TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM

TERJEBAK DI DUNIA NOVEL SISTEM
Tamu Pertama


Jam 21.00


Setelah serangkaian persiapan sudah rampung, Aluna yang mengenakan gaun panjang tengah duduk manis di depan sebuah meja yang di pesan ekslusif untuknya. Malam ini kafe Miracle tidak menerima tamu dari kalangan mana pun kecuali tamu undangan dari Luna dan Alvin.


Jantung Aluna berdebar ketika satu persatu tamu undangan telah datang. Tamu pertama yang hadir adalah ibu mertua Luna, Clara Wiratama beserta teman sosialitanya telah memasuki pintu masuk kafe. Ya, wanita itu sengaja mengajak teman-temannya untuk mempermalukan Aluna di depan mereka.


Di ambang pintu, tampak beberapa pelayan berdiri menyambut kedatangan Nyonya Wiratama dan keempat temannya. Menyadari itu, Aluna langsung berdiri dan berjalan mendekati mereka.


"Selamat datang, Ibu" Aluna membungkukkan badannya sedikit memberi hormat kepada ibu mertuanya.


Semua tersenyum menanggapi Aluna, kecuali Clara. Wanita itu tampak angkuh berjalan tanpa membalas sapaan menantunya. Yang Clara tahu, Luna adalah wanita yang bodoh, tidak bisa diandalkan dan sangat payah.


"Apa dia menantumu?" tanya seorang teman Clara berbaju kuning.


"Aku bahkan tidak menganggapnya menantu, aku menyesal telah menyetujui pernikahan Alvin dengannya. Wanita itu tidak hanya bodoh tetapi juga seorang jala*ng," sahut Clara kepada teman-temannya.


Aluna yang berdiri tidak jauh darinya tampak merasa panas mendengarnya. Ingin sekali ia melawan wanita itu, mendampratnya di depan teman-temannya. Sayangnya Aluna masih menghargai Clara adalah ibu mertua dari Luna.


Clara dan keempat temannya sudah duduk di tempat masing-masing. Mereka tak habis-habisnya meledek Luna, bahkan menertawakannya secara langsung.


"Lalu bagaimana tindakanmu selanjutnya? Wanita macam itu tak pantas dijadikan menantu. Kalau kamu mau, kita bisa jodohkan Alvin dengan anakku setelah bercerai nanti," ucap salah satu teman Clara berbaju merah.


Clara tersenyum menanggapi. "Bahkan aku ingin cepat-cepat Alvin menceraikannya sekarang juga. Aku hanya ingin mendapatkan cucu dari wanita baik-baik," ucapnya.


Aluna yang tidak tahan lagi dengan ocehan mertuanya, merebut minuman yang akan diberikan pelayan kepada mereka. Aluna lalu berjalan menghampiri mereka yang sedang tertawa.


"Bagaimana kalau aku bisa membuktikan tindakanku tidak bersalah? Apa ibu akan tetap menyuruh kami bercerai?" Aluna menaruh beberapa gelas di meja depan mereka.


Tangan kanannya, mulai menuangkan minuman di masing-masing gelas yang kosong. Ya, walaupun panas mendengarnya. Aluna tak merasa kesal atau marah terhadap wanita itu. Sebab, mungkin sekarang Clara sedang termakan gosip murahan.


"Tentu saja aku akan pikirkan lagi, itu pun menurut aku mustahil. Karena bukti sudah ada di depan mata kalau kamu berselingkuh." Clara menatap sinis Aluna.


"Sayang sekali ya, padahal Anda sangat cantik, Nona. Bisa-bisanya berselingkuh dan membuat malu keluarga Anda. Sepertinya Alvin sedang tidak beruntung mendapatkan Anda, ha..ha.." ucap salah satu teman Clara menimpali sambil tertawa.


"Silahkan diminum Nyonya, jangan pulang dulu sebelum pertunjukan di mulai," ucap Aluna.


"Dan satu lagi, bolehkah aku bertanya kepada Anda, Nyonya?" tanya Aluna kepada teman Clara. Aluna mendekatkan wajahnya memandang saksama wajah wanita berbaju merah.


Wanita itu seketika menghentikan tawanya. "Tentu saja," jawabnya.


Clara dan teman-temannya terdiam seketika, terlebih saat Aluna begitu intens memperhatikan wajah wanita berbaju merah.


