dua keledai busuk itu? Harusnya mereka dipenjara sekarang!"
Aluna terus berkata sambil mengemasi barang-barangnya yang barusan dikerjakan. Tak mungin dia tinggal begitu saja dalam keadaan berantakan. Sementara Alvin, terlihat serba salah. Memang benar apa yang dikatakan Aluna barusan. Sayangnya dia tidak bisa berbuat lebih karena wewenang seutuhnya ada di tangan nenek.
"Aluna, maaf aku juga salah."
Aluna mengambil tasnya berniat pergi menyusul Zero sekarang juga. "Kamu tidak tegas! Kalau terjadi sesuatu dengan Zero nanti. Aku tak akan membiarkan Zero berada di tengah keluargamu lagi."
Setelah itu Aluna keluar ruangan.
***
Di mobil Yuze, terlihat Lily terus memarahi Zero. Berusaha meracuni pikiran Zero agar membenci Luna. Rencananya Lily akan membawa Zero keluar pulau dan sedikit demi sedikit mencuci otak anak itu agar patuh dengan mereka nanti.
Sementara Yuze, sambil menyetir dia terus menelepon pelayan yang ditugaskan mengantar Zero. Dia bertanya jalan alternatif lain yang lebih cepat karena sepertinya jalanan yang dilaluinya sekarang sedang ada perbaikan, dilihat dari jauh lalu lintas sedikit macet
"Jadi tidak ada jalan lain?" tanya Yuze di telepon.
"Apa kapalnya masih berada di pelabuhan? Tunggu sebentar lagi kami akan cepat mengantarkan Zero ke sana," kata Yuze lagi. Kapal akan berlayar satu jam lagi, jadi dia harus segera sampai mengantarkan Zero pergi.
Zero menguping pembicaraan Yuze. Dia yakin mereka sedang menculiknya sekarang. Zero juga tak pedulikan ocehan Lily yang terus meracuninya dengan cerita karangan palsu.
"Zero apa kamu paham dengan omonganku tadi?" tanya Lily dengan nada tinggi.
Zero lagi lagi tak peduli. Dia tahu mereka sedang berniat jahat. Dalam diamnya, Zero sedang memikirkan solusi agar bisa lepas dari cengkeraman mereka.
Aku harus keluar dari mobil ini. Tapi bagaimana caranya? Batin Zero sambil berpikir.