"Apa umur Anda berkisar enam puluh tahun?"


Wanita berbaju merah langsung kaget mendengarnya, ia memegang wajahnya lalu dengan cepat mengambil cermin dari tasnya.


"Sepertinya kantung mata Anda terlihat begitu jelas. Apa Anda kurang tidur? Atau terlalu banyak memikirkan urusan orang lain sehingga Anda terlihat lebih tua dari usia Anda? Cobalah sedikit berpikiran positif terhadap orang lain, agar muka Anda bisa terlihat awet muda. Apa Anda tidak melihat mukaku? Lihatlah mukaku tampak cantik, bukan? Itu karena aku selalu berpikiran positif terhadap orang lain," kata Aluna.


Aluna duduk di depan mereka, memperlihatkan wajah mulusnya, bergaya layaknya model skincare di televisi. Menunjukan kemolekan dan kekenyalan kulit wajahnya yang halus tak memiliki bekas luka satu pun.


"Bahkan wajahnya tak memiliki kerutan halus sedikit pun." Wanita berbaju kuning menimpali.


"Ah! Tetap saja secantik apa pun Luna, dia tetap seorang jala*ng!" ketus Clara meragukan.


"Bisakah Anda lebih sopan lagi dalam berucap, Nyonya!" ketus Aluna, ia benar-benar terbawa emosi kali ini.


Clara semakin mendelik, semakin tidak Terima dengan bentakan menantunya. Wanita itu terus-terusan mencibir perilaku Luna.


"Jangan membentakku, Luna. Ingat aku adalah mertuamu, apa kau tak tahu sopan santun terhadap wanita yang lebih tua!"


Aluna mendengus kesal. "Baiklah aku akan menunjukan sopan santunku asal Anda berhenti menyebutku jala*ng Nyonya!" serunya.


"Dengan bukti apa kamu bisa membuktikan kalau kamu bukan Jala*ng?"


Sekali lagi Aluna begitu bosan menerangkan kepada Clara kalau malam ini ia akan membuktikannya. Dengan cara apa? tentunya hanya Aluna yang tahu.


Ketika Aluna sedang berdebat dengan Clara, dari jauh datanglah Helen dengan senyum liciknya dan penuh percaya diri. Berjalan ke arah Luna, mendekati wanita yang sedang memegang air dingin di tangannya.


"Selamat malam Nyonya," sapa Helen sembari mencium pipi kanan dan kiri Clara.


Semua mata teman-teman Clara tertuju kepada Helen yang terlihat cantik dan elegan, rambutnya yang pendek ia biarkan tergerai. Seperti apa pun penampilan Helen, tetap saja tidak bisa menandingi kemolekan tubuh Aluna.


Helen yang baru datang meminta berbicara empat mata dengannya. Aluna lalu membawa Helen menjauh dari Ny. Clara dan teman-temannya.


"Syukurlah akhirnya kamu juga datang. Bersiaplah aku akan membuka kebusukanmu di depan umum." Aluna tersenyum miring ke arah Helen.


Helen terkekeh. "Jangan percaya diri dulu, Luna. Aku datang kemari memberikan surat ini kepadamu! Terakhir, Alvin menyuruhku menyerahkannya." Helen menyodorkan sebuah kertas kepada Aluna.


"Apa? Bukankah tadi siang Alvin sudah menarik gugatan cerainya? Kenapa surat ini ada padamu?" bentak Aluna.


Helen tersenyum licik. "Tentu saja karena malam ini Alvin akan menceraikanmu lagi. Lihat saja setelah malam ini usai, ia akan cepat menandatanganinya," ucapnya.


Aluna mendengus kesal menatap kertas putih itu dengan emosi. Ya, dia begitu marah karena Alvin melanggar janjinya. Jelas hal itu membuat marah seorang Aluna.


"Malam ini aku akan membuktikannya. Di mana pria tak berpendirian itu? Kenapa dia melanggar janjinya?" ketus Aluna.


Melihat raut wajah kecewa Luna, Helen begitu senang. Rasanya ingin sekali tertawa di depannya. Helen mulai yakin rencanakan akan berhasil, wanita itu diam-diam mencari kelengahan Aluna.


"Monster Godzila, kenapa kamu tak cepat datang?" ucap Aluna menggerutu.